Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Cermin

Meyakini Islam Saat Dibayar untuk Mengusiknya

Rofi' Munawwar
Terakhir diupdate: 22 Mei 2020 16:40 4:40 pm
Rofi' Munawwar
Dipublikasikan 22 Mei 2020 16:40
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com | CERITA ini berdasarkan penuturan dari Shariffa Carlo, seorang perempuan Amerika yang memutuskan untuk menjadi Muallaf:

Cerita tentang bagaimana aku memutuskan untuk memeluk Islam adalah cerita tentang rencana-rencana. Aku membuat rencana, grup di mana aku bersama membuat rencana, di atas itu semua, Allah membuat rencana. Dan Allah adalah sebaik-baik perencana. Ketika aku remaja, sebuah grup yang mengkhususkan diri pada agenda propaganda menaruh perhatian padaku. Mereka mungkin masihlah sebuah asosiasi longgar yang bekerja dalam posisi pemerintahan dengan sebuah agenda yang spesial: “Menghancurkan Islam”.  Bukan karena grup ini adalah grup pemerintah yang membuatku khawatir, mereka pada dasarnya, memanfaatkan posisi di pemerintahan Amerika untuk memuluskan propaganda mereka.

Salah satu dari anggota grup itu mendekatiku, karena ia melihatku adalah seorang gadis yang pandai berbicara, dan amat bersemangat menyuarakan dan membela hak-hak perempuan. Dia mengatakan padaku, jika aku mau mengambil kuliah di bidang studi hubungan internasional dengan fokus pada Timur Tengah, dia akan menjamin pekerjaan untukku di kedutaan Amerika di Mesir. Dia menginginkan agar aku pergi ke sana dan menggunakan posisiku untuk berbicara dengan para wanita Muslim, dan menyembarkan bibit gerakan menuntut hak-hak wanita. Waktu itu, aku berpikir bahwa ini adalah ide yang bagus. Aku telah melihat bagaimana wanita Muslim di TV, mereka adalah golongan yang lemah dan tertekan, dan aku ingin menuntun mereka pada cahaya kebebasan abad 20.

Dengan niat ini, aku pergi ke universitas dan memulai pembelajaranku. Aku mempelajari Al-Qur’an, hadits, dan sejarah Islam. Aku juga belajar bagaimana cara untuk menggunakan pengetahuan ini. Aku belajar bagaimana cara memutar kata-kata dan membuat mereka mengatakan apa yang aku ingin agar mereka katakan. Hal ini adalah perangkat yang berharga. Bagaimanapun, ketika aku mulai mempelajari Islam, aku mulai tertarik dengan pesan-pesan yang dibawanya. Islam amat masuk akal. Dan hal itu membuatku takut. Oleh karena itu, untuk menangkal pengaruh ini, aku memutuskan untuk mengambil kelas Kristiani. Aku mengambil kelas yang diajar oleh seorang profesor yang memiliki reputasi bagus, dan mempunyai gelar master di bidang teologi dari Universitas Harvard.

Aku berpikir bahwa aku berada di tangan yang tepat, dan memang, tapi bukan dengan alasan yang kuinginkan pada mulanya. Ternyata sang professor adalah seorang Kristen Unitarian. Dia tidak percaya dengan trinitas dan ketuhanan Yesus. Ia lebih percaya bahwa Yesus adalah seorang Nabi. Dia membuktikan anggapanya ini dengan menunjukkan bukti sumber Injil berbahasa Yunani, Ibrani, Aramaik, dan menunjukkan bahwa sumber-sumber ini telah diubah. Dia melakukan ini dengan menunjukkan peristiwa sejarah yang membentuk, dan mengikuti perubahan ini. Waktu ketika aku menyelesaikan kelas ini, adalah waktu di mana agamaku telah dihancurkan. Tetapi, aku belum siap untuk menerima Islam.

Baca Juga

Karāmah yang Tidak Pernah Diminta
Kisah ODGJ Berbagi Makanan
Saat Suami Jadi ‘Pusat’ Perhatian karena Urus Bayi Sendirian
Kehilangan Uang yang Bikin Ketagihan…
Pondok Gontor Putri, Al Hamra, dan Hagia Sophia

Dengan waktu berlalu, aku melanjutkan studiku dan fokus pada karirku di masa depan. Hal ini mengambil waktu tiga tahun. Pada masa ini, aku akan mempertanyakan Muslim terhadap kepercayaan mereka. Seorang yang kutanyai adalah seorang saudara Muslim dengan MSA. Alhamdulillah, dia melihat ketertarikanku pada agama ini, dan mengambil usaha untuk mengajarkanku perihal Islam. Semoga Allah melipatgandakan pahalanya. Dia akan memberikanku dakwah di setiap kesempatan yang ia dapatkan. Suatu hari, laki-laki ini menghubungiku dan mengabarkan bahwa ada sebuah kelompok Muslim yang berkunjung ke kota. Dia ingin agar aku mengunjungi mereka, dan aku setuju.

Aku pergi menemui mereka setelah shalat Isya’. Aku dibimbing ke sebuah ruangan yang berisi sekitar dua puluh orang. Mereka memberiku ruang untuk duduk, dan aku ditempatkan berhadapan dengan seorang Syeikh keturunan Pakistan. Syeikh ini memiliki pengetahuan yang luas soal Kristologi. Kami berdiskusi dan berargumen tentang topik yang beragam dalam bible dan Al-Qur’an hingga pagi hari. Pada titik ini, setelah mendengar semua hal dari Syeikh yang bijak ini, yang sebenarnya telah kuketahui dengan baik dari kelas Kristiani yang pernah kuambil, sang Syeikh melakukan sesuatu yang orang lain tidak pernah lakukan. Dia mengundangku untuk menjadi seorang Muslim. Selama tiga tahun aku telah mencari dan melakukan riset, taka ada seorangpun yang mengundangku untuk masuk Islam.

Aku telah diajarkan, didebat, bahkan dihina, tapi tidak pernah diundang. Semoga Allah memberi kita semua petunjuk. Maka ketika ia mengundangku, itu menyentuhku. Aku menyadari bahwa inilah saatnya. Aku telah mengetahui kebenaran, dan aku harus membuat keputusan. Allah membuka hatiku, dan aku mengatakan: “Ya, aku ingin menjadi Muslim”. Dengan hal itu, sang Syeikh menuntunku mengucapkan syahadat dalam bahasa Inggris dan bahasa Arab. Aku bersumpah demi Allah, ketika aku mengucapkan syahadat, aku merasakan sensasi teraneh yang pernah kurasakan. Aku merasa sebuah beban psikis yang amat besar telah diangkat dari dadaku. Dan aku dengan kalap menghirup napas, seakan itu adalah saat pertama kalinya aku bernapas dalam hidupku.

Allah telah memberiku kehidupan yang baru, yang terang, dan sebuah kesempatan untuk meraih surga-Nya. Dan aku berdoa agar dapat menghabiskan hidup dan mati sebagai seorang Muslim. Aamiin.* Fida’ Ahmad S

 

Sumber: Muslim Convert Stories

Redaktur: Rofi' Munawwar
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:baratcahayaGadis AmerikahidayahislamMuallaf
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Seratusan Bayi Sehat Dilahirkan dari Ibu Positif Covid-19 di Satu Rumah Sakit India
Tulisan selanjutnya Keluarga Jamal Khashoggi Maafkan Pembunuh Ayah Mereka

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Malaysia Resmi Batasi Media Sosial Anak, Siapkan Denda Rp45 Miliar bagi Pelanggar

Berita
2 Juni 2026 18:00
Influencer Singapura Didenda S$3.500 karena Mengiklankan Vape di Telegram
Kerbau Donald Trump Batal Disembelih karena Alasan Keamanan
Irlandia Bakal Larang Impor dari Permukiman ‘Israel’ Mulai Pertengahan Juli
Singapura Terbitkan Panduan untuk Bantu Orang Tua Kurangi Screen Time Anak

Terbaru

  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
  • Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
  • ‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza
  • Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah
  • Perkuat Kompetensi Amil Zakat dan Nazir Wakaf, Kemenag Gelar Sertifikasi Profesi

Mungkin Anda Juga Suka

Cermin

“Nak, Ustadzah Boleh Peluk?”

2 Juli 2022 09:40
Cermin

Cerita Almarhum Pendiri Hidayatullah Kepingin Berjumpa Ramadhan Tahun Ini…

17 Februari 2022 07:59
Cermin

Ketika Nikmat Shalat Berjamaah Itu Terhalangi, Begini Pengakuan Sang Dai…

3 Januari 2022 05:00
Cermin

Bantuan Allah itu Datang Tengah Malam Persis Sesuai yang Dibutuhkan

27 Desember 2021 15:45
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?