Hidayatullah.com- Dalam sejarah Mesir, menangkap dan membunuh wanita adalah sebuah aib. Namun, hal ini tidak berlaku dalam pemerintahan kudeta Mesir saat ini. Demikian disampaikan staf Kementerian Kesehatan pada zaman mantan presidan terguling, Mohammad Mursy, Dr Atef Abd. El Fattah Saad El Hadely) di Jakarta.
Atef Abd. El Fattah Saad El Hadely yang mengaku menjadi saksi hidup kerusuhan berdarah di Mesir akhir tahun 2013 ini mengatakan, sudah ada 40 wanita meninggal jadi korban. Menurutnya, mereka dibunuh oleh militer Mesir di bawah Jenderal Abdul Fatah Al Sisi. Para korban, baik yang berdemo di Rab’ah maupun daerah-daerah lain di Mesir.
“500 diantaranya telah ditangkap,” tambah Atef Senin (23/12/2013) kemarin.
Atef mengaku ini suatu hal yang bertolak belakang dalam budaya orang Mesir. Sejak dulu, budaya Mesir selalu memuliakan perempuan. Sebelumnya ada banyak aktivis Islam ditangkap, namun istri dan anak-anaknya tidak pernah diperlakukan buruk.
“Namun militer pimpinan Jenderal Al Sisi kali ini melakukan pendekatan berbeda, wanita juga menjadi sasaran kebiadaban mereka,” jelasnya.
Ia menilai, militer Mesir juga menggunakan peluru yang tidak biasa.
Hal lain yang ditemukan lelaki yang pernah menjadi dokter relawan saat perang di Jalur Gaza pada tahun 2009 ini adalah peluru-peluru militer. Pasalnya peluru-peluru itu memiliki daya ledak setelah masuk ke dalam tubuh sasarannya.
Atef menjelaskan, bahwa banyak teman-temannya yang menjadi korban mengalami kehancuran seperti ledakan bom. Beberapa detik setelah peluru masuk kepalanya akan meledak.
“Ini juga terjadi ketika mereka tertembak di dada. Saya melihat ada ledakan dalam tubuh dan organ tubuh berserakan keluar,” ceritanya.
Di sisi lain ia juga mengabarkan, meski banyak kadernya jadi korban, organisasi Al Ikhwan Al Muslimun (IM) akan tetap memboikot pemilihan presiden Mesir di masa pemerintahan kudeta saat ini.
Sebelumnya ia juga menyampaikan kerusuhan Mesir dan pembantaikan pada pendukung Pro Mursy ada keterlibatan Amerika dank Syiah-Iran.*