Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Kisah & Perjalanan

Sebuah Resiko Maut Kasta Terendah di India

Ahmad
Terakhir diupdate: 6 Oktober 2018 19:53 7:53 pm
Ahmad
Dipublikasikan 6 Oktober 2018 19:31
Bagikan
Pembersih saluran pembuangan Kota Dhaka
Bagikan

Hidayatullah.com–Hampir setengah dari usianya, Virender, 33, bekerja sebagai buruh melakukan pekerjaan yang biasanya akan disebarkan ke komunitas kasta terendah di India.

Virender berasal dari Kasta Dalit dan berdasarkan latar belakang itu, harapannya untuk keluar dari kehidupan yang sulit sangatlah tipis.

Ini tidak berarti bahwa dia tidak memiliki keinginan untuk keluar dari sistem yang tampaknya menghukumnya untuk bekerja mencuci lubang got.

Meskipun diskriminasi kasta ilegal di India tetapi diterima oleh masyarakat.

Baca: Nonton Festival Navaratri, Pria Hindu Dalit Dipukuli Hingga Tewas 

Puluhan ribu pekerja kehilangan nyawa mereka, termasuk jumlah orang di Delhi selama beberapa tahun terakhir karena kondisi kerja yang berbahaya, menurut gerakan sanitasi pekerja ‘Safai Karamchari Andolan’ (SKA).

Baca Juga

Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia mengunjungi Palestina dan Masjidil Aqsha
Keadaan Masjidil Aqsha dan Rakyat Palestina di Bawah Penjajahan Israel
Dakwah di Timor Leste: “Ustadz Pergi, Siapa Lagi yang Mengajari Kami Islam?” [2]
Dakwah di Timor Leste: “Ustadz Pergi, Siapa Lagi yang Mengajari Kami Islam?” [1]
Manis Asin Bisnis Si Kental Hitam
Syiarkan Tilawah al-Quran, Mahasiswa STAIL Selenggarakan “Touring Quran”

Kelompok yang menjalankan kampanye berkenaan mengatakan pemerintah kota di India masih mengandalkan cara primitif dan mendesak peralatan modern digunakan untuk membersihkan selokan yang tersumbat, membersihkan kotoran, menyapu jalan, membersihkan septip tank atau pembuangan limbah.

Ratusan pekerja kebersihan dan keluarga mereka bergabung dengan pawai protes di New Delhi, menuntut agar pekerjaan kasar mereka dihentikan

Menurut pihak berwenang, kemajuan besar India dalam teknologi ruang angkasa dan rudal akan sia-sia jika prestasi ilmiah tidak membantu orang miskin.

“Negara lain turut meluncurkan misi ke ruang angkasa tetapi mereka menghentikan kematian pekerja pembersihan lubang pembuangan limbah. Mengapa kita tak bisa menggunakan peralatan modern untuk pembersihan itu? Apakah karena dilakukan oleh masyarakat Dalit?,” tanya Ashok Bharti, Direktus All India Ambedkar Mahasabha, organisasi yang memperjuangkan hak-hak komunitas Dalit.

Vrinda Grover, seorang pengacara menggambarkan kematian buruh yang mencuci lubang pembuangan limbah sebagai “pembantaian” karena pakaian keamanan tidak disediakan untuk mereka yang masuk ke dalam lubang untuk membersihkan selokan yang tersumbat.

Dia mendesak pihak berwenang untuk mengatasi sistem yang membuat pekerja sanitasi dilemahkan.

Terlepas dari keluhan-keluhan ini, pekerjaan penuh waktu dari perusahaan-perusahaan kotapraja lebih baik daripada mereka yang bekerja sebagai buruh kontraktor swasta dan di lingkungan sekitar.

“Setiap pagi saya ke Chowk (dataran umum) dan menunggu sekitar 50 sampai 100 orang yang lain. Mereka yang membutuhkan layanan kami tahu di mana ingin mencari kami. Ada kalanya kami dapat pekerjaan, ada kalanya tidak,” Virender memberitahu Bernama.

Baca: Kaum Kasta Terendah India Lebih Aman Peluk Islam

Jika ada pekerjaan, Virender akan menggunakan tangan dan sedikit peralatan seperti tongkat besi, tali dan ember.

Meskipun bertahun-tahun bekerja tidak menyenangkan, dia masih merasa mual dengan pekerjaan kotor itu.

“Ketika saya masuk ke dalam lubang dengan air kotor sampai ke pinggang atau dada, macam-macam benda bisa mengapung di sekeliling saya. Mungkin tikus mati, kotoran manusia atau pembalut. Rasa mual buat saya tak lalu makan berjam-jam setelah selesai kerja, “kata Virender, yang terlihat lebih tua dari usia sebenarnya. Perasaan sedih terpancar di kedua mata.* << (BERSAMBUNG>> diskriminasi kasta rendah masih banyak terjadi di India

Redaktur: Ahmad
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
12Halaman selanjutnya
TAG:DalitHindukastaksatriyamiskinSwachh Bharat
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Pendiri Al-Shabab Mukhtar Robow Dilarang Ikut Pilpres
Tulisan selanjutnya Di Usia 73 Tahun Wanita Zambia Raih Gelar MBA

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Pos Indonesia Gagal Bayar Bagi Hasil Sukuk Rp24 Miliar

Berita
14 Juli 2026 17:00
Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
Matinya Lindsey Graham, Senator AS Paling Vokal Bela ‘Israel’
MPR Singgung LGBT di Muswil BKPRMI DKI Jakarta, Ajak Pemuda Masjid Selamatkan Generasi Muda
Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak

Terbaru

  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
  • Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
  • Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
  • Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
  • Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
  • Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital

Mungkin Anda Juga Suka

Kisah & Perjalanan

Aksara Jawi yang Masih Bertahan di Brunei Darussalam

21 Desember 2022 09:45
FeatureKisah & Perjalanan

Mendulang Rezeki dari Budi Daya Rumput Laut di Desa Kupang

10 Desember 2022 23:18
Kisah & Perjalanan

Piala Dunia 2022: Qatar Ubah Pertandingan Bola menjadi Keramahan Budaya Arab dan Keindahan Islam

9 Desember 2022 10:25
Kisah & Perjalanan

Turki dan Surga Kucing

4 Desember 2022 23:45
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?