SAYA selalu tergelitik dengan ungkapan seorang kawan yang saat itu sedang menyelesaikan program doktoralnya di bidang studi gender. Waktu itu, kami sedang membahas tipe-tipe suami yang tak mau tahu urusan rumah tangga. Bahwa, tipe yang seperti ini ternyata bisa juga eksis di negara yang tidak lazim mempekerjakan PRT ataupun baby-sitter. Satu saja jawabannya : istri-istri mereka adalah wanita yang luar biasa.
Berangkat dari tema itu, kami kemudian mendiskusikan keberadaan PRT di tanah air. Dia lalu sedikit membelokkan arah pembicaraan. Bahwa negara maju adalah negara yang tidak banyak bergantung dengan negara lainnya untuk urusan domestiknya. Nah, demikian juga sebenarnya dalam rumah tangga. Sebuah keluarga bisa disebut maju bila berhasil mengelola sendiri urusan domestiknya.
Lebih lanjut, dia menyebut Jepang sendiri, sebagai contohnya. Jepang, meski luas daratannya hanya seperlima Indonesia, dengan kualitas tanah yang tak bisa dibilang subur, ternyata berhasil berswasembada beras. Tidak tanggung-tanggung. Beras mereka sangat bagus mutunya. Kalau tidak salah, ada sampai ratusan jenis. Siapapun saya kira tak sulit untuk setuju, bahwa beras Jepang itu enak sekali.
* * *
Semenjak Si Mbak tak lagi bekerja di sini, satu cita-cita yang saya bawa dari Jepang, akhirnya bisa saya wujudkan. Kenapa baru sekarang, setelah tiga bulan tinggal di Indonesia? Karena, satu-dua bulan pertama, saya tidak tahu bagaimana mewujudkan cita-cita ini. Saya masih dalam tahap mempelajari medan yang ada. Adaptasi lingkungan. Mencari celah dan membaca kebiasaan orang-orang di ibukota. Adapun bulan ketiga, ada Si Mbak yang jadi faktor penghalang baru.
Cita-cita itu adalah, tetap bisa mempertahankan kebiasaan memilah sampah rumah tangga.
Setelah lumayan sering menjelajahi daerah sekitar tempat tinggal, akhirnya saya tahu bahwa botol-botol minum plastik, kaleng bekas dan botol kaca, bisa saya berikan pada pemulung yang saya temui saat melintas di suatu jalan raya.
Sebenarnya, ini sudah saya pikirkan pada bulan kedua tinggal di sini. Tapi, hampir selalu, botol-botol plastik, kaleng atau kaca yang saya kumpulkan, lenyap begitu saja dari tempat pengumpulannya di ruang jemuran. Si Mbak selalu saja tak sabar melihatnya tergeletak di situ. Meski saya sudah katakan itu untuk pemulung. Tetap saja dia mengambilnya dan membuangnya bersama sampah basah.
Di suatu pagi, saya bisa merasa puas menuntaskan pekerjaan yang satu ini. Tumpukan botol plastik bekas itu berhasil saya lepaskan label plastiknya, membuka tutupnya, dan mengempeskannya dengan menginjaknya. Demikianlah cara pembuangan sampah di Jepang. Sebenarnya lebih seru lagi, karena tutup botol pun dikumpulkan secara terpisah. Tutup botol ini bisa diolah menjadi tempat duduk untuk di taman, misalnya. Atau bahkan diolah menjadi jaket yang cukup kuat menahan udara dingin.
Saya membayangkan bila Indonesia sudah seperti Jepang. Sampah rumah tangga dikelola langsung oleh yang punya rumah. Betapa banyak penghematan dan efektifitas yang bisa diraih. Bagaimana dengan opsi mendidik PRT agar bisa turut aktif memilah sampah?
Setelah melihat sendiri beberapa PRT dan, maaf, orang-orang pinggir –sekali lagi maaf–, saya agak pesimis. Kemarin, saya mampir di sebuah kedai kopi, toko donat. Hendak berbincang-bincang dengan seorang kawan. Karena perut kami sudah kenyang dan tenggorokan pun tidak kering, kami akhirnya memilih minuman jus dalam kemasan botol plastik. Petugasnya mengambil gelas plastik yang satu kali pakai. Saya katakan, tidak usahlah pindahkan isinya ke gelas plastik itu. Petugas seperti tidak ingin menuruti kehendak saya. Ia katakan, harus dituang ke gelas plastik. Saya tanya alasannya. Dia tidak bisa menjawab. Saya katakan, itu bisa mengurangi cucian piring kalian. Dia jawab lagi, itu gelas satu kali pakai. Saya jawab lagi, terimalah permintaan saya untuk mengurangi jumlah sampah.
Nah. Ini karena mereka tidak mendapat pendidikan yang cukup tentang pentingnya mengurangi jumlah sampah. Atau, karena kebanyakan orang tumbuh-besar dengan layanan dayang-dayang yang bernama PRT. Kalau di Jepang, karena semua orang mau tidak mau bertanggung jawab dengan sampahnya sendiri, tak ada PRT. Tak ada orang kecil yang bertugas mengurusi sampah di rumah orang lain. Karenanya, pendidikan terkait pentingnya mengurangi sampah ini, merata di semua lapisan. Petugas restoran biasanya akan mngucapkan terima kasih bila pelanggan menolak penggunaan alat yang sifatnya hanya satu kali pakai. Jangankan gelas plastik, sampai sumpit, garpu, sendok, dan juga kantong plastik sendiri.
Perkataan teman tentang definisi maju itu rasanya makin mudah saya mengerti. Barangkali menurut kebanyakan orang di sini, definisi maju itu adalah pakai hape sekian juta, naik mobil jaguar dan sejenisnya, mempekerjakan sekian orang pelayan di rumah, tak lagi menyentuh pakaian kotor atau memilah sampah. Padahal, secara kenyataan, dia adalah orang yang sama sekali tidak maju karena tak bisa mengelola secara mandiri urusan domestiknya, urusan yang bersifat pribadi.*/Nesia Andriana Arif, dari Jepang