“Andailah boleh kami memilih, menuntut ilmu dan menjalankan ibadah dengan baik lebih kami cintai. Namun, karena amanah untuk menghantar hidayah ini adalah pekerjaan utama dalam kehidupan, di samping memang masyarakat sangat membutuhkannya, dengan keterbatasan yang ada kami relakan jiwa raga kami hidup di Bumi Cenderawasih ini,” ungkap Muallimin Amin, dai Hidayatullah yang sejak 1993 telah malang melintang tugas di daratan Papua.
Menurut istri dari Amirah Ira ini, andai berdakwah itu bukan pekerjaan Nabi yang mulia, kecil kemungkinan dirinya bisa sampai ke tempat terpencil dan rela menghantarkan ‘hidayah’ hingga berbagai pelosok negeri.
“Kalau melihat zaman Nabi, tidak ada istilah menunggu, begitu masuk Islam, setiap Muslim mendapatkan tugas dakwah. Prinsipnya kenalkan Allah kepada sebanyak-banyak manusia, agar sampai kepada mereka hidayah-Nya,” paparnya dengan tersenyum.
“Jadi, biar kami ini istilahnya hanya bisa Alif Ba’ Ta’ (bukan kiai dan bukan pula ulama) berdakwah seolah menjadi pilihan hidup. Dan, di Papua itu luar biasa terasa tantangannya. Tapi, karena ini tugas, sampai sekarang tidak sempat terpikir, kami mau berhenti dakwah dan pergi pulang kampung. Alhamdulillah tidak pernah itu,” ulasnya.
Tak Boleh Menyerah
Sebagaimana asumsi banyak orang, berdakwah di Papua bukanlah hal mudah. Namun Muallimin seolah telah terbiasa dengan itu semua.
Ia mengakui, menjadi dai hidayatullah, sudah ia nikmati selama hamper seperempat abad.
“Memang tidak sedikit tantangannya. Dakwah kami bersama Hidayatullah yang telah berlangsung selama lebih dari 25 tahun ini sudah kenyang dengan hal-hal yang tidak mengenakkan itu. Tapi, kalau kami memilih pulang, siapa yang akan memberikan hidayah masyarakat di Papua ini,” ucapnya dengan nada bertanya.
“Orang luar negeri saja betah di Papua. Artinya apa, di balik tantangan itu memang ada potensi besar di Bumi Cenderawasih ini. Makanya dakwah tidak boleh menyerah,” imbuhnya.
Meski memiliki banyak keterbatasan, Muallimin meyakini, di setiap kesilitan pasti ada bantuan dari Allah, jika niatnya berjuan di Jalan Allah.
“Siapa menolong agama Allah, Allah pasti akan menolongnya,” tegasnya.
Ia berkisah, suatu hari, saat ia ditugaskan di Wamena dan Merauke. Saat itu pecah kerusuhan berdarah. Secara nalar dirinya hanya tinggal nama. Tempat dakwahnya sudah dikepung, semua orang sudah pegang senjata.
Tetapi satu hal yang tetap ia yakini, takdir itu urusan Allah Subhanahu Wata’ala. Jika Allah tidak menetapkan hari di saat kerusuhan itu ajalnya tiba, berarti itulah kehendak Allah.
“Secara logika, seharsnya saya sudah lama meninggal. Mau menyerah bagaimana, sedangkan ajal itu Allah yang punya. Tapi, kalau Allah kehendak, apa saja bisa terjadi. Kala kerusuhan terjadi, kami ini tidak punya daya, mau bagaimana, pesantren di kepung. Orang sudah pegang senjata tajam semua, ada tombak ada panah. Tapi, pertolongan Allah, kami selamat dari kerusuhan,” tambahnya.
Meski beberapa kali nyawanya ibarat sudah berada di ujung tanduk, ia mengaku berdakwah di Bumi Papua tetap tidak boleh berhenti.
“Jangan sampai api dakwah di Bumi Papua ini padam. Ini urusan Allah, kita ikut saja,” tegasnya.
Di hari lain, dalam sebuah perjalanan dari Kota Jayapura menuju lokasi Pondok Pesantren Hidayatullah di Holtekamp yang membutuhkan waktu satu jam perjalanan.
Muallimin yang sebelumnya tugas dakwah di Nabire ini berangkat bersama beberapa pengurus. Satu di antaranya adalah Ramadhan Hilapok, yang ikut menumpang dalam rombongan dan berpisah di tengah jalan.
Saat mengantar salah satu rombongan yang turun, tak disangka datang warga setempat dengan bersepeda motor dengan keadaan mabuk.
“Kalian mau apa eh. Saya ini orang Amerika,” begitu salah satu lelaki tegap berbadan tinggi berkata.
Melihat itu, sebagian pengurus mulai agak takut. Namun, Ramadhan Hilapok segera mendatangi pria mabuk itu. Rupanya, kehadiran pria yang asli Wamena itu menjadikan orang yang mabuk itu mengecil nyalinya. Dan berbalik menjadi sangat ramah.
Usai kejadian kecil itu, Muallimin pun menegaskan kepada para juniornya di dalam mobil.
“Itu baru setengah mabuk, belum yang mabuk betulan. Kalian harus siap dengan situasi seperti itu. Cuma, jangan sekali-kali melayani orang mabuk, bahaya kita. Makanya, Islam itu mengharamkan minuman keras, memang bahaya, bisa celaka bahkan mati orang, termasuk dirinya sendiri,” kisahnya.
Menurut masyarakat pendatang, mabuk bukan hal luar biasa di Papua. Hanya saja, sejak diberlakukan UU Anti Miras, keadaan agak membaik.
Masa Depan Dakwah
Muallimin mengakusi, meski tidak semua pendakwah mau datang ke Papua, pengalaman meyakini bahwa sesungguhnya potensi dakwah di Papua sangat baik. Ia meyakini, jika para dai dan umat Islam datang dengan kesabaran, lambat laun tempat ini akan semakin terang dengan cahaya Islam.
“Memang dakwah itu tidak bisa bim salabim. Orang perlu waktu. Tapi seiring dengan semangat dan konsistensi para dai berdakwah, cepat atau lambat dakwah Islam akan kian berkibar.”
Menurutnya, tidak perlu teori macam-macam. Ia ingat dakwah yang dilakukan para Wali Songo. Jika dakwah terus berjalan, entah itu melalui pernikahan, persahabatan, hubungan bertetangga atau mungkin penduduk asli sendiri yang mengkaji dan tertarik dengan agama Islam ini, lambat laun cahaya Islam makin terang.
Apalagi menurutnya, setiap orang memiliki fitrah. “Kalau fitrah ini sudah hidup, orang tidak akan kemana-mana kecuali memeluk Islam,” ucap Muallimin.
Oleh karena itu, meski kadang sulit, berat dan payah, pria yang aktif berorganisasi sejak kuliah itu mengaku tetap optimis berdakwah di Papua.
“Masak iya janji Allah Islam menang tidak akan terbukti, mustahil itu. Tapi kita memang harus sabar. Apalagi menghadapi masyarakat, dimana kita dituntut untuk bisa berbahasa dengan bahasa mereka. Karena begitu juga Nabi dalam dakwah, tidak ada yang cepat berhasil, malah tantangannya yang tak terhitung banyaknya,” pungkasnya.*