PERTANYAAN publik mengenai kemana sebenarnya arah dukungan dai kondang Ustadz Abdul Somad (UAS) pada pemilihan presiden 2019 mendatang akhirnya terjawab sudah. Dalam video eksklusif yang beredar viral di media sosial dan ditayangkan TvOne di Jakarta, Kamis (11/04/2019), UAS bertemu calon presiden nomor urut 02, Prabowo Subianto (PS), pada sebuah tempat dan waktu yang tidak disebutkan.
Dalam pertemuan itu, Prabowo berdialog dengan UAS dalam suasana yang penuh kehangatan dan keharuan. Video dan foto-foto pertemuan kedua sosok ulama dan (calon) umara tersebut seketika menyebar luas, membahana, dan menghentak dunia maya di saat kasus dugaan kecurangan pemilu terjadi di Selangor, Malaysia, pada hari yang sama, Kamis.
UAS dengan terang-terangan menyatakan bahwa para ulama dan umat mempunyai harapan besar kepada Prabowo dalam memimpin bangsa Indonesia. Prabowo terlihat menangis di sela-sela menerima nasihat demi nasihat sang ulama “jutaan umat”. Meski mendukung Prabowo, namun UAS menyampaikan sejumlah penegasannya. Apa saja, berikut petikan “wawancara” keduanya:
Baca juga: UAS Dukung Prabowo: Umat dan Ulama Berharap Besar kepada Bapak
PS: Terima kasih Ustadz, bisa jumpa dengan saya. Saya mengikuti, ustadz sudah banyak keliling Indonesia. Nah, apa yang ustadz lihat selama keliling Indonesia, akhir-akhir ini.
UAS: Saya susah saya kadang mengawali ceramah itu. “Mari kita dengar tausiyah dari Al-Mukarram Abdul Somad”. Begitu saya naik ke atas, semua orang (mengangkat dua jari simbol Capres 2 sambil bilang): “Ustadz…”. Saya bilang; “kalian kan punya jari sepuluh. Kenapa yang diangkat cuman dua”.
(PS dan UAS tertawa kecil).
UAS: Itu saya ucapkan untuk menetralisir. Karena ini kan ada Panwaslu, Bawaslu.
PS: Iya (benar)
UAS: Saya tidak ingin Tabligh Akbar tuh menjadi politik. Udah turun, sampai protokol bilang; “Jamaah, tolong jangan acungkan jari”.
PS: Itu dimana-mana, Ustadz?
UAS: Dimana-mana pak. Bapak bisa lihat rekaman (ceramah saya). Nanti ketika saya sampaikan; “Mari kita bershalawat”. Kan untuk merubah suasana. “Shallallahu ‘ala Muhammad“, umat begini lagi (UAS menunjukkan dengan menggoyangkan tangan dan mengacungkan dua jari), Astaghfirullah….
PS: Rata-rata dimana-mana ya Ustadz?.
UAS: Rata-rata. Dari mulai ujung Aceh sampai ke Pulau Madura, sampai ke Sorong. Jadi, saya melihat ini, umat sedang berharap besar pada bapak. Itu yang saya lihat.
Ya Allah….
Ini ada satu keranjang amanah, Ijtima Ulama mengamanahkan ini Allah taala, melalui firasat Ijtihad Ulama. Tapi umat juga. Jadi ada dua dukungan, ulama dengan umat. Mereka berikan. Dalam keranjang ini, ada pisau, ada bunga, ada buah, ada pena. Maka dua pesan Allah:
(إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ (إِلَىٰ أَهْلِهَا
[“Sesungguhnya Allah memerintahkan kamu menyampaikan amanat kepada yang layak menerimanya…” (potongan QS An-Nisa’: 58]
Bapak letakkan amanah ini, yang pisau bapak beri ke anak muda, karena mereka akan pergi ke hutan berburu. Yang buah, bapak berikan kepada anak-anak, mereka supaya makan buah supaya fresh. Yang bunga bapak berikan kepada anak gadis, supaya bisa beri mereka kepada suaminya yang sudah menikah. Sedangkan pena bapak berikan kepada ulama agar mereka menulis.
Jangan bapak berikan pisau kepada anak kecil. Dia akan melukai.
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ
Letakkan amanah ini (sesuai dengan tempatnya).
Dan dua pesan Allah, yang kedua:
وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ
[“Dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil…” (sambungan QS An-Nisa’: 58)]
Begini ulama (dengan) Ijtima berkumpul dan umat menyambut, ini amanah ini sedang di pundak bapak, bapak (mesti) adil. Adil. Jangan bapak beri (ke salah satu pihak) terlalu besar, (tapi ke yang lainnya kecil). Bapak lihatlah dengan keadilan.
(Hadits Rasul:)
سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللهُ فِيْ ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ: اَلْإِمَامُ الْعَادِلُ…
“Tujuh golongan yang dinaungi Allah dalam naungan-Nya pada hari dimana tidak ada naungan kecuali naungan-Nya, yang pertama, Imam (pemimpin) yang adil… (Hadits shahih, diriwayatkan salah satunya oleh Bukhari (No. 660, 1423, 6479, 6806))
Mudah-mudahan bapak termasuk (ke dalam golongan pemimpin yang adil).
Itu yang saya lihat.
Baca juga: Ustadz Abdul Somad Dukung Prabowo Viral
PS: Aamiin. Jadi saran Ustadz, apa yang harus saya lakukan?
UAS: Buah durian, kalau hanya sekadar berputik, orang cuek. Tapi kalau dia sudah berbuah harum ranum, ada orang akan melempar, monyet akan naik. Sekarang buahnya sedang harum. Maka bapak (harus) tabah, kuat, serahkan pada Allah. “Laa Hawla wa Laa Quwwata Illa Billah”.
Ini jihad yang paling besar. Jihad menjadi pemimpin. Sampai-sampai kata Imam Ahmad bin Hanbal:
“Seandainya doamu makbul dan doa itu cuma satu, maka mintalah pemimpin yang adil” (tertulis dalam Al-Furu’, 2:120).
PS: Itu doa dari?
UAS: Imam Ahmad bin Hanbal atau Imam Hambali. Seandainya doamu makbul dan doa itu cuma satu, maka mintakanlah berikan kami Republik Indonesia pemimpin yang adil.
Kalau bapak adil, seluruh negeri ini akan mendapatkan keadilan.
PS: Mungkin ada lagi pesan-pesan atau harapan-harapan dalam perjuangan kita?
UAS: Saya kan dulu selalu mengatakan (kalau) saya ikut Ijtima Ulama. Lalu setelah ulama berijtima, berkumpul, jatuhan pilihan pada bapak. Kemudian (saya) keliling-keliling kemana-mana, (saya melihat) umat (meneriakkan); “Prabowo! Prabowo! PS! PS!”.
Tapi saya masih…..(UAS diam tak melanjutkan kalimatnya)
UAS: Karena mata kita kan kadang tertipu. Kita pergi ke tepi sungai, kita lihat ada tongkat bengkok. Tapi ketika kita tarik, ternyata lurus. Mata menipu. Saya khawatir jangan-jangan saya tertipu dengan Pak Prabowo.
Oleh sebab itu, saya cari ulama yang tidak masyhur, tidak populer. (Yang selama) ini ulama yang masyhur. Yang di Youtube yang di TV.
Tapi ulama ini (yang saya cari) yang tidak dikenal orang. Tapi mata batin (bashirah)nya bersih. Allah bukakan hijab kepada dia. Ini ulama-ulama yang tidak perlu materi. Mungkin bapak tidak kenal mereka.
Dan saya tidak pernah tanya kepada mereka; “kira-kira saya pilih yang mana”. Ngga. Saya biarkan dia baca hati saya. Ngerti enggak dia (dengan hati saya).
Dan ketika datang, saya dekatkan telinga, apa kata dia; “Saya mimpi 5 kali ketemu dia”. Saya tanya; “siapa?”. (Dia jawab,) “Prabowo”.
Kalau mimpi satu kali, boleh jadi dari Syetan. Lima kali dia mimpi dia lihat bapak. Signal dari Allah.
Saya jalan lagi, saya cari lagi ke tempat lain. Ketika salaman, dekat telinga saya, dia (ber)bisik; “Prabowo”. Bapak dia sebut.
(Ini) ulama-ulama yang tidak dikenal karena hebatnya di tengah masyarakat. Bukan viral seperti saya.
Saya datang ke satu tempat. Ini unik, aneh. Dia tidak mau makan nasi kalau berasnya dibeli di pasar. Berasnya ditanam sendiri. Karena kalau beli di pasar, (khawatir ada unsur) riba. Dia hanya mau minum kalau sumurnya digali sendiri. Dan tidak mau menerima tamu perempuan. Dan pernah menteri datang, diusir.
Menteri datang (dia usir): “pulang!”
Saya khawatir, khawatir saya, begitu datang ke sana, ternyata (dia bilang) “Somad niatmu tidak baik, pulang!” Malu ustadz diusir. Tapi saya tetap nekat datang.
Biasanya tamu ke sana kalau ketemu paling dua menit tiga menit, “udah, sana”, minta doa, udah (disuruh pergi).
Saya datang. Setengah jam, Pak. 30 menit, dia bicara empat mata dengan saya. Di akhir pertemuan pas mau pulang dia bilang: “Prabowo”.
PS: Dia bilang begitu?
UAS: Dia bilang begitu.
Jadi, saya berpikir lama. Ini kalau saya diamkan (isyarah para ulama) sampai Pilpres (usai). Kenapa mereka cerita ke saya? Kenapa mereka cerita ke saya? Tiap malam saya berpikir, kenapa mereka cerita ke saya. Berarti saya harus sampaikan.
Kalau tidak, ini akan menjadi seumur hidup saya mati dalam penyesalan. Abdul Somad kenapa tidak kau ceritakan?
Setelah ketemu ini, selesai, kuserahkan semuanya kepada Allah Subhanahu Wata’ala. Apa yang terjadi pada saya, kuserahkan semuanya kepada Engkau ya Allah, yang penting sudah kusampaikan.
Plong. Malam ini saya bisa tidur lelap.
Hanya saja, tentu fitnah tentu banyak.
(Prabowo menyeka air matanya. Matanya sembab)
UAS: Kalau bapak memang duduk nanti menjadi Presiden. Terkait dengan saya pribadi, dua saja. Pertama, jangan bapak undang saya ke Istana. Biarkan saya berdakwah masuk ke dalam hutan. Karena memang saya dari awal dari sana. Saya orang kampung. Saya masuk hutan ke hutan.
Yang kedua, jangan bapak beri saya jabatan. Apapun. Saya di antara 40 cucu mbah kakek saya, dia bilang; “cucuku yang ini, satu ini hanya sekolah agama untuk mendidik umat”. Sudah. Selesai. Makanya tak pernah sekolah umum.
Jadi biarkanlah saya terbang sejauh mata memandang, saya ceramah.
Setelah bapak jadi nanti, biarlah ulama-ulama yang dekat-dekat di Jakarta ini yang menjadi (pembantu bapak). Bapak dengarkan cakap ulama, karena ulama berijtima mendukung bapak. Dan ulama yang ‘kasyaf’ yang tembus mata batinnya yang melihat dalam alam ghaib pun mendukung (bapak).
Maka, ini anugerah besar. Tapi juga ujian besar. Saya berharap, Allah menolong bapak dalam setiap gerak dan langkah.
PS: Terima kasih..
UAS: Saya tak bisa, hadits mengatakan:
“Tahadu tahabu”. (HR. Imam Bukhari)
Kalau ketemu, kasih orang hadiah, supaya dia ingat dan berkasih sayang.
Saya tak kaya, tak ada duit saya untuk ngasih apa-apa ke bapak. Saya kasih dua saja. Pertama, minyak wangi Oud. Oud itu kayu gaharu. Simbolnya, supaya bapak menebarkan keharuman di negeri ini.
(Prabowo kembali menyeka matanya yang sembab, sementara UAS membuka bungkusan hadiahnya serta penutup parfum lalu menyapukan parfum tersebut ke tangan Prabowo, lantas menutup kembali tutup botol parfum)
Yang kedua, tasbih. Oud untuk orang lain bapak harum semerbak. Tasbih, tidak bisa hati bapak kosong. Bapak harus banyak berdzikir. Ini tasbih kesayangan saya, (dari) batu natural stone. Namanya Syah Ma’sud dari Persia. Paling saya sayang. Saya beli di Madinah.
Bapak tak perlu pegang ini di depan orang banyak. Nanti disangka orang pencitraan. Bapak cukup (shalat) tahajjud malam, bapak berdzikir, afdhalu dzikir, seafdhal-afdhal dzikir (dzikir terbaik) “Laa Ilaaha Ilallah (Tiada Tuhan selain Allah)”.
“Laa Ilaaha Ilallah... Laa Ilaaha Ilallah… Laa Ilaaha Ilallah… Laa Ilaaha Ilallah… Laa Ilaaha Ilallah… Laa Ilaaha Ilallah… Laa Ilaaha Ilallah… Laa Ilaaha Ilallah…”
Mulut berdzikir, hati di sebelah kiri (telapak tangan kanan UAS menekan lama dada kiri PS sambil berdzikir). “Laa Ilaaha Ilallah… Laa Ilaaha Ilallah… Laa Ilaaha Ilallah… Laa Ilaaha Ilallah… Laa Ilaaha Ilallah… Laa Ilaaha Ilallah… Laa Ilaaha Ilallah…”
Dengan “Laa Ilaaha Ilallah”, kita hidup. Dengan “Laa Ilaaha Ilallah”, kita mati. Dengan “Laa Ilaaha Ilallah” juga kita akan berjumpa bersama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.
Ini yang bisa saya sampaikan. Apa yang terjadi setelah ini, kita serahkan sama Allah Subhanahu Wata’ala. (UAS pun menyerahkan hadiahnya kepada PS)
PS: Terima kasih. Terima kasih. Terima kasih, Pak Ustadz (UAS dan PS saling bersalaman)
UAS: Sukses selalu, Pak!
PS: Terima kasih!
Baca: UAS: Prabowo Presiden, Jangan Undang Saya ke Istana, Jangan Beri Jabatan Apapun
UAS: Sama-sama kita berdoa kepada Allah. (Diawali dengan Taawudz, Basmalah, pujian kepada Allah, serta shalawat dan doa berlafadz Arab)
Ya Allah, tanamkan taufik dan hidayahMu ke dalam hati kami, sehingga kami bisa berjuang menolong agamamu, dengan amal yang Kau cintai dan Kau ridhai.
Jadikan Negara Kesatuan Republik Indonesia negeri yang aman, damai, tenteram, menjunjung kebinnekaan, di bawah Panji Pancasila Negara Kesatuan Republik Indonesia.
PS: Aamiin! Aamiin!
UAS: Berikan kami pemimpin yang adil dan amanah. Jangan Kau hukum kami karena dosa-dosa kami. (Jangan) Kau angkat pemimpin pengkhianat yang tak sayang kepada kami dan tak takut padamu ya Allah.
Jadikan negeri ini aman damai, (negeri) Baldatun Thayyibatun Wa Rabbun Ghafur. Washallallahu ‘ala sayyidina maulana Muhammad, wa ‘ala alihi wasahbihi wasallam, walhamdulillah.
Taqabalallahu minkum minna wa minkum, Taqabal yaa Kariim.*