SETIAP Muslim tentu ingin ke Tanah Suci menunaikan umrah atau haji. Aku selalu berdoa dan berupaya agar bisa ke sana. Termasuk keseriusanku saat bertanya pada seorang ustadz yang punya koneksi dengan travel umroh & haji.
“Ustadz, sebenarnya biaya umroh paling murah itu berapa?”
“Biasanya tergantung kurs dollar, minim Rp. 13 – 16 juta”
“Kalau Rp. 16 juta, berarti seharga motor baru ya Ust ?” Ustadz itu mengiyakan.
“Kalau misal punya uang Rp 16 juta, menurut Ustadz dipakai umroh atau beli motor ?” tanyaku lagi
“Umroh dulu, nanti juga dapat motor, ” jawab ustadz
Aku terdiam. Sebenarnya aku tidak punya uang sebesar itu. Kalaupun aku bertanya banyak, adalah sebagai upaya agar Allah Subhanahu Wata’ala mencatatnya sebagai bentuk ikhtiarku untuk bisa berumroh.
Seminggu kemudian, ustadz tersebut menelepon suamiku menanyakan jadi tidaknya mendaftar umroh. Suamiku menjawab iya, dan mendaftarkan umroh bagi dirinya sendiri. Sedang aku tidak. Karena memang uangnya hanya cukup untuk satu orang.
Taklama ustadz menelepon lagi, menawarkan agar aku didaftarkan sekalian agar bisa berangkat bersama. Suamiku menolak. Karena memang tidak ada biaya. Namun sang ustadz memberitahu suamiku bahwa aku “punya” uang yang cukup untuk berumroh. Akhirnya suamiku mendaftarkan aku umroh.
Ketika suamiku bertanya apakah aku punya uang yang cukup untuk berumroh? Aku jawab tidak. Karena memang aku tidak punya uang. Kemudian suamiku berkata, “Kalau memang Allah menetapkan kita berumroh bersama, pasti ada jalan keluarnya.”
Dan jalan keluar yang diberikan Allah adalah keluarnya uang dua arisan di kampung sekaligus. Padahal biasanya aku selalu mendapat arisan paling akhir. Agar mencukupi biaya yang diperlukan, aku menjual perhiasan yang aku punya. Ternyata biaya umroh membengkak karena kurs dollar naik dan ada tambahan biaya lain seperti paspor, visa, dan lain-lain.
Setelah suamiku menghitung ulang uang yang ada, ternyata aku tidak bisa berangkat karena uangnya hanya cukup untuk satu orang. Tapi karena telanjur sudah mendaftar, bagaimanapun suamiku harus bertanggungjawab. Akhirnya suamiku cerita pada ustadz bahwa uang yang akan digunakan umroh masih kurang banyak. Sedang waktunya mepet. Kurang dua minggu harus lunas. Alhamdulillah, ustadz tersebut membantu kami untuk mendapat pinjaman lunak dari sebuah Koppontren di Surabaya sebesar Rp 20 juta yang bisa diangsur selama 1,5 tahun tanpa anggunan apapun.
Menariknya, suami maupun aku tidak pernah menandatangani surat perjanjian hutang sebesar Rp 20 juta tersebut dan tidak pernah tahu seperti apa uang yang kami pinjam. Karunia Allah saja sehingga kami bisa berangkat bersama-sama dengan rombongan ustadz dengan travel haji umroh yang sama.
Karunia Allah semata juga akhirnya kami bisa melunasi pinjaman tepat waktu selama 1,5 tahun. Dua bulan setelah itu, dua orang petugas dealer motor datang ke sekolah tempat aku mengajar. Sebuah motor matic merah diturunkan dan dimasukkan ke halaman sekolah. Aku bilang kepada petugas bahwa mereka salah kirim motor. Karena aku atau teman guru yang lain tidak ada yang pesan motor. Lalu petugas itu membacakan nota pembelian motor itu yang tertulis namaku, alamat kantorku dan nama pengirimnya adalah suamiku sendiri.
Dengan gemetar aku menandatangani nota yang disodorkan petugas dealer. Masih dalam kebingungan, suamiku meneleponku dan menjelaskan tentang motor itu sambil tertawa-tawa.
Aku pandangi motor merah yang masih terselubung plastik. Aku teringat dengan perkataan ustadz 2 tahun yang lalu, “Umroh dulu, nanti juga dapat motor. ”
Subhanallah, terima kasih Ya Allah…..*/Sebagaimana diceritakan Sri Rahayu, dikutip dari majalah Suara Hidayatullah