AWAL November lalu, saya mendapat kesempatan untuk melakukan belajar ke Thailand tepatnya di Burapha University Chon Buri. Setibanya di Bandara Donmueang Bangkok saya langsung menuju Kota Chonburi dengan menggunakan bus sekitar 1,5 jam.
Chon Buri adalah kota yang terdekat dengan Bangkok, berlokasi di Timur Semenanjung Thailand dan berjarak hanya 80 km dari Bangkok. Wilayahnya melimpah dengan sumber daya alam, yang memiliki pantai indah dan menyenangkan, warna-warni lokal, tradisi, seafood yang lezat dan segar.
Sebagai mahasiswa yang sedang belajar di negera orang tentunya banyak hal-hal positif dan negatif yang kita akan peroleh, tertama dalam hal budaya, bahasa, pergaulan dan terutama makanan.
Makanan adalah hal yang sangat penting bagi saya ketika pertama kali datang ke Bangkok, cita rasa yang berbeda dengan makanan Indonesia mebuat saya agak kesulitan dalam hal memilih makanan, apalagi dengan memilih makanan yang halal.
Sulit pada awalnya menemukan makanan yang tepat dan terasa enak di lidah. Namun, lama kelamaan sebenarnya akan terbiasa dan semuanya terasa enak saja di lidah. Meskipun tidak semuanya akan terasa nikmat pada akhirnya.
Berkat bantuan saudara-saudara di Muslim Club, mencari santapan halal tidak terlalu sulit untuk ditemukan. Ada lumayan banyak tempat-tempat yang menjual khusus masakan halal. Begitu juga ketika berbelanja di minimarket, untuk mencari makanan yang halal kita tinggal melihat label halal dalam kemasan.
Satu hal yang saya alami ketika akan berbelanja, mereka tahu kalau kita bukan orang Thailand, dan mereka akan bertanya, “Muslim, Muslim..? Dan mereka memberikan isyarat dengan tangan, yang artinya makanan ini tidak boleh untuk orang Muslim, karena mengandung Babi. Begitulah cara penghormatan para penjual kepada kaum Muslim seperti saya. Hal seperti ini sangat berbeda dengan Indonesia.
Muslim Club
Perkembangan mahasiswa Muslim yang belajar di Burapha University selalu mengalami perkembangan, selain orang Thailand sendiri juga berasal dari berbagai Negara. mereka bergabung dalam suatu wadah bernama Muslim Club.
Komunitas ini adalah perkumpulan mahasiswa untuk melakukan kegiatan-kegiatan keagamaan, mulai dari pengajian, sholat berjama’ah, dan musyawarah. Untuk pengajian meggunakan bahasa Indonesia, dan ada juga pengajian yang menggunakan bahasa Thailand untuk mahasiswa/mahasiswi Thailand.
Setelah 4 hari kami berada di Burapha University, salah satu kegiatan dan usaha yang baru dibuka oleh Muslim Club adalah membuka kantin yang menyediakan makanan halal untuk mahasiswa Muslim.
Selain itu disekretariat Muslim Club dalam kampus juga dijadikan tempat pelaksanaan Sholat berjama’ah dan sholat Jum’at.
Gunawan, seorang mahasiswa S3 asal Lombok yang juga salah satu pengurus Muslim Club mengatakan, dulu sebelum terbentuk Muslim Club untuk melakukan Sholat Jum’at mahasiswa mengalami kesulitan, karena harus menuju satu-satunya masjid yang berada kota Chon Buri yang tempatnya sangat jauh dan berada dipinggiran kota.
Memang betul. Di saat saya dan teman-teman ingin melaksanakan sholat jumat di masjid Al-Hidayah, kami harus carter shomteo (angkot) pulang pergi sebesar 500 bath atau sekitar Rp. 200.000.
Namun setelah terbentuk Muslim Club, barulah diadakan Sholat Jum’at di dalam Kampus Burapha University.
Pihak kampus Burapha juga memberikan sikap yang sangat toleran terhadap Muslim/Muslimah yang sedang belajar. Mulai dari kebebasan menggunakan jilbab dan saling menghormati.
Merokok hal yang Bodoh
Ada sesuatu yang berbeda di Thailand khususnya jika kita berjalan di tempat-tempat umum di sana yang biasanya sering tidak kita jumpai di Indonesia. Saat berada di Kampus Burapha University, Chon Buri, Thailand, saya temukan banyak tanda larangan merokok.
Bahkan ada tulisan di beberapa tempat umum di Thailand yang berbunyi; “Smoking in this area prohibited”, “Fine 2000 baht” (Denda 2000 baht atau senilai Rp. 760.000), sebuah peringatan mengerikan bagi mereka yang kecanduan merokok.
Usut punya usut, merokok bagi masyarakat Thailand dipandang sebagai hal yang bodoh dan umumnya hanya dilakukan oleh orang-orang kelas bawah yang tidak berpendidikan, sehingga sebagian besar orang Thailand tidak mau disebut demikian.
Bahkan larangan merokok di Thailand juga tidak hanya di lakukan dalam bentuk peringatan denda jika merokok di area umum namun juga ada cara unik yang dilakukan pemerintah Thailand. Yaitu dengan cara mengganti gambar-gambar di kotak rokok menjadi gambar yang menyeramkan seperti gambar paru-paru rusak, gigi hitam, orang terkena sakit jantung, orang tubuh yang luka-luka, dan masih banyak lagi.
Menurut sejarah, sejak tahun 1939 pemerintah Thailand telah merencanakan untuk menjalankan bisnis tembakau itu sendiri. Caranya dengan mengambil alih pabrik tembakau Burapha Tembakau Co, Ltd Thailand. Kemudian Departemen Cukai Thailand yang berada di bawah Departemen Keuangan telah ditugaskan untuk mengambil kendali atas pabrik itu sejak 19 April 1939.
Dari kebijakan pemerintah Thailand itu bisa ditebak arahnya kenapa gambar-gambar seram mesti dipasang di bungkus rokok yang ada di negara tersebut.
Selain itu, jumlah perokok Thailand harus dikurangi habis habisan. Maklum rokok lokal kalah bersaing di sini. Bisa dibayangkan jika rokok lokal tersebut kalah bersaing dengan rokok impor, bisa dihitung devisa negara Thailand yang akan tersedot untuk membiayai pembelian impor rokoknya.
Itulah beberapa hal yang saya ketahui sebagai penyebab kenapa larangan merokok sangat gencar dilakukan di Negeri Gajah Putih ini. Selain masyarakatnya sangat peduli dengan kesehatan dan lingkungan, pemerintah Thailand pun sangat antisipasi dalam menghadapi kemungkinan-kemungkinan buruk yang akan terjadi di negaranya yang diakibatkan oleh rokok.
Selama di Thailand, jarang saya menemukan orang merokok di areal kampus, trotoar, halte, pasar, dan ditempat strategis mana saja, sebagaimana di Indonesia.
Etika tidak merokok di Thailand adalah cerminan bagi kita semua yang tentunya bermanfaat bagi kesehatan, membuat wajah tetap fresh, lingkungan tetap bersih, dan tidak terpolusi.*/Sulardi, penulis adalah mahasiswa Pascasarjana dan pernah belajar di Burapha University