BERLAWANAN dengan persepsi pada umumnya, para peneliti telah menemukan bahwa mengkonsumsi sejumlah antibiotik yang tidak perlu dapat menyebabkan resistensi antibiotik, demikian disampaikan terkait dengan masalah kesehatan masyarakat.
Ada risiko lain yang terkait dengan mengkonsumsi antibiotik yang tidak perlu, antara lain infeksi sekunder dan reaksi alergi, kata para peneliti.
“Pasien-pasien itu jika mengkonsumsi antibiotik tidak akan dapat mematikan virus, dan mungkin membuat mereka kebal,” kata David Broniatowski, asisten profesor di George Washington University di Amerika Serikat.
“Lebih dari setengah dari pasien yang disurvei mengkonsumsi antibiotik tidak dimaksudkan untuk melawan virus, tetapi hanya untuk suatu kasus tertentu (penyakit),” tambah Broniatowski.
Untuk penelitian ini, para peneliti mensurvei 113 pasien di satu rumah sakit perkotaan untuk menguji pemahaman mereka tentang antibiotik.
Mereka menemukan kesalahpahaman luas: Pasien menginginkan antibiotik, walaupun mereka menyadari bahwa obat itu tidak dimaksudkan untuk melawan infeksi virus.
Pasien-pasien ini percaya, konsumsi obat semacam itu tidak akan memperburuk kondisi mereka –dan risiko mengonsumsi antibiotik yang tidak perlu tersebut dianggap tidak lebih berat dibanding harapan pertolongan yang diinginkan.
“Kita perlu melawan ‘api dengan api’. Kita perlu memberitahukan mereka tahu bahwa antibiotik dapat memiliki beberapa efek samping yang sangat buruk, dan yang tidak akan dapat membantu menyembuhkan infeksi virus,” kata Broniatowski.
Studi ini dipublikasikan dalam Medical Decision Making, dimuat Khaleej Times belum lama ini.*