OBAT penghilang rasa sakit ini paling umum tersimpan dalam lemari obat. Tetapi penggunaannya mudah meracuni penggunanya. Di Australia saja obat itu meracuni 8000 orang setahun.
Lebih dari 150 pasien dalam seminggu dirawat di rumah sakit akibat keracunan parasetamol. Para ahli mengatakan, masalah bagi penderita justru meningkat.
Satu studi baru menemukan, sebagaimana dilaporkan Adelaide Now (19/6/2014), parasetamol bertanggung jawab satu dari lima kasus keracunan yang dirawat di unit gawat darurat rumah sakit di seluruh Australia.
Pakar obat darurat dari Monash University, Profesor Andis Graudins memperingatkan paket besar dari parasetamol, yang digunakan untuk mengontrol arthritis. Hal ini menyebabkan pasien berada pada risiko overdosis yang lebih besar.
Persoalan terhadap dosis besar yang digunakan untuk arthritis tersebut bahwa dalam tes darah awal akan merekam tidak adanya toksik dalam darah, kata Profesor Graudins.
Namun, konsentrasi parasetamol dalam tubuh pasien baru muncul kemudian saat obat bekerja.
Dalam makalah yang diterbitkan dalam jurnal Emergency Medicine Australia, Profesor Graudins mengatakan, itu sebabnya mengapa sangat penting dokter menguji pasien lagi empat jam setelah tes pertama untuk melihat apakah konsentrasi parasetamol telah meningkat.
Masalah lain adalah bahwa parasetamol tersedia dalam ukuran kemasan sangat besar, antara 96 dan 100 pil.
Dia meminta pemerintah mempertimbangkan membatasi ukuran paket untuk membantu masalah atas penggunaan obat penghilang rasa sakit tersebut.
Walapun pembatasan ukuran paket tidak akan mengurangi jumlah ukuran dosis parasetamol, tetapi mungkin dapat mengurangi keparahan keracunan.
Supermarket tahun lalu dilarang menjual paket besar obat penghilang rasa sakit dalam upaya pengendalian yang dilakukan pengawas keamanan obat-obatan.
Paket berisi lebih dari 21 tablet parasetamol sekarang hanya tersedia di apotek.
Parasetamol adalah pil yang paling umum digunakan karena mudah didapat di toko-toko.
Badan Pengawasan Obat-Obatan mengatakan, sekitar 8000 pasien per tahun dirawat di Australia akibat overdosis parasetamol. Obat-obatan itu digunakan tanpa yang bersangkutan berniat bunuh diri.
“Keracunan itu dapat mematikan jika tidak mendapatkan perawatan medis yang tepat,” kata Profesor Graudins.
Kebanyakan orang yang mengalami overdosis parasetamol datang dan berada di gawat darurat rumah sakit dalam waktu empat sampai lima jam, katanya.
Jika tidak diberi penangkal parasetamol dalam waktu delapan jam saat mengalami overdosis, mereka bisa menghadapi risiko peradangan hati dan mengalami gagal hati.
Kematian akibat overdosis parasetamol bisa memakan waktu hingga lima hari, dan ini bisa menjadikan penderitaan saat mengalami gagal hati dan gagal, kata Profesor Graudins.*