Hidayatullah.com—Di Ghor, Afghanistan, dari hari ke hari semakin banyak wanita yang memutuskan untuk menyetir mobil sendiri, sebuah tren yang masih sulit diterima oleh budaya setempat.
Angela Sharifi belajar mengemudi satu tahun lalu. Dia bilang sekarang dirinya sudah mulai terampil mengendalikan kopling.
“Jauh lebih mudah dari perkiraan awal,” katanya sambil tersenyum. Di negara-negara lain, seorang wanita berada dibalik kemudi Toyota Corolla berwarna abu-abu adalah pemandangan biasa. Namun di Afghanistan kata Angela, itu pemandangan langka.
“Anda akan melihat para pria berjajar di pinggir jalan, menatap dengan mulut menganga. Mereka sangat terkejut, sehingga mereka hanya bisa berdiri diam di sana dan menatap,” kata Angela, dikutip Deutsche Welle (31/8/2012).
“Mereka melihat kami seperti melihat hantu. Sebagian pria bahkan mengatakan bahwa ini pertanda akhir zaman segera datang,” katanya sambil tertawa.
Angela adalah salah satu anggota dewan provinsi di Ghor. Dia tahu bagaimana membawa diri di lingkungan yang didominasi pria. Untungnya, orang-orang yang menatapnya bukan hanya dari kalangan laki-laki, dan setidaknya mereka tidak mengganggu atau melecehkannya, kata Angela.
Wanita itu mengatakan, suaminya mendukung dan mengajarinya cara mengemudi.
Chaghcharan, ibukota Provinsi Ghor, bukanlah kota yang tergolong maju. Kota itu masih tradisional dan hanya memiliki jalan beraspal kurang dari dua kilometer. Negara Afghanistan memiliki sekitar 12.350 kilometer jalan beraspal. Di kota itu tidak ada rambu lalulintas.
Sayed Muhammad Hasin Khan, kepala dinas perizinan kendaraan dan mengemudi, mengatakan bahwa dua kilometer jalan lagi akan diaspal sebelum musim gugur tahun ini. Disamping itu, rambu-rambu lalulintas akan dipasang.
Hasin Khan yakin, pada akhirnya kota itu akan memiliki infrastruktur jalan yang maju untuk kendaraan bermotor. Peraturan lalulintas nantinya akan diuji coba dahulu sebelum diimplementasikan.
“Tes untuk mendapakan surat izim mengemudi akan sama bagi pria maupun wanita, mereka akan diperlakukan sama,” jelas Hasin Khan.
“Setelah sekian lama, wanita-wanita Afghanistan membangun identitas baru mereka. Satu dekade terakhir membawa perkembangan positif yang menguntungkan masyarakat secara umum dan wanita, bahkan di provinsi-provinsi,” kata Dr Aql Sharifi.
Meskipun demikian, kata penanggungjawab masalah pembangunan dan perlindungan wanita di Komisi HAM Ghor itu, sebagian orang masih memandangnya sebagai fenomena baru. Sebagian lain bahkan menganggapnya sebagai tanda akhir zaman, dan sebagian lain menuding adanya penyusupan budaya asing atau westernisasi.
Menurut Sharifi, jumlah mahasiswa yang memiliki SIM semakin bertambah, dan bahkan mereka mengendarai mobil miliknya sendiri.
Di Kabul, ibukota negara Afghanistan, fenomena itu lebih menghebohkan.Dilansir Reuters (16/4/2012), tahun lalu Kabul mengeluarkan 312 SIM untuk wanita.
Sementara di Herat jumlah SIM untuk wanita yang dikeluarkan pihak berwenang berjumlah 64 dan di Mazar-e-Sharif jumlahnya mencapai 48 lembar SIM.
Suami-istri warga Kabul, Naderi dan Iqbal Khan, mellihat tren itu sebagai peluang membuka usaha. Keduanya mendirikan kursus mengemudi yang diberi nama ‘Naderi’.
Pada awal sekolah itu dibuka, mereka mendapatkan serangan verbal. Namun sekolah mengemudi itu kini memiliki setidaknya 80 siswa. Sebagian siswa bahkan berasal dari provinsi tetangga.
Mengingat angka buta huruf yang tinggi di kalangan wanita Afghanistan–sekitar 80% dari jumlah penduduk perempuan—Naderi dan Iqbal harus membacakan buku petunjuk kendaraan kepada para siswanya.
Sekolah mengemudi Nederi sudah mendapatkan pengakuan pemerintah. Bahkan pemerintah meminta para pegawai wanitanya untuk belajar mengemudi di tempat itu. Meskipun demikian, papan iklan sekolah mengemudi Naderi seringkali dirusak oleh orang tidak dikenal.*