Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Cermin

Asa di Bawah Bayang-bayang Eklamsia

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 27 Agustus 2017 09:25 9:25 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 27 Agustus 2017 09:25
Bagikan
Sang istri saat di ruang operasi RSUD Dr Kanujoso Djatiwibowo, Balikpapan, Kaltim, Agustus 2017.
Bagikan

MENGENANG 14 tahun lalu, ketika istri hamil anak pertama. Tujuh bulan pertama senang, gembira, bahagia, dan sudah membayang-bayangkan untuk memberi nama, aqiqah, serta mengendong anak.

Namun masuk bulan ke delapan, istri ada gangguan kehamilan yaitu eklamsia. Tiba-tiba tensi darah naik tinggi hingga 170/120. Langsung dibawa ke rumah sakit dan diopname.

Dalam masa opname selama dua pekan, segala cara dokter lakukan untuk menurunkan tensi tapi tidak bisa dan keluarga juga pakai obatobat herbal juga tidak mampu.

Hingga akhirnya dokter memanggil saya dengan pertanyaan yang tidak bisa saya jawab dan sebenarnya saya mau balik bertanya, kenapa ada pertanyaan seperti itu.

“Bapak pilih istri atau anak?”

Baca Juga

Karāmah yang Tidak Pernah Diminta
Kisah ODGJ Berbagi Makanan
Saat Suami Jadi ‘Pusat’ Perhatian karena Urus Bayi Sendirian
Kehilangan Uang yang Bikin Ketagihan…
Pondok Gontor Putri, Al Hamra, dan Hagia Sophia

Terlalu konyol kalau saya memilih salah satunya. Itu bukan pilihan dan bahkan bukan pertanyaan.

Akhirnya janin meninggal dalam perut karena tidak mampu bertahan akibat tingginya tensi darah ummi-nya.

Baca: Kisah Perjuangan Pasutri Hindari Operasi Caesar

Kejadian itu disebut eklamsia. Yaitu tensi darah ibu hamil tiba-tiba naik pada usia kehamilan tujuh bulan ke atas. Sebab setahu saya belum disepakati para dokter penyebabnya, ada yang menyebut karena gen, makanan, atau pikiran.

Alhamdulillah satu tahun kemudian, istri hamil lagi. Kehamilan kedua normal hingga lahir. Sekarang sang putra sedang menghafal al-Qur’an di Darul Hijrah, Surabaya, Jawa Timur, kelas dua SMP.

Kehamilan ketiga, istri mengalami eklamsia lagi dan janin meninggal dalam rahim berumur 9 bulan.

Namun mendadak, tidak ada gejala seperti eklamsia pertama dan tidak diopname. Diketahui, eklamsia karena janin gosong akibat pengaruh tensi ibunya.

Sedih juga, karena kejadiannya mendadak. Tapi iman yang harus dipegang.

Kehamilan keempat di Yogyakarta saat istri menemani saya kuliah S-2. Alhamdulillah normal hingga lahir, sekarang, Agustus 2017 ini, sang anak sudah duduk kelas tiga Madrasah Ibtidaiyyah putri.

Kehamilan kelima, istri eklamsia lagi. Ada sedikit trauma karena sudah dua kali eklamsia dan janin meninggal semua. Menegangkan dan mengkhawatirkan.

Alhamdulillah, pertolongan Allah, bayi bisa lahir meskipun prematur 7 bulan dan beratnya hanya 1,5 kilogram.

Alhamdulillah, sang anak sekarang sudah sekolah Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Al-Aulad, sehat dan cerdas.

Baca: Pria Juga Bisa Terkena Stress Saat Istri Melahirkan

Tiga kali eklamsia, menjadi kehati-hatian bagi istri untuk tidak hamil dulu atau menunda kehamilan. Artinya, cukup lima kali melahirkan dan tiga anak yang masih diamanahkan Allah saat itu.

Subhanallah, ternyata Allah memberikan rezeki, istri hamil yang keenam.

Respons pertama ketika mengetahui hamil keenam, kami -saya dan istri- berdua hanya bisa saling memandang dan diam dengan pikiran masing masing tapi sama, yaitu bayangan eklamsia.

Artinya ada rasa was-was, bayangan eklamsia terasa menghantui. Tidak bisa saling menyalahkan.

Namun setelah itu sadar dan kembali kepada keimanan.

“Semoga Allah ingin ada generasi yang baik lagi akan lahir dari rahim ummi.”

Kami saling menguatkan.

Untuk eklamsia, kami berharap semoga hanya untuk kehamilan ganjil saja. Karena pengalaman eklamsia terjadi pada kehamilan anak pertama, ketiga, dan kelima. Sedangkan pada kehamilan di angka genap, berlangsung normal.

Subhanallah, ternyata kehamilan keenam saat memasuki usia tujuh bulan, istri juga eklamsia.

Hanya kepada Allah memohon, berdoa untuk kesehatan ibu dan janin.

Dan Alhamdulillah, bayi mungil kami lahir di tengah perayaan hari kemerdekaan RI yang ke-72, Kamis, 17 Agustus 2017 lalu.

Baca kisahnya: Tak Disangka, Bayi Kami Lahir di Usia 72 Tahun Republik Indonesia

Meskipun prematur dan lewat operasi caesar, sang bayi akhirnya keluar “menyambut” kemerdekaan bangsa ini.

Di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dr Kanujoso Djatiwibowo di Balikpapan, Kalimantan Timur, rintihan hujan mengiringi kelahiran bayi putri kami tercinta.* Diceritakan kepada hidayatullah.com oleh Abdul Ghofar, aktivis pendidikan di Balikpapan

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:17 AgustusAgustusanBalikpapanbayibayi IndonesiadoktereklamsiaguruHarapanHUT RI ke-71ibuistriistri hamilkelahiran bayikelahiran prematurkemerdekaan Indonesiamelahirkanoperasi caesarpengorbanan ibuRSUD Dr Kanujoso Djatiwiboworumah sakitsuami
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Turki Tangkap Tersangka Peretas Kantor Berita Qatar
Tulisan selanjutnya Qatar Pulihkan Sepenuhnya Hubungan Diplomatik dengan Iran

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait

Berita
18 Juli 2026 09:49
Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
Korban di Gaza Capai 73.223, Barghouthi: Penjajah Jalankan Perang Pembersihan Etnis
Indonesia Prioritaskan Promosi Produk Halal Lewat HEI 2026
Pakistan Jadi Tuan Rumah Konferensi Menteri Perempuan OKI, Bahas Sosial Ekonomi dan Politik

Terbaru

  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
  • Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
  • Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
  • Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
  • Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
  • Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital

Mungkin Anda Juga Suka

Cermin

“Nak, Ustadzah Boleh Peluk?”

2 Juli 2022 09:40
Cermin

Cerita Almarhum Pendiri Hidayatullah Kepingin Berjumpa Ramadhan Tahun Ini…

17 Februari 2022 07:59
Cermin

Ketika Nikmat Shalat Berjamaah Itu Terhalangi, Begini Pengakuan Sang Dai…

3 Januari 2022 05:00
Cermin

Bantuan Allah itu Datang Tengah Malam Persis Sesuai yang Dibutuhkan

27 Desember 2021 15:45
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?