URJA Sujana menyampaikan sejumlah pengumuman terkait Masjid Nurul Iman. Rumah ibadah ini baru saja rusak dihantam gempa.
Belum selesai Urja bicara, tiba-tiba terdengar suara bergemuruh dari kejauhan.
“Gempa! Gempa!” Jamaah masjid itu sebagian langsung berhamburan keluar.
***
Rabu malam, 24 Januari 2018, lima orang relawan menjalankan tugas berangkat ke Kabupaten Lebak, Banten. Mereka hendak melakukan assessment (penilaian) sebagian tindak lanjut bantuan pasca bencana gempa bumi yang terjadi pada Selasa (23/01/2018).
Setelah menyisir beberapa desa, Kamis (25/01/2018) yang diikuti dengan pelaksanaan event Sehat Peduli Gizi untuk warga korban gempa di Desa Ciherang, Kecamatan Cibeber, Lebak, keesokannya, Jumat (26/01/2018), tim bergerak ke Kampung Pasir Kanyere, Kecamatan Panggarangan.
“Dari Ciherang ke Kanyere itu perjalanan satu setengah jam, jalannya cukup menantang adrenalin, bebatuan rata-rata,” ucap Dhiyauddin salah seorang relawan kepada hidayatullah.com baru-baru ini.
Tak seperti di Ciherang, Kampung Karenye lebih parah kondisinya pasca gempa.
“Di Karenye kami terkejut karena ternyata banyak rumah yang tak lagi bisa digunakan, warga pun mengungsi ke tenda-tenda yang disediakan BPBD dan Polda Banten,” katanya.
Waktu sudah menunjukkan pukul 10.30 WIB. Tim relawan memutuskan istirahat di mobil sembari bermusyawarah terkait langkah berikutnya, termasuk soal bagaimana pelaksanaan shalat Jumat.
Ternyata, di Masjid Nurul Iman, warga masih bisa menjalankan ibadah Jumat. Meskipun tanda-tanda akan shalat Jumat dilakukan baru terlihat pada pukul 11.30 WIB. Tim relawan pun bergabung ikut Jumatan.
Pukul 11.45 WIB, Ketua DKM Masjid Nurul Iman, Bapak Urja Sujana, menyampaikan beberapa pengumuman terkait rencana renovasi masjid yang rusak akibat gempa.
Namun, siapa duga, belum selesai ia menyampaikan pengumuman, mendadak terdengar suara gemuruh dari kejauhan yang perlahan merambat, lalu terdengar kian kencang setelah beberapa detik.
Ini pertanda terjadinya gempa. Menyadari itu, salah seorang jamaah mengeraskan suara istighfarnya. “Astaghfirullahal adzim.” Dan, suara itu semakin dia keraskan.
“Jamaah pun kaget, termasuk saya yang sedang membaca al-Qur’an,” terang Dhiyauddin.
Selang berapa lama, masjid pun bergoyang. Seketika jamaah berhambur keluar masjid guna menyelamatkan diri. Karena suasana begitu panik, sementara pintu masjid yang terbuka hanya bagian sebelah, beberapa jamaah harus rela mengalami cedera, terdesak dan terjepit.
Suara Ketua DKM masjid yang menyampaikan pengumuman tak lagi dihiraukan. Beruntung gempa dengan kekuatan 5,2 SR itu tidak berlangsung lama. Kedua DKM pun kembali memanggil jamaah agar masuk ke dalam masjid.
“Jamaah kembali, lalu duduk. Tapi nampak sekali, rasa cemas sangat kuat terpapar dari wajah-wajah mereka,” tutur Dhiyauddin.
Ketua DKM pun memberikan nasihat. “Seharusnya kita beristighfar kala terjadi musibah seperti gempa barusan. Jangan panik langsung lari, lihat tadi ada yang terjepit bukan. Mungkin ini peringatan dari Allah agar kita semua warga Kampung Pasir Kanyere lebih rajin dalam ibadah kepada Allah,” ucapnya.
Dhiyauddin bersama keempat temannya yang sama-sama dari Laznas BMH itu merasakan langsung guncangan gempa yang terjadi tidak jauh dari pusat gempa itu. Pekan itu, setidaknya tiga hari berdekatan kawasan Lebak dihantam gempa berbagai skala.
“Ini pengalaman pertama dalam hidup saya. Benar-benar luar biasa. Di sini gempa diawali suara gemuruh yang mendebarkan dan menakutkan. Wajar jika orang-orang spontan beranjak dan berlari. Padahal saat gempa berlangsung, hujan sedang turun.
Saya benar-benar teringat dengan apa yang Allah jelaskan di dalam al-Qur’an. Saat bumi diguncangkan dengan seguncang-guncangnya. Dan, manusia seperti anai-anai.
Ini, kan, baru gempa kecil, tapi masya Allah, kejadiannya sangat membuat warga trauma. Bagaimana jika hari akhir kelak, kiamat terjadi. Benarlah al-Qur’an mengatakan manusia akan lari menyelamatkan diri sampai ibu lupa bayinya, bapak lupa anaknya,” tutur Dhiyauddin dengan mimik sangat serius.
Meski demikian, karena kedatangannya ke Kampung Pasir Karenye adalah bagian dari tugas untuk membantu sesama, Dhiyauddin tidak “kapok” untuk kembali datang ke Lebak.
Baca: Gempa, Karyawan Gedung Bertingkat di Jakarta Dzikir Berjamaah
“Insya Allah, BMH akan tetap datang kembali, tentu setelah keputusan program ditetapkan. Sementara ini, kami langsung melakukan trauma healing dengan kemampuan yang terbatas. Tentu saja kita harus kembali untuk membantu menghadirkan semangat bagi warga terdampak musibah gempa, terutama anak-anak.
Ia berharap, musibah gempa ini semoga menjadi pengingat bagi semua umat manusia bahwa manusia tidak ada apa-apanya.
“Sedikit Allah goyang bumi ini dengan gempa, kebinasaan seperti benar-benar telah tiba. Manusia berlari terbirit-birit, lupa tetangga, lupa keluarga bahkan lupa dunianya,” pesan santri asal Pesantren Hidayatullah Balikpapan, Kalimantan Timur ini.*