PAGI itu terdengar keributan yang sangat terusik bagi para tetangga dan masyarakat Amatutu saat mendengar di sekitar Kantor Kecamatan Amatutu ada perkelahian. Terjadi perkelahian yang sengit, antara aparat desa dan dua orang anak muda. Babak belur kedua pemuda ini dihajar oleh aparat desa, pasalnya pemerintah setempat tidak menginginkan dua orang anak muda itu meninggalkan ajaran yang baru saja dipeluk itu.
Petrus dan Bernad (bukan nama sebenarnya). Sebelumnya menganut agama Kristen Katolik. Dua orang anak muda itu memutuskan bersyahadan dan tak mau kembali kepada ajaran yang lama dianutnya.
Dua orang pemuda ini mengakui keputusan ini bukan atas dasar ajakan dan tekanan siapa-siapa mereka memeluk ajaran yang baru dianut, yaitu Islam.
Meski mereka berdua berusaha menjelaskan dengan lemah-lembut atas keputusannya, namun usahanya tetap gagal. Butut masalah ini, dua orang anak muda akhirnya diusir dari kampung halamannya oleh aparatur desa.
Dengan berbekal uang seadanya, merekapun berangkat menuju ke Kota Dili (Sekarang Timor Leste).
Meski berat meninggalkan keluarga besar dan kampung halaman, berbagai hambatan, tantangan, gangguan dan rintangan ia lewati demiki memilih jalan Islam.
Tak beberapa lama menetap di Kota Dili, Petrus melanjutkan perjalanan ke Tanah Jawa. Sedangkan Bernad melanjutkan perjalanannya ke Kota Kupang.
Inilah sepenggal kisah Bernad (sebelum berganti nama Muhammad Bukhori) yang kini berganti nama menjadi Muhammad Bukhori. Muhammad Bukhori kini merasa nyaman dan tentram tinggal di sebuah pondok pesantren di Kupang.
Bernad berkisah, keputusannya memili Islam bermula ketika ia tidur suatu malam dan bermimpi sedang dalam perjalanan ke hutan. Dalam mimpinya, tiba-tiba ia menemui seekor babi hutan besar, bertelinga panjang dan ingin menghampiri Bernad, seolah-olah akan menerkamnya. Karena tak ada persiapan yang dimiliki, dengan spontan Bernad bertakbir, “Allahu Akbar!” sekencang-kencangnya hingga babi itu hilang dari penglihatannya.
“Keesokan harinya saya menceritakan kejadian mimpi semalam kepada istri saya dan mengajak istri untuk memeluk ajaran agama Islam,” ujar Muhammad Bukhori kepada hidayatullah.com.
Alhamdulillah istri Bukhori mendukung keinginan suaminya. Selang beberapa hari ia mendatangi Petrus dan menceritakan kejadian dalam mimpinya. Rupanya tanpa pikir panjang lagi Petrus mau mengikuti ajakannya. Petrus adalah ipar dari Muhammad Bukhori.
Ketika awal meninggalkan keluarga besar di Timor Leste pada tahun 1994 tujuan bertamanya adalah Kota Kupang.
Sebenarnya taka da siapapun yang ia kenal di tempat ini. Ia berkelana dari satu masjid ke masjid yang lain untuk menyambung hidup. Beberapa bulan ia lakoni seperti ini tapi hasinya nihil memperoleh pekerjaan.
Atas kemurahan Allah Subhanahu Wata’ala, seorang ustadz dari Pondok Pesantren Hidayatullah di Kupang mengajaknya tinggal di lokasi pesantren.
Sejak bergabung dan mengabdi di Pondok Pesantren Hidayatullah Kupang, ia diamanahi membersihkan lahan yang penuh dengan semak belukar dan dikenal banyak ular.
Setiap hari yang dipegangnya adalah sabit, cangkul, parang dan tofa (sebutan orang Kupang, alat pembersih rumput) untuk membersihkan lahan seluas 7 hektar bersama beberapa santri.
“Tugas kerja saya itu membabat lahan, menyangkul dan membersihkan semak belukar, dan tidak sedikit ular. Beberapa kali pernah dipatuk ular berbisa tapi alhamdulillah masih diselamatkan oleh Allah Subhanahu Wata’ala. Sampai sekarang,” tutur ayah empat anak ini.
Karena keseriusan dalam bekerja, rekan-rekan seperjuangannya memberi gelar Bukhori ‘Sarjana Pertanian’. Alasannya karena lahan pondok pesantren ini sebagian adalah hasil kerjanya. Di mata rekannya, Aidil, Bukhori adalah pekerja yang luar biasa.
“Usianya semakin sore tetapi semangatnya masih pagi,” ujar Aidil.
“Ada cita-cita beliau yang belum kesampaian hingga hari ini,
yaitu berkeinginan menunaikan rukun Islam yang kelima; yaitu berhaji bersama istri tercinta, Siti Mutmainnah. Semoga Allah mengabulkan keinginan Pak Bukhori,” ujar Aidil.*/Abu Zain Zaidan (Kupang)