Hidayatullah.com—Sebut saja Elisabeth. Awalnya ia dikenal sebagai wanita yang banyak bicara. Meski selalu ceria dan suka bersenang-senang dan suka berteman dengan banyak orang. Karena itu banyak orang merasa nyaman berada di sekitarnya, begitupun sebaliknya. Di sisi lain, ia juga dikenal “menyebalkan”.
Elisabeth berasal dari keluarga yang berantakan, monoton, tidak ada aturan, dan tidak ada keharmonisan. Dia dan saudara-saudara perempuannya bisa melakukan segalanya dengan bebas dan seolah tidak ada yang peduli terhadapnya. “Aku biasa bepergian berminggu-minggu, bolos sekolah, dan bahkan tidak pulang ke rumah,” kenangnya sebelum mengenal Islam.
“Ketika aku pulang, tidak seorang pun menanyakan dari mana atau apa yang telah aku lakukan”. Dia bisa saja melakukan segala hal yang ia inginkan dan orangtuanya pun tidak pernah menghukum atau melarangnya sekalipun. Itu hanyalah kebingungan dan penderitaan yang dirasakannya selama bertahun-tahun.
Ayah Elisabeth adalah seorang alkoholik dan ibunya adalah pecandu obat-obatan.
“Aku dan saudara perempuanku menjalani kehidupan masing-masing, dan tidak tahu tentang hal itu sebelumnya. Kesedihan datang seolah-olah itu adalah hal biasa. Aku berpikir bahwa hidup ini benar-benar menyebalkan,” sesalnya.
Dia ingat ketika hampir setiap malam ayahnya selalu berteriak-teriak dan mnejadi kasar. Ibunya selalu menangis. Dia selalu ingat semua lubang-lubang yang ada di dinding dan setiap luka memar yang ada di muka ibunya karena perbuatan ayahnya.
“Bagaimana aku bisa melupakan hal seperti itu?” terangnya dengan sedih.
Ketiga adik kecilnya hanya bisa berdiam diri di tengah pertengkaran yang tak terhindarkan itu. Mereka hanya bisa menangis sebagai permintaan kepada ayahnya agar dia berhenti melukai ibu mereka. Kejadian seperti itu hanyalah trauma yang dipikul oleh anak-anak mereka. Elisabeth mulai memikirkan apa yang telah keluarganya tinggalkan. Yaitu kepatuhan kepada Tuhan.
“Seberapa besarkah perbedaan yang akan aku rasakan jika aku dibesarkan dengan agama?”, itulah pertanyaan yang selalu ada dalam pikirannya.
Suatu hari ketika ayahnya masih tidur. Ibunya bergegas mengemasi barangnya dan membawanya bersama saudara-saudara perempuannya pergi.
“Kami keluar rumah dengan terburu-buru dan berlari melewati jalanan dengan kaki-kaki telanjangku. Aku menggenggam tangan kakakku dengan kencang dan menanyakan tentang kemana kita akan pergi. Dia menjawab bahwa kami akan meninggalkan rumah. Aku sangat sedih dan bingung karena aku tidak mau meninggalkan ayah. Aku tidak tahu jika aku tidak akan pernah lagi bertemu dengannya.”
Perjalanannya meninggalkan rumah berakhir di tempat perlindungan wanita. Dan tidak lama setelah itu, Elisabeth menemui dan berbincang dengan ayahnya di balik jendela kaca tebal dinding penjara. Kehidupan terasa sangat sulit baginya. Dia beserta saudara-saudara perempuannya dan ibunya berpindah-pindah dari satu tempat perlindungan ke tempat perlindungan lainnya, sampai akhirnya mereka bergabung dengan sekelompok orang yang berpenghasilan rendah.
Dia baru menyadari bahwa di sana banyak orang-orang yang mempunyai masalah yang sama seperti masalah keluarganya. Banyak anak-anak yang hilang dan bingung karena orangtua mereka gagal dalam kehidupan bermasyarakat.
Orang-orang di sana hidup dalam dosa-dosa dan tanpa ada rasa malu sedikitpun. Adalah suatu hal yang legal untuk hidup dengan cara haram di sana. Dan Kanada, cenderung mentolerir cara hidup seperti itu.
Elisabeth menyadari bahwa hidupnya di Kanada akan lebih baik jika mengimplementasikan kepatuhan kepada Tuhan dalam kehidupan sehari-hari. Mencari perhatian dan rasa kasih sayang dari figur seorang ayah di tempat yang salah membawanya kepada kepedihan dan kesalahan yang mendalam.
Karena itu, tangisannya setiap malam membuatnya jarang tidur. Namun dari situ pulalah datang rasa damai dari tetesan-tetesan air matanya. Dia menyadari betapa indahnya “tangisan jujur” yang datang dari hatinya yang sedang kacau itu.
“Haruskah kita meninggalkan masa lalu dan memulai hidup baru dengan cara berbeda? Bagaimana aku memulai kehidupan yang bahkan aku tidak pernah tahu tentangnya? Seberapa sulit perjalanannya? Setelah bertahun-tahun hidup dengan cara haram, rasanya tidak mungkin bagiku untuk meninggalkan gaya hidup lamaku itu. Aku begitu sedih, tapi kesedihan itu adalah sebuah perasaan dari kebutuhan yang begitu mendalam, sebuah hasrat yang besar untuk berserah diri kepada Allah Subhanahu Wata’ala”, kenangnya seperti dikutip laman TDS.
Sejak Kenal Islam hidupnya lebih baik
Dia mulai menyadari bahwa hanya Tuhan lah yang dapat menolongnya, dan tanpa Tuhan, hidupnya tidaklah berarti apa-apa. Perjalanannya begitu panjang untuk dijalani ketika ia belum benar-benar mengenal Tuhan. Dia bahkan tidak tahu dari mana dan bagaimana cara memulainya.
Suatu malam dia menangis dihadapan Allah dan berdo’a, “Ya Allah Yang Maha Pemberi dan Maha Pemurah, Aku telah salah dalam menjalani hidup, dan hanya Engkaulah yang dapat membantuku. Aku mohon ya Allah. Aku mohon, mohon, dan mohon tolonglah aku! Hilangkanlah kesusahan ini dalam hidupku dan tunjukkanlah kepadaku sesuatu yang harus aku lakukan.”
Semenjak mengenal Islam, hidupnya perlahan lebih baik dari waktu ke waktu.
“Aku tenggelam dalam air mata kebahagiaan. Akhirnya aku menemukan apa yang sudah kurindukan selama bertahun-tahun. Aku merasa baru lagi dan tidak hilang harapan,” ujarnya…..baca sambungannya “Dengan Hijab Aku Kini lebih Bebas”..*/Darda Muhammad Firdaus Sofyan