Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Cermin

Pertolongan Allah Tak Pernah Telat

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 28 Agustus 2010 14:30 2:30 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 28 Agustus 2010 14:30
Bagikan
Bagikan

DAKWAH ibarat jalan. Tidak selamanya lurus dan mulus. Terkadang, terjal menanjak dan penuh onak. Seorang Nabi SAW- kekasih Allah SWT- kakinya pernah berdarah dilempar batu ketika berdakwah di Thaif. Tapi, Nabi juga pernah dapat “kalungan bunga” oleh penduduk Yastrib. Demikianlah suka-duka dalam berdakwah.

Setidaknya, itulah yang pernah saya alami beberapa tahun silam. Ceritanya, usai nikah, saya diamanahi membuka lahan dakwah dari pesantren tempat saya dibesarkan. Tugas baru saya adalah Kota Madiun.

Pertama kali melangkahkan kaki bersama istri, saya tidak membawa bekal sama sekali. Hanya ongkos perjalanan. Itu saja. Bahkan sampai di Madiun, cuma tersisa uang Rp. 3 ribu dan langsung habis untuk beli nasi pecel untuk kami berdua.

Esok harinya, karena tidak ada uang lagi, saya memberanikan diri meminjam uang ke istri. Kebetulan, istri waktu itu punya Rp. 150 ribu dari mertua. Uang tersebut kami gunakan untuk bertahan hidup beberapa hari. Dan, di sela-sela itu, saya memulai dakwah dan bersilaturahim ke sejumlah warga.

Belum lama tinggal, bekal pun belum ada, rumah sementara yang saya tempati akan dijadikan poliklinik. Saya dan istri akhirnya harus pindah dalam waktu dekat. Kontan, saya pun bingung bukan kepalang.

Baca Juga

Karāmah yang Tidak Pernah Diminta
Kisah ODGJ Berbagi Makanan
Saat Suami Jadi ‘Pusat’ Perhatian karena Urus Bayi Sendirian
Kehilangan Uang yang Bikin Ketagihan…
Pondok Gontor Putri, Al Hamra, dan Hagia Sophia

”Wah, tinggal di mana nanti,” lirihku dalam hati. Kendati begitu, saya harus yakin ada rumah yang bisa saya tempati.

Ketika itu, keyakinanku makin kuat. Keyakinan ini berdasar pada salah satu surat dalam al-Quran yang berbunyi, “Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa.” [Al-Haj:40].

Saat itu saya haqqul yakin, siapa yang menolong agama Allah, pasti akan ditolong-Nya. Saya pun tak putus asa berdoa sambil terus berusaha, meski deadline tinggal di rumah tersebut tinggal beberapa hari lagi.

Alhamdulillah, istri saya tidak ikut bingung meski dia tahu kekalutan yang ada di benakku. Dia justru menyakinkanku. ”Abi, insya Allah, pertolongan Allah tidak telat. Percayalah,” ujarnya pelan. Saya pun jadi berfikir lebih jernih.

Suatu hari, saya bersilaturahim ke salah satu direktur sebuah perusahaan barang bangunan. Sebut saja Abdullah (Hamba Allah). Dia direktur baru di perusahaan itu. Dia pun tahu kondisi saya. Ternyata, dia akan pindah ke Jawa Barat (Jabar) untuk menjadi direktur baru di sana. Di Madiun, dia tinggal di perumahan paling elit dengan perabotan rumah yang baru dan lengkap. Rumah tersebut, dia kontrak untuk jangka tiga tahun. Padahal, dia bersama istri dan kedua anaknya baru menempati selama satu tahun.

”Saya mau pindah ke Jabar, bapak tinggal di sini saja,” begitu katanya secara tiba-tiba.

Subhanallah, saya terbengong seolah tak percaya. ”Rumah ini masih dua tahun lagi masa kontraknya. Jadi bisa diteruskan. Lebih baik bapak tinggal dulu di sini, ya kan?” katanya meyakinkan. Entah, karena kaget atau apa, saya masih diam tanpa kata.

”Tinggal di rumah mewah seperti ini,” batinku seolah tak percaya. Betapa cepat Allah membantu kesulitan saya berdua?

Sebenarnya berat juga rasanya. Bukan apa-apa, selama ini, saya tinggal di rumah kecil seadanya, kini harus tinggal di rumah termewah se-Madiun. Tapi, mau bagaimana lagi. Mungkin sudah takdir Allah. Sebab, sampai saat itu, saya belum dapat rumah yang bisa ditempati. Bismillah, akhirnya, tawarannya saya terima.

Ia akhirnya memberikan kunci rumah kepada saya. Tak hanya itu, ternyata seluruh isi rumah yang baru dia beli, diberikan kepada saya. Dia hanya membawa TV dan kasur kecil. Padahal sisanya masih banyak dan puluhan juta jika dirupiahkan. Ada perlengkapan sofa, almari terbuat dari kayu jati, ranjang, meja belajar dan berbagai perabotan dapur yang mewah dan cukup mahal.

Tak hanya itu, dia juga memberikan bunga anggrek yang mahal-mahal. Untuk almari dari kayu jati, harganya kira-kira Rp 5 juta. Itu sekitar tahun 1997. Jadi, sangat besar nilainya. Penjual almari saja ketika tahu dia akan pindah, buru-buru hendak membelinya kembali. Namun sang pemilik, justru tak suka menjualnya.

Dia memang bijak. Tak ingin hanya memberi begitu saja. Setidaknya, ada jerih payah sebagai pengorbanan. Meski, hemat saya, jumlah sebesar itu, bagi dia tidak terlalu berarti. Akhirnya, dia meminta saya membeli semua perabotan rumah itu dengan harga sangat murah, Rp. 2 juta saja. Itupun bisa dicicil dalam tempo setahun.

Setelah kejadian itu, saya jadi sadar, bahwa Allah memang tidak pernah tidur. Allah tahu keperluan yang dimiliki kekasih-Nya, para dai dalam mendakwahkan agama-Nya.

Memberatkan

Akhirnya, saya bersama istri, yang kala itu masih berbulan-madu akhirnya bisa tinggal di rumah mewah. Hanya saja, tinggal di rumah seperti ini juga tidak lantas membuatku tenang.

Tinggal di kompleks seperti ini, justru sering memberatkanku. Saya harus membayar berbagai tagihan. Mulai dari kebersihan, keamanan, arisan, sumbangan, iuran dan tetek bengek lainnya. Tak seperti di kampung kecil. Tapi, ya itulah. Setidaknya saya bisa merasakan bagaimana dipandang menjadi orang kaya. Saya yakin, pengalaman ini tak akan terjadi jika bukan karena ada di barisan ”penolong agama Allah”.

Pertolongan demi pertolongan semacam itu tak hanya sekali. Bahkan kerap terjadi. Hampir jika sedang butuh, Allah langsung memberikan bantuan-Nya.

Sebagai dai, saya sudah ditugaskan ke berbagai daerah. Pernah di Gresik, pernah di Malang, Kota Batu, Jawa Timur, bahkan ke Aceh. Nah, karena nomaden dan harus tinggal lama, keluarga sering saya tinggal sendiri di kampung, di Kota Jember, Jawa Timur, bersama mertua.

Untuk membawa istri jelas tidak mungkin. Pasalnya, dakwah dalam keadaan minus, akan menyulitkan keluarga. Terlebih, waktu itu istri harus mengurusi nenek yang lagi kena stroke. Tak pelak, dari sekitar tahun 1997 hingga sekarang, saya selalu tinggal jauh dengan keluarga. Apalagi waktu jadi relawan tsunami di Aceh. Selama tiga tahun, hanya bisa pulang beberapa kali saja. Kontan, seluruh tanggung jawab di rumah di-handle istri. Alhamdulillah, berkat pertolongan Allah juga, istri selalu bisa melakukan itu dengan baik.

Jika tak pulang, saya sering mengirim uang kepada istri. Kadang banyak, kadang secukupnya yang saya miliki. Bahkan kadang amat sedikit. Bahagianya rasanya mendapat istri sepintar dia. Rupanya, tanpa sepengatahuanku, dia membuka warung kecil-kecilan di rumah, dari hasil kirimanku.

Tak hanya itu, beserta ibu-ibu warga setempat, ia membuka sekolah TK. Atas kegigihannya, Allah terus memberikan kemudahan.

Saya baru tahu, ketika suatu hari istri bercerita, jika aku tak berada di rumah, dan ketika anak-anak menginginkan sesuatu, seperti tas sekolah atau apapun, tiba-tiba ada orang yang memberinya. Begitu juga ketika modal warung habis karena sering diutangi tetangga, tak disangka, ada orang yang membayar dengan jumlah besar. Kini, warung dan TK rintisan istriku tumbuh besar. Ada sekitar 50 murid. Prestasi murid-murid juga membanggakan. Tak pelak, akhirnya TK Islam tersebut jadi rebutan banyak murid.

Kendati begitu, saya masih harus tinggal jauh dari keluarga. Saya hanya pulang dua pekan sekali. Terkadang hanya sehari atau dua hari saja. Tapi, saya telah mempersiapkan segalanya. Suatu saat, jika telah waktunya, saya akan kembali bersama keluarga. Jika Allah mentakdirkan, saya ingin membuka pondok tahfidzul qur’an. Meski sampai hari ini aku tak memiliki modal apa-apa untuk ini, aku sangat yakin dan haqqul yakin janji Allah. Siapa yang ingin menolong agama Allah, Allah sendiri yang akan membantunya. Insya Allah. [ans/seperti diceritakan A Yani pada hidayatullah.com]

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Argentina Tuding AS dan Zionis Monopoli Media
Tulisan selanjutnya Ramadhan Momentum Pererat Ukhuwah

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Putin Tawarkan Pembebasan Utang Bagi yang Mau Gabung Tentara

Berita
31 Mei 2026 05:45
Warga Yunani Didakwa Membantu Iran untuk Menarget Jurnalis di Inggris
Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
Amerika Jatuhkan Sanksi Atas Presiden Kuba, Anggota Keluarga Castro
Kementerian Kesehatan Gaza: 33 Orang Syahid Ditembak Israel saat Libur Idul Adha

Terbaru

  • 123 Santri Ar-Rohmah Putri Diterima PTN Jalur SNBP dan SNBT, Terbanyak di Malang
  • Amerika Jatuhkan Sanksi Atas Presiden Kuba, Anggota Keluarga Castro
  • Usai Serangan Drone Terminal Pelabuhan Mina al-Fahl Oman Beroperasi Kembali
  • Survei Terbaru Ungkap Mayoritas Masyarakat Dunia Tak Menyukai Israel
  • Polisi ‘Israel’ Rekrut Aktivis Zionis untuk Perkuat Kehadiran Yahudi Masjidil Aqsha
  • ‘Israel’ Beri Keringanan Pajak bagi Permukiman Ilegal Yahudi di Tepi Barat
  • Genosida ‘Israel’ di Gaza: Jumlah Warga Palestina Hilang Tembus 9.500 Orang
  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam

Mungkin Anda Juga Suka

Cermin

“Nak, Ustadzah Boleh Peluk?”

2 Juli 2022 09:40
Cermin

Cerita Almarhum Pendiri Hidayatullah Kepingin Berjumpa Ramadhan Tahun Ini…

17 Februari 2022 07:59
Cermin

Ketika Nikmat Shalat Berjamaah Itu Terhalangi, Begini Pengakuan Sang Dai…

3 Januari 2022 05:00
Cermin

Bantuan Allah itu Datang Tengah Malam Persis Sesuai yang Dibutuhkan

27 Desember 2021 15:45
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?