Hidayatullah.com-–Tanggal 5 Mei 2010 adalah hari libur nasional Korea. Dari info yang saya dapat, tanggal tersebut merupakan hari anak nasional. Dengan demikian pada tanggal itu saya memiliki banyak waktu luang di luar lab. Itulah mengapa saya menerima tawaran seorang teman ketika ia meminta saya untuk menemaninya melakukan perjalanan ke luar kota.
Malam hari sebelum libur, saya menyempatkan diri untuk sedikit berolah raga di pusat aktivitas olah raga out door yang berada tepat di tepi danau kampus Dankook University (DKU). Selepasnya, saya melanjutkan aktivitas ringan di apartemen hingga pukul 13.00 waktu Korea (Korean Standard Time, KST). Alhamdulillah, saya tidak kesiangan kala adzan berkumandang dari laptop kesayangan.
Saya pun mampu bertahan dari godaan kantuk hingga pagi, sembari menyiapkan segala perbekalan perjalanan pagi itu. Setelah sarapan pagi, membersihkan badan dan berkemas, tepat pukul 6.00 KST saya sudah keluar meninggalkan apartemen.
Seperti hari libur lainnya, suasana sepi belum beranjak pergi meninggalkan lingkungan apartemen. Hanya beberapa mahasiswa Korea yang tampak sudah meninggalkan kamar mereka. Beberapa di antara mereka juga terlihat sedang menunggu bus di sebuah halte yang berada tak jauh dari apartemen.
Mobil-mobil pribadi masih lelap terparkir di tepi jalan kompleks. Hanya satu dua taksi yang tampak lalu lalang mencari penumpang. Tak salah jika suatu ketika seorang senior saya menggambarkan suasana sepi ini seperti salah satu scene di film horor resident evil. Ternyata tidak hanya saya yang berpendapat demkian.
Setelah menunggu tak lebih dari 10 menit, bus 700 yang akan membawa saya menuju terminal bus Cheonan menampakkan spionnya. Bus berhenti, pintunya terbuka serta merta. Satu per satu calon penumpang naik dan menyentuhkan kartu T-money-nya, sebagai alat pembayaran bus, pada sebuah kotak kecil pemindai yang di-layout tepat di depan pintu masuk. Bus pun masih relatif sepi. Ditemani berita radio bahasa Korea, kami meluncur meninggalkan halte bersama sepinya pagi.
***
Setelah melewati beberapa perhentian, tiba saatnya bus kami memasuki sebuah underpass yang merupakan salah satu jalur utama transportasi dalam kota dari daerah sekitar kampus Dankook menuju city hall Cheonan. Bus kami yang berjalan dengan kecepatan sedang, tiba-tiba terhenti karena menabrak sebuah sedan yang berposisi tanggung.
Tepat di tengah underpass, jalan utama bercabang dua. Cabang pertama lurus mengarah ke jalur terminal bus, sedangkan cabang kedua mengarahkah ke pintu tol. Sepertinya, sedan yang ditabrak bus kami dari belakang tersebut sedang mengalami kebingungan dalam menentukan pilihan jalan mana yang akan ditempuh. Sedan itu berada di antara percabangan. Tabrakan terjadi di percabangan dengan posisi sedikit lebih ke arah jalur lurus.
Tabrakan ini terjadi sekejap mata. Sang supir bus terlihat sedikit panik. Para penumpang berekspresi refleks seperlunya. Seorang pak tua dan istrinya tampak keluar dari sedan. Beberapa menit setelah sang supir bus turun dari bus, terjadilah sedikit adu argumentasi, itu pun didominasi oleh sang supir bus.
Mungkin pak tua merasa bersalah dengan kejadian ini. Setelah turun-naik bus beberapa kali, si supir bus meminta seseorang dari penumpang meminjamkan handphonenya. Seorang dari penumpang dengan sigap memberikan apa yang beliau minta. Mungkin sang supir ingin menghubungi seseorang yang akan mengatasi permasalahan ini dan kebetulan beliau sedang tidak memiliki pulsa.
Saya mengamati para penumpang di dalam bus. Mereka tetap berada di kursi masing-masing –tak beranjak sedikit pun. Mereka tetap terlihat asyik melakukan obrolan seolah tidak terjadi apa-apa. fenomena ini merupakan pengalaman pertama bagi saya. Saya menemukan sesuatu yang berbeda untuk hal serupa bila terjadi di Indonesia. Kawan, bisa merasakan perbedaan yang saya maksud bukan?
Dalam kondisi yang sama, di Indonesia kita akan menemukan reaksi para penumpang akan sibuk bercerita sana sini seputar tabrakan. Suasana ramai secara spontan akan terjadi. Tak jarang semua penumpang akan beranjak dari tempat duduk mereka ketika bus sudah berhenti beberapa menit setelah tabrakan terjadi. Mereka akan berusaha mencari tahu apa gerangan yang sedang terjadi dengan antusias. Bahkan banyak dari mereka akan mencoba untuk ikut terlibat dalam mengatasi masalah yang terjadi.
Biasanya mereka akan mendekati lokasi kejadian secara spontan tanpa komando. Meski itu baik sebagai bentuk simpati yang mendorong sikap untuk turut terlibat, tapi belum tentu akan memberi solusi dan menolong kedua bela pihak yang bertabrakan. Hal yang berbeda saya temukan pagi itu, di Korea. Saya melihat sikap para penumpang pagi ini sebagai tindakan proposional yang mengacu pada konsep menempatkan diri pada posisi yang paling tepat dalam sebuah permasalahan.
Beberapa menit setelah semuanya berlalu. Sebuah mobil penggerek mobil mogok datang menghampiri lokasi tabrakan. Teryata inilah gerangan yang dihubungi sang supir bus tadi. Si supir bus, pak tua, dan pengemudi mobil penggerek langsung terlibat sebuah obrolan singkat. Sang supir bus kembali naik ke dalam bus dan meminta beberapa penumpang memberikan testimoni seputar kejadian barusan.
Dua orang penumpang berkenan menuliskannya di atas sebuah kertas yang diberikan sang supir bus. Sambil menunggu penumpang menulis, si supir memberikan pandangan pribadinya seputar tabrakan. Ia juga meyakinkan penumpang bahwa semua kejadian barusan sudah terekam dengan baik di cctv yang berada di lokasi tabrakan.
Sang supir bus berusaha memberikan sebuah pemaparan bahwa beliau berada dalam posisi yang benar. Satu per satu penumpang mulai sesekali melirik jam tangan pertanda mereka berharap semuanya bisa diselesaikan dengan secepatnya. Ini merupakan poin berbeda kedua yang saya temukan di Korea dalam konteks ini.
Mobil penggerek mulai berjalan setelah sedan berada di atasnya. Bus kami pun beriringan mengikuti mobil penggerek. Mobil penggerek berhenti di perhentian bus selanjutnya. Seakan mengetahui pikiran penumpangnya, sang supir bus berujar kembali dalam bahasa Korea. Saya menerka bahwa ia sedang mengutarakan rencananya untuk memindahkan kami ke bus dengan jurusan yang sama. Demikian cara beliau menjawab bahasa tubuh terakhir para penumpang yang mulai terlihat gelisah sembari melihat jam tangan atau hp mereka masing-masing.
Tidak ada cacian ataupun ekspresi kebencian yang terpancar dari wajah para penumpang. Sebuah bus 701 secara kebetulan berjalan perlahan di sisi kiri bus kami yang sudah menepi. Terjadi obrolan singkat antara supirnya dan supir bus kami. Sepenarikan napas, supir bus kami keluar dari bilik supir dan langsung berdiri tepat di depan pintu masuk bus seraya membentangkan tangan kanannya. Ia dengan khitmad mempersilahkan seluruh penumpang untuk berpindah bus. Serta merta semua penumpang beranjak dari tempat duduk dan bergerak turun dengan tertib.
Kami sudah bergabung dengan penumpang bus 701 yang lain. Bus 701 mulai berjalan dan meninggalkan bus 700 berserta mobil penggerek yang sudah menepi untuk melanjutkan penyelesaian masalah tabrakan pagi ini. Saya tak menjumpai sosok polisi lalu lintas satu pun di lokasi kejadian. Selama bus dan sedan belum menepi beberapa menit setelah tabrakan tadi, arus lalu lintas jalan raya tetap berjalan dengan baik.
Hal tersebut selain disebabkan karena arus kendaraan yang masih sepi dan posisi tabrakan yang tidak menutup jalur underpass secara total, juga disebabkan oleh tidak terjadinya penumpukan massa di lokasi kejadian. Di Indonesia –sejauh pengalaman saya–, penumpukan massa acap kali dipenuhi oleh pihak-pihak yang tidak berkepentingan, seperti “penonton dadakan peristiwa tabrakan” yang dapat berasal dari masyarakat sekitar dan pengguna jalan raya. Dengan ketertiban ini mobil kecil dan besar yang berada di belakang bus kami masih bisa lewat dengan leluasa, meski bus dan sedan yang terlibat tabrakan belum “dieksekusi” ke tepi jalan.
***
Demikianlah sepotong kisah saya pagi itu. Kisah tabrakan pertama saya di Korea (semoga ini yang pertama dan terakhir). Semoga kita bisa mengambil banyak hikmah dari cerita ini. Sebuah pelajaran sederhaana meski itu dalam tatanan yang teramat kecil. [sjs/hidayatullah.com]
*) Penulis, Syahnada Jaya Syaifullah, adalah alumni Institut Pertanian Bogor (IPB) angkatan 02 dan sekarang sebagai penerima beasiswa BK21 dalam program studi master di bidang Environmental Horticulture Biotech of Dankook University (DKU), Cheonan, Korea selatan
Kosakata: KST: Korean Standard Time, standard waktu Korea ; lab: laboratorium, tempat, percobaan, penelitian; out door: luar ruangan; halte: tempat pemberhentian (bis);scene: adegan; kartu T-money: alat pembayaran ongkos bis; dilayout: ditempatkan; city hall: balai kota; underpass: jalan raya di bawah tanah; hp: handphone, telepon genggam; cctv: closed-circuit television, sistem pengawasan melalui televisi.