Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Kisah & Perjalanan

Pengalaman Terbang Bersama Ibu Hamil [1]

Muhammad Abdus Syakur
Terakhir diupdate: 1 April 2014 06:20 6:20 am
Muhammad Abdus Syakur
Dipublikasikan 1 April 2014 05:30
Bagikan
Bagikan

PAGI dinihari, mobil berplat hitam yang kami tumpangi melaju kencang di Jalan Tol Dalam Kota Jakarta. Sesaat kemudian, kami sudah tiba di Terminal 1 B, Bandara Internasional Soekarno Hatta (Soetta), Cengkareng, Banten. Saya agak kaget saat menyadari perjalanan ke bandara begitu cepat. Berangkat dari Cilodong, Depok, Jawa Barat sekitar pukul 02.55 WIB, kami tiba di Soetta pukul 03.47 WIB dalam catatan saya. Kurang dari satu jam. Maklum, selain supirnya piawai, jalanan juga masih lengang.

Pada waktu-waktu biasanya, butuh waktu 2 kali lipat lebih untuk menuju bandara karena macet. Untuk menghindari macet itulah, saya memilih penerbangan pagi. Rombongan kami akan meninggalkan Jakarta pukul 06.10 WIB sesuai jadwal di tiket.

Perjalanan pada Ahad (23/3/2014) kali ini agak berbeda dengan perjalanan sebelumnya. Biasanya saya selalu pergi sendiri. Tapi kali ini bersama 3 orang lainnya, yaitu Ustadz Budi, Anchal, dan Farida.

Anchal, kolega saya di Cilodong, mendampingi Budi, mertuanya yang habis menjalani terapi pengobatan stroke di Bogor. Farida, istri saya yang sedang hamil 6 bulan lebih, hendak melahirkan di kampung, Teritip, Balikpapan, Kalimantan Timur (kaltim). Inilah yang membuat saya agak was-was, khawatir dicegat pihak bandara.

Sebenarnya, kata teman-teman, kalau usia kandungan masih 6 bulanan tidak masalah naik pesawat. Tapi tetap saja ada kekhawatiran. Apalagi saat check in, terlihat sebuah banner berisi imbauan bagi pelanggan yang sedang hamil untuk melapor ke petugas.

Baca Juga

Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia mengunjungi Palestina dan Masjidil Aqsha
Keadaan Masjidil Aqsha dan Rakyat Palestina di Bawah Penjajahan Israel
Dakwah di Timor Leste: “Ustadz Pergi, Siapa Lagi yang Mengajari Kami Islam?” [2]
Dakwah di Timor Leste: “Ustadz Pergi, Siapa Lagi yang Mengajari Kami Islam?” [1]
Manis Asin Bisnis Si Kental Hitam
Syiarkan Tilawah al-Quran, Mahasiswa STAIL Selenggarakan “Touring Quran”

Usai shalat Shubuh di mushalla bandara, saya kembali kembali ke ruang tunggu B4. Masih satu jam lagi sebelum take off. Saya memilih tidur sejenak di atas kursi. Beberapa menit tidur, saya terbangun oleh sebuah pengumuman.

“Kepada para calon penumpang yang sedang hamil atau membawa bayi, diharap untuk melaporkan kepada petugas,” kira-kira begitu bunyi pengumuman pihak bandara dari pengeras suara.

Pengumuman ini berkali-kali disampaikan. Awalnya saya cuek. Tapi di bangku depan kami ada seorang bapak yang habis melaporkan istrinya yang sedang hamil. Saya berubah pikiran.

“Tadi dikasih apa sama petugas?” tanya saya pada bapak tersebut.

“Ini dikasih surat bermaterai,” ujarnya.

“Tapi bisa aja terbang ya?”

“Bisa!” jawab pria yang istrinya sudah hamil 7 bulan itu.

Karena tak jauh beda usia kandungan Farida, saya memilih melaporkannya ke petugas. Saya jelaskan sedikit perihal kondisi istri saya. Petugas di depan saya tercenung sejenak.

“Mestinya dari tadi dilaporkan,” ujar seorang petugas pria berseragam merah hati, sebut saja Ale, nama rekaan.

Ale lantas meminta lembaran Boarding Pass serta KTP saya dan Farida, lalu mengajak kami berdua pergi ke luar ruang tunggu. Kami digiring ke lantai bawah, menuju ruang pemeriksaan kesehatan. Dalam perjalanan ke situ, Ale bertanya pada saya.

“Bawa kan, mas? Yah untuk administrasi lah,” ujarnya setengah berbisik.

Awalnya saya bingung, namun akhirnya paham jika Ale menanyakan apakah saya membawa uang atau tidak. Uang itu saya tebak maksudnya untuk biaya pemeriksaan.
06664-Farida diperiksa petugas bandara-by Syakur
Suasana pemeriksaan oleh petugas kesehatan Bandara Soetta

Promosi ala Petugas Bandara

Tiba di tempat tujuan, seorang petugas berseragam coklat tua telah menunggu, sebutlah namanya Donim. Di ruangan berukuran sekitar 5×5 meter itu terdapat dua buah ranjang pasien. Setelah basa-basi sejenak, istri saya mulai diperiksa kondisinya.

Di tengah-tengah pemeriksaan, lekas saya tanya Ale.

“Mas, berapa biasa bayarnya nih?”

“Kasih aja Rp 50 ribu, mas,” jawabnya.

Hah? Saya tak percaya, tapi tetap menyiapkan sejumlah uang. Sementara Donim bekerja cukup profesional. Dari hasil pemeriksaannya, diketahui jika tekanan darah istri saya tinggi dan detakan jantungnya kencang. Tapi Farida saat itu –dan sebelumnya– tampak baik-baik saja. Tidak muntah-muntah pula.

Redaktur: Muhammad Abdus Syakur
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
12Halaman selanjutnya
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Partai Erdogan Menangi Pemilu Lokal
Tulisan selanjutnya Mega Tolak Isu Jokowi jadi Bonekanya

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Global Sumud FLotilla
Berita

Prancis Minta Pelecehan Terhadap Aktivis Gaza Flotilla oleh Israel Diselidiki

Berita
30 Mei 2026 09:51
Penjajah ‘Israel’ Luncurkan Serangan Skala Besar ke Lebanon Selatan
‘Israel’ Perketat Aturan Masjid, Pasang Pengeras Suara Harus Izin Zionis
Kazakhstan Menawarkan Diri untuk Menyimpan Cadangan Uranium Iran
Malaysia Resmi Batasi Media Sosial Anak, Siapkan Denda Rp45 Miliar bagi Pelanggar

Terbaru

  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

Mungkin Anda Juga Suka

Kisah & Perjalanan

Aksara Jawi yang Masih Bertahan di Brunei Darussalam

21 Desember 2022 09:45
FeatureKisah & Perjalanan

Mendulang Rezeki dari Budi Daya Rumput Laut di Desa Kupang

10 Desember 2022 23:18
Kisah & Perjalanan

Piala Dunia 2022: Qatar Ubah Pertandingan Bola menjadi Keramahan Budaya Arab dan Keindahan Islam

9 Desember 2022 10:25
Kisah & Perjalanan

Turki dan Surga Kucing

4 Desember 2022 23:45
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?