KAPAL Motor (KM) Nggapulu akhirnya memuntahkan ribuan penumpangnya, setelah sehari-semalam terombang-ambing di atas lautan. Perjalanan cukup panjang dari Pelabuhan Semayang Balikpapan, Kalimantan Timur, itu berakhir di Pelabuhan Dede Tolitoli, Sulawesi Tengah (Sulteng).
Setelah sandar di Tolitoli sekitar pukul 23.00 Wita, ‘isi lambung’ KM Nggapulu seakan benar-benar kosong. Bisa dipastikan semua penumpangnya turun. Ini merupakan pelabuhan ‘terakhir’ kapal besar yang sebelumnya transit di Pelabuhan Pantoloan, Sulteng tersebut.
Sudah lumrah jika banyak penumpang yang mabuk dalam perjalanan laut. Tak terkecuali sejumlah anggota rombongan kami, tiga keluarga besar dari Gunung Tembak, Balikpapan Timur. Sekitar satu jam setelah meninggalkan Semayang sehari sebelumnya, KM Nggapulu sudah bergoyang disambut liukan ombak Selat Makassar.
Kapal milik PT Pelayaran Nasional Indonesia (PELNI) ini semula dijadwalkan berangkat dari Balikpapan pukul 16.00 Wita. Jadwal ini tertulis di tiket keluarga Khairul Amri, kerabat dekatku, yang dibeli jauh-jauh hari melalui sebuah agen tiket di Balikpapan. Begitu pula dengan jadwal pada tiket keluarga Syamsu Rijal Palu yang juga dibeli bukan di kantor PELNI.
Berangkatlah tiga rombongan keluarga dengan mobil pengantar masing-masing pada pagi hari, Selasa (29/07/2014). Begitu tiba di Pelabuhan Semayang sekitar pukul 12.25 Wita, seseorang dari keluarga Ahmad, rombonganku, mengecek tiketnya yang dibeli lebih belakangan dari tiket keluarga Amri dan Syamsu Rijal. Tiket itu dibelinya langsung di loket penjualan kantor PELNI Balikpapan pada Sabtu (26/07).
Sungguh mengejutkan. Pada tiket yang dibeli keluarga Ahmad itu, tertera jadwal keberangkatan berbeda. KM Nggapulu tertulis akan berangkat pukul 21.00 Wita. Rupanya terjadi perubahan jadwal keberangkatan kapal, dari jam 4 sore mundur ke jam 9 malam. Artinya, kami dan para calon penumpang lainnya harus menunggu sangat lama. Entah mengapa jadwal di tiket berbeda-beda.
Tak ayal, ribuan penumpang termasuk yang datang lebih dulu dari kami terpaksa menunggu berjam-jam di pelabuhan nan sesak dan gerah. Semayang pada H2 Lebaran Idul Fitri 1435 H itu benar-benar padat. Apalagi ada ‘tambahan’ calon penumpang KM Bukit Siguntang tujuan Pare-pare, Sulawesi Selatan (Sulsel) yang dijadwalkan berangkat setelah Nggapulu.
Penghafal Qur’an Penjaga Barang
Panasnya cuaca Balikpapan membuat bayi mungilku yang baru berusia 1 bulanan beringsut dalam gendongan ummi-nya. Tangisannya sesekali mencuat melawan terik matahari. Untungnya ia lebih banyak bersabar. Mengalahkan kesabaran sejumlah wanita dalam rombonganku yang memendam beribu rasa akibat lamanya waktu delay Nggapulu.
“Tahu begini lebih baik kita pergi sore aja (dari Gunung Tembak),” ketus ketua rombonganku.
Agar kesabaran dan tenaga tak habis sia-sia di pelabuhan, kami mengatur siasat. Kalau balik ke rumah butuh tenaga dan biaya lebih besar. Usai shalat Zhuhur jamak Ashar, hampir semua dari 9 orang anggota rombonganku beristirahat di Masjid Istiqomah, sekitar 1 km dari pelabuhan. Sementara aku sendiri bertugas menjaga tumpukan barang di bawah tenda tambahan yang disediakan pihak PT Pelabuhan Indonesia.
Meski tempat istirahat tersebut gratis, namun kami harus membayar tikar karung yang banyak dijajakan pedagang asongan. Harganya Rp 30 ribu jika membeli 3 lembar, masing-masing seukuran sekitar 1×1 meter persegi. Kebanyakan calon penumpang lebih memilih membeli tikar itu daripada duduk lesehan di lantai ‘ruang tunggu’ yang tak bisa dibilang bersih.
Dua rombongan kami lainnya, keluarga Amri dan Syamsu Rijal, yang sudah tahu keterlambatan kapal, menyusul istirahat di Istiqomah, masjid sekaligus Islamic Center milik PT Pertamina.
Jelang sore hari, datang dua orang utusan keluarga Syamsu Rijal, yaitu Muzhirul Haq (Ujil) dan Mukrimul Haq (Ulim). Saya beruntung, kedua kakak-beradik ini sudi menemani kesendirianku. Kami pun bergantian shalat pada waktu Maghrib jamak Isya di mushalla pelabuhan.
Selain ditemani canda, diskusi, serta berbagai jenis makanan-minuman, berkali-kali Ujil dan Ulim membaca mushaf al-Qur’an masing-masing untuk mengisi waktu. Maklum, keduanya penghafal al-Qur’an yang rutin mengulang-ulang hafalannya.
![Ujil dan Ulim menunggu kedatangan KM Nggapulu di Pelabuhan Semayang Balikpapan sambil mengulang hafalan al-Qur'an [Foto: Syakur]](https://hidayatullah.com/engine/files/2014/08/8543-Penumpang-pelabuhan-Semayang-Balikpapan-by-Syakur.jpg)
Jelang pukul 21.00 Wita, tiga rombongan keluarga kami sudah kembali ke pelabuhan. Sekitar 40 menit kemudian kami masuk ruang tunggu yang sebenarnya; lebih bersih, tertutup dan tersedia kursi-kursi. Bukan pekerjaan mudah mengangkut berpuluh-puluh barang dari dalam ke luar ruang tunggu. Para lelaki dewasa dalam rombongan pun jadi ‘buruh bagasi’ dadakan.
KM Nggapulu yang datang dari Makassar, Sulsel, baru sandar di Semayang sekitar pukul 22.31 Wita dalam catatanku. Sekitar 10 menit kemudian para calon penumpang tujuan Pantoloan-Tolitoli naik ke kapal. Aku segera mengawal istriku yang menggendong sang bayi. Enaknya di pelabuhan Balikpapan, turun-naik penumpang diatur cukup baik. Sehingga calon penumpang tidak terlalu berdesak-desakan menuju kapal.
Bahkan untuk masuk ke ruang tunggu saja sangat ketat. Setiap calon penumpang wajib menunjukkan tiketnya di tangan kepada petugas. Kalau tidak, jangan harap bisa masuk ruang tunggu, apalagi masuk kapal tanpa tiket. Seperti yang dialami seorang keluargaku, akibat tiketnya yang aku belikan masih kubawa dan belum sempat kuberikan padanya.
Penumpang Menangis karena Jendela
Penuh perjuangan dan keringat untuk memindahkan barang-barang ke atas kapal. Hitung-hitung daripada membayar buruh bagasi pelabuhan. Lelah dan letih akhirnya terbayar ketika semua rombongan sudah dapat tempat masing-masing. Semuanya ekonomi, kecuali istriku, bayinya, dan mamaku yang sudah lansia. Meski akhirnya KM Nggapulu baru berangkat sekitar pukul 00.00 Wita.
Ini berarti kami telah melewati ‘dua hari’ di pelabuhan Semayang, pada Selasa siang-malam dan Rabu (30/7/2014) pagi dinihari. Bayangkan, rombonganku berangkat dari rumah sekitar pukul 11.00 Wita. Rombongan Syamsu Rijal malah sekitar jam 9 pagi. Belum meninggalkan Balikpapan saja tenaga kami sudah terkuras. Ketika lelah itu belum hilang, goyangan ombak di laut antara pulau Kalimantan dan Sulawesi sudah menerjang. Sebagian penumpang pun termuntah-muntah.
Ada yang lucu. Dua keponakan kembarku, Aidan-Aidin, saat itu menempati kelas ekonomi di dek 5 bersama ayah-bundanya dan para rombongan. Suatu saat keduanya diajak orangtuanya menjenguk neneknya di ruang Kelas 1B yang fasilitasnya ekslusif. Ruang ini punya empat ranjang, namun hanya diisi mamaku, istriku dan bayinya. Kamar mandinya lebih bersih daripada kamar mandi ekonomi. Harga tiketnya tentu lebih mahal.
Namun saat dibawa ke sini, Aidan-Aidin malah tidak betah. Keduanya meminta kembali ke ruang ekonomi sampai menangis-nangis.
“Kapal! Kapal!” ujar mereka nyaris serempak sambil meronta-ronta.
“Ini sudah kapal! Ini juga di kapal!” jawab orangtuanya menjelaskan. Namun tidak digubris.
Akhirnya si kembar dibawa kembali ke ruang ekonomi. Tangisnya pun terhenti. Rupanya, keduanya menganggap bahwa ruang Kelas 1B yang tertutup bukan seperti di atas kapal. Sementara ruangan ekonomi yang terbuka, yang terlihat para penumpang lainnya, dan ada jendelanya yang menampakkan pemandangan laut, dirasakan oleh si kembar betul-betul di atas kapal.
Sampai di Tolitoli, setiap melihat laut, Aidan-Aidin selalu berteriak, “Kapal ee, kapal ee!” Mereka selalu kepingin naik kapal. Padahal, orangtuanya, omnya, rasa-rasanya sudah enggan naik kapal itu lagi jika harus kembali menunggu berjam-jam akibat delay setengah harian. Apalagi kalau membayangkan calon penumpang KM Bukit Siguntang yang lebih lama lagi menunggu.*