Hidayatullah.com- Ujian dari Allah itu datang pertengahan tahun 2016 lalu. Saat itu saya sedang santai bersama kerabat dalam kondisi berbaring. Tanpa sengaja tangan ini menyentuh bagian dekat dada. Betapa kagetnya saya karena menemukan benjolan di sebelah kiri.
Saya tidak menghiraukan benjolan tersebut. Namun setelah berbulan-bulan benjolan tersebut mengeras dan sesekali menyakitkan bagian dada. Mulai saat itu saya merasa curiga bahwa benjolan itu tidak biasa.
Setelah melalui berbagai pemeriksaan akhirnya saya divonis kanker payudara stadium 2B. Kendati demikian saya tetap menjalankan aktifitas seperti orang sehat pada umumnya. Namun anak saya mendesak agar kanker tersebut segera dioperasi. Akhirnya saya dibawa ke sebuah rumah sakit di Bekasi, sebelum rumah sakit di Bekasi tersebut merujuk agar operasi tersebut dilakukan di sebuah rumah sakit besar di Jakarta
Selama tiga bulan saya bolak balik ke rumah sakit di Jakarta tersebut. Tetapi pihak rumah sakit mengatakan bahwa mereka kehabisan obat berbentuk cairan yang bisa mendeteksi hasil biopsi tersebut. Bismillah, akhirnya selain ikhtiar dalam bentuk medis saya juga mengkonsumsi herbal. Alhamdulillah, setelah dua tahun berjalan masa biopsi, saya merasa sehat dan memutuskan berhenti konsumsi herbal yang cukup mahal.
Setelah merasa sehat saya mengalihkan uang yang sebelumnya untuk beli herbal untuk dana awal mendirikan tempat belajar al-Qur’an. Sampai kini rumah al-Quran tersebut masih berjalan dengan jumlah anak yang belajar sampai 100 orang dan tenaga pengajar 10 relawan.
Tetapi, di tengah-tengah kesibukan saya melupakan cek benjolan tersebut yang seharusnya rutin dilakukan tiap beberapa bulan sekali.
Sampai suatu hari, kondisi tubuh merasa drop dan merasakan nyeri hebat, sehingga saya tidak bisa tidur selama sepekan. Setelah itu, kondisi saya berangsur membaik, tapi meninggalkan bekas luka hebat di tangan kiri yang mengakibatkan tidak berfungsi normal seperti sediakala karena sudah menyebar sampai tulang.
Saya tetap bersabar dengan kondisi ini dan selalu berprasangka baik kepada Allah, bahwa ini bagian dari takdir yang harus dijalani. Saya memohon kepada teman-teman, guru, serta kerabat dimanapun berada, selipkan doa yang ikhlas agar saya diberikan kesembuhan dan semangat untuk menjalani kehidupan ini.* Kiriman Imron/IMS, sebagaimana diceritakan oleh Munawaroh
Artikel ini bekerjasama dengan program Dompet Taawun