Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Cermin

Gelisah dan Memberontak, Lantas Menemukan Jalan dalam Islam (1)

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 6 Januari 2015 10:53 10:53 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 6 Januari 2015 10:53
Bagikan
Abdullah Al-Kanadi.
Bagikan

NAMA saya Abdullah Al-Kanadi. Saya lahir di Vancouver, Kanada. Keluarga saya pemeluk Katolik Roma, demikian pula saya sampai berusia 12 tahun. Saya telah menjadi Muslim selama kurang lebih empat belas tahun.

Saat masa kanak-kanak, saya sekolah di satu sekolah Katolik. Saya diajarkan tentang iman Katolik, bersama dengan mata pelajaran lain. Pelajaran agama paling saya sukai, dan saya unggul secara akademis dalam ajaran Gereja.

Saya pun diminta menjadi ‘pelayan’ sebagai ‘putra altar’ oleh orang tua saya dari usia yang sangat muda. Keinginan orang tua saya itu juga berdasarkan keinginan kakek saya. Tapi semakin saya mempelajari agama saya, saya semakin mempertanyakan! Saya pernah bertanya pada ibu saat misa: “Apakah agama kita yang benar?” Jawaban ibu saya masih terngiang di telinga saya sampai hari ini: “Craig, mereka semua sama, mereka semua baik!” Namun bagi saya jawaban ini tidak benar. Apa gunanya saya belajar agama saya jika semua agama sama-sama baik?

Pada saat saya berusia dua belas tahun, nenek dari pihak ibu didiagnosa menderita kanker usus dan meninggal beberapa bulan kemudian, setelah perjuangan yang menyakitkan dengan penyakitnya. Saya tidak pernah menyadari seberapa dalam kematiannya mempengaruhi saya di kemudian hari.

Pada usia dua belas tahun, saya memutuskan menjadi seorang ateis untuk menghukum Tuhan (mungkin Anda dapat memahami hal seperti itu!). Saat duduk di SMA saya memiliki kebiasaan memaksa teman-teman mengajari saya pelajaran-pelajaran yang saya tidak banyak mempelajarinya di kelas. Lantas saya pun jadi memiliki kebiasaan bersumpah serapah dan mengolok-olok teman yang lemah dari saya. Tetapi saya juga mendapat gangguan, terutama dari teman-teman wanita yang mengejek saya. Untuk anak seusia ini, ini tentu menghancurkan. Saya pun seperti mendapat “gangguan emosional’.

Baca Juga

Karāmah yang Tidak Pernah Diminta
Kisah ODGJ Berbagi Makanan
Saat Suami Jadi ‘Pusat’ Perhatian karena Urus Bayi Sendirian
Kehilangan Uang yang Bikin Ketagihan…
Pondok Gontor Putri, Al Hamra, dan Hagia Sophia

Masa remaja saya pun mulai dipenuhi dengan penderitaan dan kesepian. Orang tua saya yang miskin mencoba menasihati saya, tapi saya memberontak terhadap mereka dan sering berbuat tidak sopan. Saya lulus SMA pada musim panas 1996 dan mencoba untuk berubah menjadi lebih baik agar kondisinya tidak lebih buruk. Saya diterima di sekolah teknik lokal dan memutuskan saya harus melanjutkan pendidikan saya sekaligus bekerja. Saya bekerja di restoran cepat saji yang berada di dekat rumah untuk membantu membayar biaya sekolah.

Beberapa minggu sebelum sekolah dimulai, saya diajak untuk tinggal bersama oleh beberapa teman. Bagi saya, tampaknya ini seperti jawaban untuk masalah saya! Saya akan menghindari keluarga saya dan tinggal bersama teman-teman. Suatu malam, saya mengatakan kepada orang tua saya, saya akan pindah. Mereka mengatakan, saya tidak boleh pindah karena saya dianggap belum sanggup, dan orang tua tidak mengizinkan.

Saya yang sudah berusia 17 tahun dan sangat keras kepala, bersumpah serapah pada orang tua dengan mengatakan segala macam hal yang buruk –yang membuat saya menyesal sampai hari ini. Saya menjadi berani kepada orang tua karena merasa telah memiliki kebebasan. Saya ingin bebas dan mengikuti keinginan saya. Saya pun tinggal bersama teman-teman saya dan tidak berbicara dengan orang tua saya untuk waktu yang lama setelah itu.

Dalam aktivitas bekerja dan pergi ke sekolah, teman sekamar saya memperkenalkan saya dengan ganja. Saya pun menikmatinya. Saya menggunakan ganja ketika pulang dari bekerja. Saya pun mulai sering merokok dari waktu ke waktu. Lantas saya pun mulai membolos sekolah, sampai kemudian tidak sekolah sama sekali.

Saya pun jadi mengira, beginilah hidup yang nyaman. Saya telah menjadi ‘warga’ dari kelompok anak nakal. Saya pun semakin mencobai obat-obat keras yang lebih berat. Tapi alhamdulillah, saya akhirnya diselamatkan dari hal-hal yang benar-benar mengerikan itu. Yang aneh, ketika saya ‘melayang’ atau mabuk, saya menjadi sangat menderita. Saya merasa tidak berharga dan benar-benar tidak berharga.

Saya kadang mencuri dari tempat pekerjaan dan dari teman-teman agar tetap memiliki ‘asap kimia’ tersebut. Saya pun menjadi paranoid terhadap orang-orang di sekitar saya dan selalu membayangkan aparat polisi mengejar saya dari berbagai tempat. Aku menjadi rapuh dan aku membutuhkan solusi, dan saya berpikir agama dapat membantu saya.

Aku teringat dengan film tentang sihir dan saya pun terpikat. Saya membeli buku Wicca and Nature Worship, dan malah mendorong untuk terus menggunakan obat-obatan. Mereka menyebutkan, jika saya percaya pada Tuhan, kita akan bisa memiliki percakapan aneh saat di bawah ‘pengaruh’ obat-obatan. Tapi saya sebenarnya sedang tidak percaya pada Tuhan, dan saya meyakini Tuhan sama tidak sempurnanya seperti saya.

Pada kondisi ini, ada satu teman yang begitu dekat dengan saya. Dia seorang yang ‘lahir kembali’ sebagai Kristen dan selalu menasihati saya, meskipun saya selalu mengejek keyakinannya di setiap kesempatan. Dia satu-satunya teman yang tidak ‘menghakimi’ saya, sehingga ketika ia mengajak saya ikut dalam perkemahan akhir pekan anak-anak muda, saya memutuskan pergi bersamanya. Aku tidak punya harapan apa-apa. Yang ada dalam pikiran saya, bagaimana mengolok-olok semua “ucapan Bibel”.

Saat malam kedua, mereka melakukan kegiatan layanan. Mereka memainkan segala macam musik yang memuji Tuhan. Aku melihat semua orang, tua dan muda, berteriak memohon pengampunan dan meneteskan air mata. Saya rupanya juga tersentuh dan mulai berdoa dalam diam dengan mengucap, “Tuhan, aku tahu aku telah menjadi orang yang mengerikan, tolong bantu saya, dan ampuni saya, dan selamatkan saya”. Aku merasakan gelombang emosi datang menyelimuti saya, dan air mata pun menetes di pipi. Saya memutuskan pada saat itu untuk kembali pada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamat.

Aku mengangkat tangan di udara dan mulai menari (ya, menari!). Semua orang di sekitar saya menatapku dengan tertegun terdiam; memandang saya sebagai orang yang suka menghina dan berucap betapa bodohnya percaya kepada Tuhan, saat ini menari dan memuji Tuhan!

Saat saya kembali ke rumah kelompok saya, saya mulai menjauhi semua obat, minuman keras, dan perempuan. Saya memberitahu teman-teman saya agar kembali ke dalam Kristen agar bisa diselamatkan. Saya terkejut ketika mereka menolak ajakan saya, karena merekalah yang sebelum ini mengajak saya ke tempat ini. Saya akhirnya pulang ke rumah orang tua saya setelah sekian lama menghilang, sekaligus untuk meminta mereka menjadi orang Kristen.

Orang tua saya yang Katolik mengatakan, ia sudah menjadi orang Kristen. Tapi saya mengatakan, mereka belum menjadi Kristen, karena penyembahan mereka terhadap orang-orang suci. Saya pun memutuskan untuk pindah lagi, hanya saja kali ini dengan syarat yang lebih baik berupa bantuan dari kakek saya yang ingin membantu saya dalam upaya mencari “pemulihan”.

Aku pun mulai menghabiskan waktu di “rumah pemuda Kristen”, yang biasa digunakan untuk para remaja yang meninggalkan rumahnya dan membutuhkan diskusi agama Kristen. Saya yang lebih tua dari mereka, menjadi pelindung mereka dan berusaha membuat mereka nyaman. Namun sebenarnya, ini seperti penipuan, karena saya mulai minum dan berkencan lagi. Saat saya mengatakan kepada anak-anak tentang kasih Yesus, pada malam hari saya menenggak minuman. Hanya saya teman yang dekat saya selalu menasehati saya dan menjaga saya untuk selalu berada di jalur yang benar.*/Dikisahkan Craig Robertson (Abdullah Al-Kanadi), dimuat dalam The Religion of Islam.

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya KMJ Akan Bawa ANTV Ke Ranah Hukum Jika Tak Hentikan Tayangan Film ‘King Suleiman’
Tulisan selanjutnya Gelisah dan Memberontak, Lantas Menemukan Jalan dalam Islam (2)

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Perkuat Kompetensi Amil Zakat dan Nazir Wakaf, Kemenag Gelar Sertifikasi Profesi

Berita
2 Juni 2026 19:00
Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
Kerbau Donald Trump Batal Disembelih karena Alasan Keamanan
Setia dari Dulu, Kini dan Akan Datang: Kisah Pak Haji Toeng & Bu Hajjah Intang Kloter 15 KBIHU Hidayatullah Balikpapan di Haji 2026
MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat

Terbaru

  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat

Mungkin Anda Juga Suka

Cermin

“Nak, Ustadzah Boleh Peluk?”

2 Juli 2022 09:40
Cermin

Cerita Almarhum Pendiri Hidayatullah Kepingin Berjumpa Ramadhan Tahun Ini…

17 Februari 2022 07:59
Cermin

Ketika Nikmat Shalat Berjamaah Itu Terhalangi, Begini Pengakuan Sang Dai…

3 Januari 2022 05:00
Cermin

Bantuan Allah itu Datang Tengah Malam Persis Sesuai yang Dibutuhkan

27 Desember 2021 15:45
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?