Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Cermin

Mengubah Benci Menjadi Cinta

Ahmad
Terakhir diupdate: 26 Oktober 2020 17:11 5:11 pm
Ahmad
Dipublikasikan 26 Oktober 2020 17:11
Bagikan
AlBurhan Semarang (ilutsrasi)
Bagikan

Hidayatullah.com | ALLAH yang membolak-balikan hati manusia. Dari cinta kadang bisa menjadi benci. Pun sebaliknya, dari benci bisa berubah menjadi cinta

Melihat kebersamaan santri dalam acara buka bersama pada bulan Ramadhan sungguh membuatku bahagia. Keceriaan mereka, saling berbagi, sopan santun, dan sebagainya. Selalu terbesit rasa sesal, kenapa dahulu semasa remaja tidak aku habiskan di pesantren saja. Padahal, orangtuaku sering menawari aku untuk melanjutkan Sekolah Menengah Atas (SMA) di sebuah pesantren.

Semasa remaja, sungguh aku merasa risih ketika mendengar kata pesantren. Dulu, dalam pandanganku pesantren itu sangat terbelakang, tempatnya orang-orang yang bepikiran kolot.

Apalagi setelah peristiwa bom Bali, anggapanku terhadap pesantren semakin negatif. Padahal, tidak ada keluarga atau kerabatku yang ikut menjadi korban dan tidak ada hubungannya kejadian itu dengan pesantren. Namun, saat itu di pikiranku, orang yang memakai sorban, gamis, dan jenggotan itu menakutkan.

Berbeda dengan orangtuaku. Mereka memandang pesantren sebagai sebuah harapan. Pesantren bagi mereka suatu tempat yang bisa menjadikan aku anak sholeh. Mereka ingin aku menjadi penghafal al-Qur’an, mengusai ilmu agama, dan lainnya. Dari keinginan-keinginan besar tersebut, mereka ingin sekali aku masuk pesantren.

Baca Juga

Karāmah yang Tidak Pernah Diminta
Kisah ODGJ Berbagi Makanan
Saat Suami Jadi ‘Pusat’ Perhatian karena Urus Bayi Sendirian
Kehilangan Uang yang Bikin Ketagihan…
Pondok Gontor Putri, Al Hamra, dan Hagia Sophia

Tetapi, aku bersikukuh untuk melanjutkan pendidikan di SMA Negeri. Akhirnya mereka pun menyerah dan membiarkanku untuk menentukan pilihan sendiri. Aku habiskan masa SMA dengan pergaulan yang lebih bebas dibandingkan saat SMP. Masa di mana aku banyak menyia-nyiakan waktu.

Aku sering kumpul dan nongkrong di kafe bersama teman-teman. Bahkan, aku mulai merasakan yang namanya pacaran. Aku tak mengenal apa yang namanya mahrom. Tak jarang aku meninggalkan kewajibanku sebagai seorang Muslim seperti shalat 5 waktu. Sampai-sampai orangtua bosan untuk mengingatkanku.

Setelah tamat SMA, ternyata orangtuaku belum menyerah. Mereka tetap ingin aku masuk ke pesantren. Mereka ingin aku mendaftar di perguruan tinggi yang berada di lingkungan pesantren.

Tapi, karena pandanganku tentang pesantren belum berubah, mendorongku untuk menentang keinginan orangtua. Apalagi aku masih merasa nyaman sekolah di lembaga pendidikan umum.

Bahkan saat itu aku ingin melanjutkan ke kampus bergengsi. Karena aku bersikeras memilih bertahan, lagi-lagi orangtuaku menyerah. Aku melanjutkan ke perguruan tinggi umum.

Ternyata, kenakalanku kian menjadi-jadi. Tidak ada apa-apanya dibandingkan ketika SMP atau SMA. Aku mulai berani menentang orangtua.

Shalat 5 waktu pun bisa dihitung jari dalam seminggu. Semakin bertambah umurku, semakin tak karuan. Ibadah kian terlalaikan, apalagi beramal kebaikan.

Aku sering tidur di kos teman, jarang pulang ke rumah hingga membuat orangtuaku khawatir. Saat itu, aku tak pernah berpikir betapa durhakanya diriku.

Waktu begitu cepat berlalu. Wisuda pun telah kulewati. Aku diterima bekerja di perusahaan Semen. Kerja, kerja, dan kerja. Itu menjadi rutinitasku setamat kuliah.

Hingga tiba suatu hari di mana Allah ingin mengujiku. Mungkin ujian itu sekaligus menjadi peringatan keras bagiku.

Suatu hari pada bulan Ramadhan, aku mengalami kecelakaan. Sepeda motorku ditabrak pengendara lain, ketika aku sedang perjalanan pulang menuju rumah. Akibat kecelakaan itu, aku mengalami patah tulang di beberapa bagian tubuh. Bahkan, aku dilarikan ke rumah sakit dalam keadaan pingsan.

Aku pun terbangun setelah beberapa hari tak sadarkan diri di ruang ICU. Sejak itulah, sedikit demi sedikit aku mulai menyadari apa yang kulakukan selama ini keliru. Tak urung air mataku menetes ketika menyesali dan menceritakan hal itu kepada orangtuaku.

Meskipun aku selalu menentang, mereka tetap setia menemaniku pada masa-masa koma. Berkat doa mereka dan izin Allah tentunya, aku masih menghirup udara segar hingga saat ini. Waktu itu, aku habiskan waktu bulan Ramadhan di rumah sakit, bahkan sampai beberapa hari selepas Idul Fitri.

Butuh berbulan-bulan hingga aku bisa berjalan normal. Selama itu aku hanya bisa terbaring di rumah sambil merenungi semua kenakalanku selama ini. Aku meyakini jika ujian yang Allah berikan itu tidak lain adalah kesempatan bagiku agar kembali kepada jalan kebenaran seperti mengerjakan sholat, membaca al-Qur’an, dan berbakti kepada orangtua.

Setelah sembuh total, suatu waktu Ayah mengajakku untuk sholat berjamaah di masjid sebuah pesantren. Di situ, aku merasa memperoleh ketenangan. Ada sebuah dorongan kuat dalam hati untuk kembali, dan kembali ke pesantren.

Suatu hari, sehabis Shalat Subuh di pesantren itu, aku bahagia sekali melihat santri-santri mengaji. Pemandangan itu sungguh membuat hatiku tenang. Rasa cintaku terhadap pesantren semakin bersemi. Aku semakin candu akan semua hal yang berkaitan dengan pesantren.

Dari situ aku memutuskan untuk menjadi donatur tetap. Meskipun aku sudah tak kerja lagi di perusahan semen. Aku lebih memilih usaha kecil-kecilan. Dari situ hasilnya aku sisihkan sebagian untuk membantu salah satu pesantren yang masih dalam tahap perintisan di Wajo, Sulawesi Selatan.

Setiap ada kegiatan dari pondok pesantren, aku berusaha ikut berpartisipasi untuk mensukseskannya. Aku ingin kebencianku tergantikan dengan rasa cinta. Karena, aku merasa bahagia melihat para santri bisa menghafal Qur’an dengan tenang. */Seperti dikisahkan oleh Abu Ahmad dan ditulis oleh Mahasiswa STAIL Surabaya Semester V, Muhammad Aras kepada Suara Hidayatullah

Redaktur: Ahmad
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:cintakebencianPondok Pesantren
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Masjid Ar-Rabithah, Kudus: Dijuluki Masjid “Pelarian”
Tulisan selanjutnya Presiden Macron Sebarkan Islamofobia, MUI Minta Menlu RI Panggil Duta Besar Prancis

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Pengadilan Kenya Tolak Rencana Amerika Serikat untuk Mendirikan Fasilitas Karantina Ebola di Negaranya

Berita
30 Mei 2026 11:16
Singapura Terbitkan Panduan untuk Bantu Orang Tua Kurangi Screen Time Anak
Hakim Memutuskan Nama Donald Trump Dihapus dari Gedung Kesenian Kennedy Center
Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
Kapal Kargo Turki Diserang Drone di Laut Hitam

Terbaru

  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
  • Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
  • ‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza

Mungkin Anda Juga Suka

Cermin

“Nak, Ustadzah Boleh Peluk?”

2 Juli 2022 09:40
Cermin

Cerita Almarhum Pendiri Hidayatullah Kepingin Berjumpa Ramadhan Tahun Ini…

17 Februari 2022 07:59
Cermin

Ketika Nikmat Shalat Berjamaah Itu Terhalangi, Begini Pengakuan Sang Dai…

3 Januari 2022 05:00
Cermin

Bantuan Allah itu Datang Tengah Malam Persis Sesuai yang Dibutuhkan

27 Desember 2021 15:45
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?