LANGIT di atas pulau Jawa dan Kalimantan digelayuti mendung. Pesawat berbadan putih dan berekor merah-biru yang kami tumpangi bergetar saat menabrak gumpalan awan. Saya memilih melampiaskan kantuk dan lelah yang tertahan. Farida, istri saya, juga tampak kelelahan. Beberapa jam kemudian, pesawat landing sekitar pukul 09.20 Waktu Indonesia Tengah (WITA).
Alhamdulillah, burung besi bernomor penerbangan SJ 160 ini mendarat dengan selamat. Kami disambut hujan yang juga mengguyur Balikpapan, Kalimantan Timur (Kaltim). Saat keluar pesawat, para penumpang langsung diarahkan ke terminal baru Bandara Internasional Sepinggan, Balikpapan, melewati garbarata. Sehari sebelumnya, Sabtu (22/3/2014), terminal perluasan ini diresmikan oleh Gubernur Kaltim Awang Faroek Ishak.
Saya dan Farida termasuk beruntung bisa menikmati fasilitas bandara baru. Arsitekturnya lebih moderen, catnya didominasi warna putih. Berbeda dengan terminal lama yang berarsitektur kedaerahan khas Kaltim, didominasi warna coklat dan tiang-tiang kayu berukir. Karena suasananya beda, kami seperti orang yang baru datang ke pintu gerbang Kaltim ini. Padahal saya sudah sering bolak-balik Jakarta-Balikpapan.
Bandara Sepinggan merupakan bandar udara terbesar di kawasan timur Indonesia. Terminal barunya memiliki luas meter persegi, dengan kapasitas 10 juta penumpang per tahun, yang dikerjakan sejak Agustus 2011 hingga Maret 2014. Total investasinya sekitar Rp 2 triliun.
Terminal baru bandara ini dilengkapi 11 unit garbarata, 74 konter check-in, 8 unit conveyor, dan apron seluas 140.900 meter persegi. Sebelumnya, Bandara Sepinggan mengalami kelebihan kapasitas, yaitu hanya 1,7 juta penumpang per tahun.
Menariknya, bandara kebanggaan masyarakat Kaltim ini merupakan bandara pertama berkonsep boutique mall, yaitu perpaduan antara mall dan bandara. Pengunjung juga diperbolehkan masuk ke dalam gedung terminal hingga area check-in.
“Ini akan menciptakan pengalaman yang unik di dalam bandara bagi para pengunjung, sekaligus upaya Angkasa Pura (AP) I dalam meningkatkan pendapatan non-aeronautika,” terang Operation Director AP I Yushan Sayuti seperti ramai diberitakan media-media nasional.

Setiba dari Jakarta pada Ahad (23/3/2014) pagi itu, saya dan Farida menunggu jemputan di lantai dasar bandara. Di sini suasananya agak gelap, penerangan mengandalkan cahaya matahari. Terlihat sejumlah mantan penumpang celingak-celinguk. Saya dan Farida benar-benar seperti orang baru di Balikpapan.