Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Kisah & Perjalanan

(Menyeka) Air Mata di Hari Raya

Muhammad Abdus Syakur
Terakhir diupdate: 26 Mei 2020 05:56 5:56 am
Muhammad Abdus Syakur
Dipublikasikan 25 Mei 2020 22:15
Bagikan
Bagikan

“KAPAN lagi punya riwayat hidup pernah jadi khatib Idul Fitri,” penggalan pesan broadcast yang beredar di grup WhatsApp jelang Hari Raya Idul Fitri kemarin.

Pernyataan bernada pertanyaan ini ditujukan pada Idul Fitri tahun 1441H/2020M ini.

Ya! Lebaran kali ini, banyak Muslim yang melaksanakan shalat id tahun ini di dalam rumah bersama keluarga masing-masing. Alhasil, menjamur khatib id “dadakan” di rumah-rumah.

Seperti dilakukan Syaefullah Hamid yang berdomisili di wilayah dekat perbatasan Jakarta-Depok.

Sebagai kepala rumah tangga, pria yang berprofesi sebagai pengacara ini bertindak menjadi khatib dan imam shalat id.

Baca Juga

Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia mengunjungi Palestina dan Masjidil Aqsha
Keadaan Masjidil Aqsha dan Rakyat Palestina di Bawah Penjajahan Israel
Dakwah di Timor Leste: “Ustadz Pergi, Siapa Lagi yang Mengajari Kami Islam?” [2]
Dakwah di Timor Leste: “Ustadz Pergi, Siapa Lagi yang Mengajari Kami Islam?” [1]
Manis Asin Bisnis Si Kental Hitam
Syiarkan Tilawah al-Quran, Mahasiswa STAIL Selenggarakan “Touring Quran”

“Alhamdulillah selesai laksanakan tugas mengimami dan khatib Sholat Ied bersama istri, anak2 dan ponakan, semoga Covid-19 segera berlalu. Aaamiiin, ” tuturnya melalui Instagram @syaefullahhamid, Ahad pantauan hidayatullah.com.

Dzul Amal tak menyangka jika tahun ini ia harus berlebaran dalam suasana berbeda.

Warga Kalimantan Timur ini, sebagaimana umat Islam pada umumnya, menjalani Hari Raya Idul Fitri 1441H/2020M dalam suasana sangat berbeda dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Apalagi kalau bukan karena pandemi Covid-19 yang juga berdampak terhadap pelaksanaan ibadah umat beragama.

Di Kota Balikpapan, Kaltim, misalnya, pada salah satu wilayah di Kelurahan Teritip, warga menunaikan shalat Idul Fitri di berbagai tempat masing-masing.

Ada yang di rumah, ada yang di teras, ada yang di halaman, ada yang di jalanan. Ada pula sebagian yang melaksanakan shalat id di dalam masjid tapi jamaahnya sangat dibatasi untuk sedikit orang dengan kriteria tertentu saja.

“Di setiap sudut lorong, di setiap sudut kampung, bahkan di teras-teras rumah, kita saksikan terdapat kelompok-kelompok kecil yang sedang melaksanakan shalat Idul Fitri,” ujar Dzul Amal di Balikpapan melaporkan lewat channel Youtube-nya, Mari Balik, Ahad (24/05/2020).

Padahal, tahun-tahun biasa, shalat id selalu digelar pada satu ruang terbuka khusus yang dihadiri ribuan warga.

“Kita shalat di halaman rumah, ayahnya khatib dan imam,” tutur Zakiyah, warga Balikpapan, kepada hidayatullah.com.

Pelaksanaan shalat dan khutbah Idul Fitri 1441H di halaman rumah warga Kota Balikpapan, Kalimantan Timur, Ahad (24/05/2020).

Begitu pula yang dilakukan Hamka di Palopo, Sulawesi Selatan, menunaikan shalat id bersama keluarga di dalam rumah.

Sementara di Kabupaten Tolitoli, Sulawesi Tengah, menurut salah seorang warga setempat, ada warga yang terpaksa melakukan “gerakan tutup pintu” demi mencegah penyebaran Covid-19.

Di kawasan perbatasan Kota Depok – Cibinong, Kabupaten Bogor, sebagian umat Islam melaksanakan shalat id di rumah masing-masing. Ada pula yang tetap shalat di lapangan terbuka, namun hanya khusus bagi warga sebuah kompleks perumahan yang melakukan “lockdown” lokal sejak terjadinya pandemi.

Pada sebuah kompleks perumahan lain, di Cibinong, diterapkan aturan bahwa warga dilarang shalat id di luar kompleks. Bagi yang kedapatan melanggar aturan itu, maka sepulang dari shalat id harus menjalani karantina selama 14 hari.

“Tapi yang ke pasar, ke mall, gak apa-apa (gak dikarantina),” ujar seorang warga sekitar perumahan itu kepada hidayatullah.com, Senin (25/05/2020) saat berbincang ringan.

“Beda lebaran tahun ini, biasanya ada silaturahmi ke sana ke mari,” tutur Ummu Fayyad di Depok, Senin secara terpisah.

Bahagia yang Tak Sirna

Meskipun demikian, pandemi tak menggerogoti kebahagiaan umat Islam dalam berhari raya.

Untuk mengekspresikan kebahagiaan sekaligus bentuk kepedulian, Abu Afiq, warga di Cilodong, berbagi THR kepada anak-anak tetangganya pasca shalat id di kompleks kontrakan.

Menariknya, ia juga mengadakan kuis mendadak buat anak-anak dengan hadiah sejumlah uang tunai. Anak-anak tampak ceria mengikutinya.

Warga membagikan tunjangan hari raya (THR) kepada anak-anak tetangganya di Cilodong, Kota Depok, Ahad (24/05/2020). [Foto: Muh. Abdus Syakur/hidayatullah.com]
Siti Rahmah, seorang nenek asal Sulawesi di Balikpapan, tampak sedih karena anak dan menantunya di Pulau Jawa tak bisa berlebaran bersamanya. Namun kesedihan itu “terbayar” saat mengetahui anak dan menantunya tetap bisa melaksanakan shalat id berjamaah meski terbatas dan masih bisa menikmati Buras –makanan khas Bugis setiap lebaran– walau di kampung orang.

“Alhamdulillah ini lagi makan Buras habis shalat id,” tutur sang anak saat “mudik” secara virtual dengan ibu kandungnya, Ahad siang, melalui WhatsApp video call. Sang ibu tampak menyeka air mata mendengar penuturan buah hatinya.

Kristal bening juga mengalir di pelupuk mata Ahmad, warga Kabupaten Kutai Timur, Kaltim, saat melaksanakan shalat id di rumah saja bertiga dengan istri dan anaknya. Ini adalah peristiwa bersejarah dalam perjalanan hidupnya. Baru kali ini masjid dekat rumahnya tidak menggelar shalat Idul Fitri.

“Pas shalat (id), menetes air mataku ingat anak-anak di Depok,” tutur Ahmad kepada melalui sambungan telepon hidayatullah.com, melalui sambungan telepon, Ahad pagi, 1 Syawal 1441H.

“Jangan keluar-keluar dulu, di rumah saja (selama pandemi),” pesannya yang sering diulang saat berbicara dengan anak dan sang menantu.

Suatu kebahagiaan karena keluarganya di Pulau Jawa –yang merupakan wilayah episentrum wabah virus corona– masih sehat wal afiat, diharapkan betul-betul terhindar dari Covid-19.

Buras, makanan khas Sulawesi, Idul Fitri 1441H di Depok. [Foto: Muh. Abdus Syakur/hidayatullah.com]
Ketua Komisi Dakwah MUI, KH Cholil Nafis, mengatakan, sekalipun masih di tengah pandemi wabah Covid-19, namun umat Muslim harus tetap bersuka cita.

“Kita rayakan Idul Fitri dengan penuh kebahagiaan dan kebanggaan karena kita sudah melewati ujian dan latihan di bulan Ramadhan.

Dengan penuh keterbatasan saat pandemi Covid-19, jangan surutkan kebahagiaan dan kesenangan karena kita telah melewati bulan Ramadhan dan kembali pada kefitrahan kita,” kata Juru Bicara Satgas Covid-19 MUI ini, Jumat (22/05/2020) melalui keterangan tertulis.

Di Hari Raya yang masih tersisa ini, seka air mata, mari tetap bersuka cita sesuai porsinya. “Jangan lupa bahagia!” pesan orang-orang.*

Redaktur: Muhammad Abdus Syakur
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:air matacovid-19Idul fitriIdul Fitri 1441H/2020MLebaranvirus corona
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Gereja di Berlin Dipakai Untuk Shalat Jumat Akhir Ramadhan
Tulisan selanjutnya Imam Asy Syafi’i: Ilmu Kedokteran Ilmu yang Dilalaikan Umat

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Malaysia Resmi Batasi Media Sosial Anak, Siapkan Denda Rp45 Miliar bagi Pelanggar

Berita
2 Juni 2026 18:00
Kazakhstan Menawarkan Diri untuk Menyimpan Cadangan Uranium Iran
Perkuat Kompetensi Amil Zakat dan Nazir Wakaf, Kemenag Gelar Sertifikasi Profesi
Kementerian Kesehatan Gaza: 33 Orang Syahid Ditembak Israel saat Libur Idul Adha
MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat

Terbaru

  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
  • Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
  • ‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza
  • Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah
  • Perkuat Kompetensi Amil Zakat dan Nazir Wakaf, Kemenag Gelar Sertifikasi Profesi

Mungkin Anda Juga Suka

Kisah & Perjalanan

Aksara Jawi yang Masih Bertahan di Brunei Darussalam

21 Desember 2022 09:45
FeatureKisah & Perjalanan

Mendulang Rezeki dari Budi Daya Rumput Laut di Desa Kupang

10 Desember 2022 23:18
Kisah & Perjalanan

Piala Dunia 2022: Qatar Ubah Pertandingan Bola menjadi Keramahan Budaya Arab dan Keindahan Islam

9 Desember 2022 10:25
Kisah & Perjalanan

Turki dan Surga Kucing

4 Desember 2022 23:45
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?