Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Ghazwul Fikr

Berita Terorisme dan McDonaldisasi Televisi [2]

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 18 Januari 2016 10:08 10:08 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 18 Januari 2016 10:08
Bagikan
Beberapa korban teror di Sarinah [ilustrasi]
Bagikan

Sambungan artikel PERTAMA

 

Oleh: Muh. Nurhidayat

 

Prinsip prediktabilitas ini akan membuat wartawan televisi menjadi ‘bodoh’, tidak lagi memiliki ‘sense of investigation’. Sehingga ketika terjadi pengeboman Alam Sutra pada 2015 kemarin, televisi juga ramai-ramai mengutip pendapat ‘terburu-buru’ dari seorang pegawai BNPT, yang menyebut pelakunya salah satu kelompok jaringan teroris Islam. Padahal tidak berapa lama kemudian polisi berhasil menangkap pelakunya, yang ternyata seorang non muslim.

Baca Juga

Amerika dan Perang Salib Baru?
Krisis Makna di Era Modern dan Jalan Kembali kepada Wahyu
SPI: Feminisme Hanya Melestarikan Konflik!
Tuduh Islam Kaku, Dokter Muda Kristen Ini Terbungkam saat Dengar Hujjah Buya Hamka
Syubhat Seputar Al-Qur’an: Benarkah Ada 2 Surah yang “Hilang”?

Sikap tidak cerdas lainnya ditunjukkan wartawan Metro TV, yang awal 2016 ini entah dapat ‘kabar burung’ dari mana, menyebut Wahdah Islamiyah dan ketua umumnya (Dr. Zaitun Rasmin) sebagai teroris. Televisi ‘biru’ itu sempat menyebut BNPT sebagai sumber referensinya. Tetapi tidak berapa lama kemudian, lembaga anti terorisme itu menegaskan tidak pernah memberi data ke Metro TV, bahkan juga tidak pernah sekalipun memasukkan nama Wahdah dan Dr. Zaitun sebagai perusuh.

Sejak kasus Bom Bali I tahun 2002 silam, hingga kini televisi tidak penah membuat reportase investigatif tentang seluk-beluk terorisme di Indonesia. Kalaupun sempat membuat liputan khusus, sumber beritanya juga sama, yaitu hasil press release dan jumpa pers yang digelar polisi dan BNPT. Padahal polisi dan BNPT adalah manusia biasa juga yang tidak luput dari kesalahan. Polisi pun sering salah tangkap. Bahkan beberapa orang tak berdosa terpaksa dipenjara bertahun-tahun, dan keluarganya malu karena dicap ‘teroris’ oleh masyarakat, hanya karena kasus salah tangkap.

Sudah semestinya televisi memberi fasilitas memadai kepada para wartawannya untuk melakukan investigasi atas kasus-kasus pengeboman yanag terus saja mengguncang Indonesia. Jika televisi berhasil mengungkap seluk-beluk terorisme di negeri ini, maka televisi akan membantu polisi untuk menumpas terorisme. Sehingga bangsa ini akan aman dan damai. Para kru televisi pun akan semakin dicintai kaum muslimin, penduduk terbesar Indonesia, sekaligus penonton layar kaca terbanyak, yang selalu terganggu nama baiknya setiap ada pengeboman dan kasus terorisme lainnya.

Namun demikian, sejujurnya penulis juga sangat kasihan terhadap para wartawan ‘layar kaca’. Prinsip prediktabilitas yang diterapkan stasiun televisi memang seakan membuat wartawan kehilangan ‘kecerdasan’ apalagi daya kritisnya. Televisi tanpa disadari memperlakukan wartawannya bukan sebagai pekerja (manusia), tetapi seperti robot yang nilainya setara dengan alat produksi material lainnya (bukan manusia). Dengan kata lain, McDonaldisasi televisi menciptakan dehumanisasi bagi para wartawannya.

Dehumanisasi seperti ini pernah menimpa seorang kameraman senior sebuah televisi swasta. Suatu ketika ia ditugaskan meliput berita di TKP. Dalam perjalanan menuju lokasi TKP, ia mengalami kecelakaan lalu lintas. Ia pun dilarikan ke rumah sakit. Ketika ia menghubungi kantornya melalui ponsel, manajemen televisi tidak menanyakan tentang diri pribadinya, seperti, “Bagaimana keadaanmu? Luka parah enggak?”. Tetapi manajemen justru hanya bertanya, “Gimana kameramu? Rusak enggak?”

Kontrol

Prinsip kontrol McDonaldisasi menjadikan perusahan terlalu mengandalkan (untuk tidak dikatakan: memuja) teknologi. Jika pada prinsip prediktabilitas seorang wartawan (manusia) disamakan dengan alat produksi lain (bukan manusia), maka pada prinsip kontrol ini ‘nilai’ wartawan dianggap lebih rendah daripada teknologi.

Prinsip kontrol membuat wartawan televisi harus memiliki banyak keahlian (multy skilling) yang mendukung tugas-tugas jurnalistiknya. Maka tidaklah mengherankan saat ini ada reporter merangkap kameraman, sekaligus juga produser berita. Malah ada pula stasiun televisi yang menugaskan penyiar beritanya (news anchor) seperti penjual sate. Semuanya nyaris dikerjakan sendiri. Sehingga dia yang mewawancarai sumber berita di TKP, dia yang merekam gambar TKP dengan kamera, dia pula yang membuat naskah beritanya, hingga akhirnya dia sendiri lah yang membacakan beritanya di studio. Untungnya, dia tidak ditugaskan menjadi sumber berita (mewawancarai dirinya sendiri) sekaligus.

Fenomena ini dikritik oleh Ritzer dalam Franklin (2005), yang mengungkapkan bahwa prinsip kontrol pada McDonaldisasi mengakibatkan terjadinya pengurangan karyawan. Banyak  wartawan dan karyawan produksi televisi kehilangan lahan pekerjaan mereka. Jika ada yang bertahan, mereka dibebani konvergensi tugas (multy role), namun nilai salary-nya hanya untuk satu beban tugas saja.

Maka tidak mengherankan jika Aliansi Jurnalis Independen (AJI) selalu meminta media massa, terutama televisi untuk menaikkan salary wartawannya, yang selama ini masih jauh dari standar kesejahteraan, apalagi jika dilihat dari banyaknya pekerjaan yang harus dilakukan wartawan.

Irasionalisasi 

Penerapan 4 prinsip McDonaldisasi (efisiensi, kalkulabilitas, prediktabilitas, serta kontrol) yang masing-masing memiliki kelemahan, ternyata juga melahirkan kelemahan baru. Kelemahan baru inilah yang dikenal sebagai prinsip ke-5 McDonaldisasi, yaitu irasionalisasi. Kelemahan ini akan memicu kebalikan dari apa yang diharapkan manajemen. Seperti ‘efisiensi’ menjadi ketidakefisienan, ‘prediktabilitas’ menjadi ketidakpastian, ‘kalkulabilitas’ menjadi kesulitan dalam kalkulasi, serta kontrol menjadi kehilangan kontrol itu sendiri.

Kasus bom Thamrin pun secara langsung maupun tak langsung, juga mengungkap betapa buruknya McDonaldisasi pada televisi. Banyak televisi berusaha menjadi ‘yang pertama’ dalam pelaporan berita terorisme. Akibatnya, televisi—secara langsung maupun tidak langsung—memaksa wartawan untuk bersikap irasional. Mudah percaya ‘kabar burung’ yang beredar di media sosial. Lalu ‘kabar burung’ yang ternyata ‘hoax’ (kata para netizen media sosial) dilaporkannya tanpa cek dan ricek terlebih dahulu, sehingga terjadilah kepanikan sosial di ibukota. Untung saja kepanikan sosial itu tidak berujung chaos yang sangat berbahaya, seperti kerusuhan Mei 1998 silam.

Penyebarluasan berita ‘hoax’ tidak sejalan dengan etika jurnalistik. Jauh-jauh hari, Karl Jasper (1955) berkata, “Kenenaran adalah hal prinsip. Sehingga pers (media) berkewajiban menyajikan kebenaran sebagai standar aktivitas jurnalistik. Dengan demikian, berita media diharapkan bisa menjadi ‘cermin’ dari realitas yang sesungguhnya.”

Para pemilik dan pengelola stasiun televisi berita hendaknya sebisa mungkin menjauhi McDonaldisasi. Sebab model pengelolaan yang buruk itu pada akhirnya dapat menjerumuskan wartawan untuk melaporkan berita yang dapat meresahkan masyarakat.

Penulis yakin, sebagai insan beragama, para wartawan televisi tidak ingin mendapat ancaman dari Allah subhanahu wata’ala, “Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar perbuatan yang sangat keji itu (berita bohong) tersiar di kalangan orang-orang beriman, mereka mendapat azab yang pedih di dunia dan di akhirat.” (QS. 24 : 19). Wallahua’lam.*

Penulis dosen Ilmu Komunikasi Universitas Ichsan Gorontalo

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:beritahoaxinvestigasijumpa persMcDonaldisasipraduga tak bersalahtelevisiterorisme
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya “Sarjana Pertanian” Itu Dikucilkan Warga Desa Karena Memilih Islam
Tulisan selanjutnya PBB: Tentara Burundi Melakukan Pemerkosaan, Penculikan dan Pembunuhan

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak

Berita
17 Juli 2026 14:04
Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital
Croissant Viral Bergaya Vulgar Tak Penuhi Syarat Sertifikasi Halal, Ini Penjelasan MUI
Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air

Terbaru

  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
  • Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
  • Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
  • Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
  • Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
  • Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital

Mungkin Anda Juga Suka

Ghazwul Fikr

Pluralisme dan Sekularisme: Sebuah Proyek (Seri 2)

25 Juni 2025 15:30
Ghazwul Fikr

Pluralisme dan Sekularisme: Sebuah Proyek (Seri 1)

25 Juni 2025 14:09
ArtikelGhazwul Fikr

Populernya Hamas, Meredupnya Otoritas Palestina dan Mahmoud Abbas

22 November 2023 12:10
ArtikelGhazwul Fikr

6 Narasi Sinisme Perjuangan Palestina = Propaganda Zionis

10 November 2023 16:45
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?