Hidayatullah.com– JI (Jamaah Islamiyah) akan dipersalahkan kembali dalam kasus Poso. Apalagi, setelah salah satu korban tertembak berasal dari Lamongan yang rumahnya tak jauh dari tempat tinggal pelaku bom Bali. Selain itu, seorang lagi, yang juga tewas, bernama Madong atau Muhamadong, pernah dilatih Mustofa, nama yang dikait-kaitkan dengan JI. Tapi Arianto Sangaji, peneliti dan koordinator pada Yayasan Tanah Merdeka, sebuah LSM kerakyatan di Palu, Sulawesi Tengah, ragu akan hal itu. Peneliti konflik Poso ini malah curiga operasi intelejen di balik insiden berdarah tersebut. Inilah penuturannya kepada Radio Nederland yang disiarkan 29/10/2003.
Arianto Sangaji [AS]: Kalau memang disebut Jamaah Islamiyah seperti Muhammadong atau Madong sama Mustafa memang indikasi ke arah itu kuat sekali. Tetapi kekuatan-kekuatan bersenjata yang ada di Poso, kekuatan sipil maksudku, itu bukan hanya faksi itu. Tapi ada juga faksi yang lain. Ada juga laskar-laskar lokal. Awalnya mungkin mereka dilatih seperti Mustafa atau Al Ghozi sekalipun. Tapi kalau melihatnya bahwa mereka bagian dari Jamaah Islamiyah menurut aku agak terlalu prematur. Faksi di antara laskaran juga kencang sekali.
Radio Nederland [RN]: Cuma yang menarik adalah kenapa sekarang mendadak ada kerusuhan di Poso. Ini momentumnya dikaitkan dengan peristiwa bom Bali?
AS: Lagi-lagi menurutku ini perlu investigasi yang lebih dalam. Seperti yang terakhir kemarin ketika aku pergi ke Beteleme. Masyarakat coba melihat dan mengaitkan antara peristiwa penyerangan yang terjadi di Beteleme, bukan yang di Poso pesisir ya, itu sebagai tindakan balas dendam terhadap peristiwa yang terjadi itu pada tahun 2000. Nah itu bisa dibuktikan dengan jumlah orang di kampung ya. Orang kampung yang ikut terlibat dalam kelompok yang melakukan penyerangan itu.
RN: Dan tampaknya ini kaitannya dengan peristiwa satu tahun bom Bali itu justru tidak didengar lokal Poso sendiri ya?
AS: Di lokal Poso sama sekali tidak terdengar.
RN: Tapi ada juga fakta yang tidak bisa disangkal ya, itu pelurunya peluru Pindad?
AS: Bukan cuma peluru, senjata, yang beredar di Poso ini kan begitu banyak dan itu berada di tangan sipil. Soal penyebaran senjata itu sumber pertama adalah Filipina Selatan, tapi yang lain juga sebetulnya datang dari Jawa. Dan sayangnya ketika paska deklarasi Malino pemerintah meminta masyarakat untuk menyerahkan senjata, yang diserahkan itu kan senjata-senjata rakitan yang sudah tua yang tidak bisa dipakai. Tapi senjata organik standar seperti M16, AK47 itu tetap beredar di masyarakat.
RN: Paling mungkin juga bersinggungan lagi. Jadi artinya memang ada unsur-unsur militer yang juga ikut bermain begitu?
AS: Aku merasakannya begitu. Karena peristiwa Bateleme dan Poso pesisir itu kan dua hal yang terpisah. Yang jaraknya itu 200km, dan menurutku ini sebetulnya bagian dari suatu operasi intelijen.
Banyak fakta yang menurutku agak aneh. Misalnya aku kontak beberapa pihak laskar-laskar ya. Pada umumnya mereka bilang peristiwa yang terjadi di Poso pesisir itu sama sekali tidak terkait dengan mereka. Mereka sudah cek orang-orangnya. Ini kan selalu letupan kekerasan ini muncul kalau ada rencana penarikan pasukan. Jadi kalau pasukan ditarik eskalasi kekerasan pasti naik lagi. Nah ini sudah berpola. Kita melihatnya sudah sejak tahun 2001.
RN: Yah sekalipun ditemukan kenyataan fakta bahwa yang ditangkap itu adalah orang yang pernah dilatih Mustofa atau orang yang pernah dilatih di Jawa Timur. Mungkin juga itu tidak lepas dari operasi intelijen menggunakan mereka. Begitu kan?
AS: Ya aku sedikit percaya itu, karena memang ada indikasi seperti Jamaah Islamiyah kan sudah mulai diisukan banyak dikerjain sama intelijen ya. Sudah banyak jumlah operasi intelijen menyusup sampai ke situ. Dan menurut aku organisasi -organisasi yang radikal seperti Mujahidin ini kan juga dalam beberapa pemberitaan umum juga disebutkan ada infiltrasi.
Dan kalau kita melihat dalam pengalaman sejarah orde baru, menurut aku ini bukan hal yang baru. Tahun 1980an ketika Ali Moertopo melakukan operasi-operasi semacam ini. Ini sebetulnya suatu kesinambungan dari pengalaman-pengalaman bagaimana operasi intelijen mencoba untuk masuk dan meradikalisir kekuatan-kekuatan Islam yang dianggap radikal.
RN: Bulan ramadhan mulai berjalan dan kabar terakhir seorang lagi tewas di Poso dan juga ada kabar beredar selebaran-selebaran Jihad kembali.
AS: Sebetulnya kemarin, waktu aku di Poso, memang selebaran Jihad sudah dikeluarkan. Pada waktu kedatangan Madong, Muhamadong itu selebaran itu disebarkan. Sumbernya nggak tahu. Tapi yang jelas isinya mengajak umat Islam di kota Poso untuk kembali melakukan Jihad.
Tapi kalau aku melihat masyarakatnya sekarang sudah lebih dewasa. Dalam pengertian tidak terpancing atau terprovokasi dengan ajakan-ajakan seperti itu kendati seminggu setelah peristiwa penyerangan di Bateleme dan Poso pesisir kan ada juga kasus pembunuhan terhadap satu warga muslim dari Poso kota yang mayatnya dialirkan di air itu. Tapi menurut aku tidak sepanas dengan peristiwa yang terjadi sebelumnya.
RN: Dan tampaknya masyrakat juga tahu ya, kalau konflik yang rugi mereka sendiri warga sipil yang untung lagi-lagi tentara dan militer.
AS: Tentara, militer dan birokrat…
Demikian Arianto Sangaji, peneliti dan koordinator pada Yayasan Tanah Merdeka di Palu. (rnwl/cha)