SEBAGAI orang yang lahir di sebuah kota kecil di Jawa Barat, aku termasuk orang yang punya obsesi tinggi untuk masa depan. Hal itu mendorong tekad belajarku cukup tinggi, hingga akhirnya aku bisa duduk kuliah di sebuah perguruan tinggi negeri di Bandung yang menjadikanku layak menjadi seorang guru matematika.
Begitu menyandang sarjana pendidikan, aku pun berupaya sekuat tenaga, kesana kemari mencari pekerjaan, sampai akhirnya aku bisa diterima di sebuah sekolah negeri di Jakarta. Kala itu, senang sekali rasa hati, mengingat dalam usia muda aku sudah bisa bekerja, mengamalkan ilmu dan membantu kehidupan keluarga. Apalagi, ujroh yang aku terima tiga kali lipat dibanding dengan teman-teman yang mengajar di asalku.
Namun, sebagai Muslimah, aku berupaya sekuat tenaga memegang prinsip bahwa soal rizki adalah bagian dari ketetapan-Nya. Selama sembilan tahun bekerja menjadi guru, aku belum pernah berubah status dari guru honorer menjadi PNS. Bukan tidak ada tawaran, tetapi, menurutku menjadi PNS dengan cara yang salah akan membuat hidupku jauh dari berkah. Padahal, kalau aku mau, kedua orang tuaku berstatus sebagai PNS di pemda kelahiranku, tetapi, apalah arti dunia dibanding harus mengorbankan kejujuran.
Singkat cerita, aku pun menikah dan kini telah dianugerahi dua orang putri. Kelahiran putri pertama berjalan normal, dalam artian aku tetap bisa berkarir dengan profesiku. Namun, keadaan mulai berubah, kala lahir putri keduaku. Empat tahun berjalan, aku pun menyerah, karena putri keduaku begitu aktif dan menuntutku harus betul-betul esktra dalam menjaganya. Akhirnya, aku pun pasrah kepada Allah, demi masa depan anakku, aku rela berhenti menekuni karir yang sekian lama kuperjuangkan.
Putri keduaku memiliki sifat yang tidak sama dengan kakaknya, ia selalu seolah ingin mengatur dan tidak mau lepas dariku sebagai ibunya. Setiap kali mau berangkat, putri keduaku selalu ribut karena minta ini, minta itu dan intinya dia tidak mau kulepaskan. Pada akhirnya, setelah bermusyawarah dengan suami, mungkin ini adalah tanda dari Allah bahwa aku mesti merawat dia secara utuh.
Pada awalnya aku stress, meningat setiap hari biasa beraktivitas, kemudian menjadi aktif hanya di rumah saja. Hal ini benar-benar sangat sulit bagiku.
Untuk mengatasi rasa stres, aku pun meminta suami membelikan peralatan kue, akhirnya dalam senggang waktu mengasuh anak, aku habiskan energi dan waktuku untuk membuat kue.
Tetapi, Alhamdulillah, setelah enam bulan berjalan aku mulai nyaman dan bangga menjadi ibu rumah tangga bagi keluargaku. Ibu yang 24 jam siap sedia dan setia mengasuh anak-anakku. Ada sebuah perasaan lega, yang andai ini dirasakan oleh mereka yang asyik dan terobsesi dengan karir, kebahagiaan ini benar-benar tidak akan mereka rasakan, padahal di sinilah kunci kebahagiaan seorang wanita yang sekaligus seorang ibu, yakni mengasuh anak-anak mereka sendiri di rumah.
Hanya saja, memang berat di awal, tetapi kita harus punya prinsip. Menurutku dari setiap masalah yang kita terima, yakinlah Allah Subhanahu Wata’ala selalu punya rencana yang lebih indah buat kita. Apalagi kala syariat-Nya mengharuskan wanita mengabdi kepada-Nya dengan mengurus keluarga, tentu sangt membahagiaakan di sana.*/ Seperti diceritakan oleh Jane kepada hidayatullah.com