Hidayatullah.com– Sebuah hasil studi yang dimuat Genetics in Medicine Open mengidentifikasi sindrom baru pada bayi yang terpapar fentanyl dari ibunya, yang mirip kelainan pada bayi yang tubuhnya tidak dapat memproduksi kolesterol.
Bayi-bayi itu antara lain memiliki postur tubuh pendek, kepala kecil dan anomali kongenital seperti sumbing, kaki pengkor, dan kelainan pada genetalia, lansir Independent Selasa (12/12/2023).
Kelainan seperti anyaman di antara jari kaki, ibu jari yang pendek dan lebar, serta hanya satu lipatan di telapak tangan juga telah diidentifikasi.
Sindrom baru yang dialami bayi-bayi ini adalah bagian dari krisis fentanyl (fentanil) yang meluas di Amerika Serikat.
Ketua Komite Urusan Luar Negeri di majelis rendah parlemen AS (US House of Representatives) Michael McCaul mengatakan setiap hari hampir 200 warga Amerika kehilangan nyawa disebabkan fentanyl, menyebutnya sebagai “epidemi narkotika paling mematikan dalam sejarah Amerika Serikat.”
Semakin banyak orang yang menggunakan dan sekarat akibat obat tersebut setiap tahun, dan sindrom terkait fentanyl pada bayi merupakan dampak terbaru dari krisis ini.
Erin Wadman, seorang konselor genetik di Nemours dan penulis utama penelitian ini, mengatakan bahwa dia pertama kali menemukan kemungkinan sindrom baru tersebut ketika melakukan pemeriksaan pada bayi-bayi yang memiliki cacat bawaan sepanjang Agustus 2022.
“Saat saya duduk menemui pasien, dan saya merasa, wajah ini terlihat sangat familier. Kisah ini terdengar sangat familier. Dan saya berpikir kenapa pasien ini mengingatkan saya kepada pasien-pasien yang saya temui sebelumnya pada tahun itu dan pada kesempatan lain.” kata Wadman dalam wawancara dengan NBC.
“Ketika itulah saya tersadar, kami kemungkinan menjumpai sesuatu yang serius dan besar di sini.”
Penelitian yang dilakukan Wadman dan rekan-rekannya awalnya memusatkan perhatian pada enam bayi di Nemours Children’s Hospital di Delaware, dan kemudian empat kasus serupa diidentifikasi oleh dokter lain dalam laporan studi itu.
Pada awalnya, gejala yang dialami para bayi mengingatkan Wadman dan kolega-koleganya pada sindrom Smith-Lemli-Opitz, suatu kondisi kelainan genetik yang menghalangi tubuh memproduksi kolesterol, yang sangat penting untuk fungsi sel agar berjalan normal dan untuk pembentukan otak.
Akan tetapi, dalam kasus bayi terpapar fentanyl ini tidak ditemukan penyebab genetik yang sama seperti penderita sindrom Smith-Lemli-Opitz. Hal ini memicu peneliti untuk membuat hipotesis bahwa ibu bayi itu menggunakan fentanyl semasa hamil.
Mereka menulis di dalam laporan tersebut bahwa dimungkinkan fentanyl telah mengganggu produksi kolesterol di dalam tubuh bayi semasa mereka di dalam kandungan.
Semua bayi dalam studi itu dites positif terpapar fentanyl, tetapi peneliti mengatakan bahwa mereka tidak dapat memastikan adanya hubungan antara sindrom tersebut dengan fentanyl disebabkan ada obat-obatan lain yang juga dikonsumsi ibu selama kehamilan.
Peneliti juga menegaskan diperlukannya penelitian lanjutan untuk membuktikan hipotesis mereka, seperti memastikan bahwa cacat pada bayi itu tidak berasal dari jenis narkoba jalanan lainnya atau sesuatu yang tercemar fentanyl yang dikonsumsi ibu selama kehamilan.
Mereka juga ingin mengetahui mengapa, pada sebagian kasus di mana seorang wanita hamil menggunakan fentanyl, bayi mereka tidak mengalami gejala yang sama.*