Sambungan dari kisah ketiga
INI memang kedatangannya ke Italia yang pertama kali, sekaligus negara pertama yang dikunjunginya di Uni Eropa.
Namun, kunjungan perdana ini telah mampu membuat Suharsono, penulis buku The Dome of The World, menjadi kapok tak ketulungan.
“Saya akan menolak bila ada yang meminta untuk tinggal di Eropa,” tegasnya dalam perjalanan studi lapangan untuk bukunya tersebut.
Riset lapangan ini diagendakan berlangsung sekitar dua pekan, pada pertengahan hingga akhir Agustus 2017.
“Masak untuk makan siang dengan menu sederhana saja, kita harus merogoh kocek sebesar 200 ribu rupiah. Mending makan di warung Padang saja,” candanya mengomentari biaya kuliner di Italia yang harganya selangit, setidaknya untuk kantong orang Indonesia.
Baca juga: Membelah Benua Biru, Menuju “The Dome of The World”
“Apatah lagi negara-negara Eropa akan menjadi rumah besar yang sepi, karena tingkat pertumbuhan penduduknya yang sangat minim,” tambah peneliti Lembaga Studi Pengembangan dan Peradaban (LSIPP) ini dengan nada serius.
Saat ini, Suharsono sedang menuntaskan buku The Dome of The World, buku ilmiah yang mengupas perjalanan peradaban Islam dan Kristen di muka bumi ini.
Dalam perjalanan ini, agenda sang penulis mengunjungi negara Uni Eropa lainnya, semisal Belanda, Jerman, Belgia, dan Perancis.
“Saya ingin mengumpulkan lebih banyak data agar tulisan saya lebih berbobot dengan tambahan data dari kunjungan langsung ke negara-negara tersebut,” terangnya kepada penulis di sela-sela perjalanannya tersebut.
Baca juga: Di Kota Roma, Saudara dari Bangladesh itu ‘Meminjamkan’ Minimarketnya…
Ia mengaku, dengan mengunjungi Vatikan, pusat komando kaum Katolik sedunia dan melihat langsung gereja terbesar di dunia, “menambah inspirasi tulisan untuk buku saya tersebut,” pungkasnya.* Bersambung/Diceritakan untuk hidayatullah.com oleh Naspi Arsyad, peneliti LSIPP, penulis buku “The Dome of The World”