Oleh Nurul Qurrota ‘Ayun,
Hidayatullah.com–Banyak tumbuhan darat yang bermanfaat sebagai obat alami. Namun, ternyata banyak pula manfaat tumbuhan laut. Misalnya, alga hijau-biru golongan cyanobacterium atau yang disebut dengan Spirulina sp. Tumbuhan ini dikenal sebagai suplemen terbaik untuk meningkatkan daya tahan tubuh terutama untuk anak-anak.
Spirulina sp merupakan mikroorganisme autotrof alami di perairan tawar maupun asin dengan iklim tropis dan subtropics. Tumbuhan ini dapat menghasilkan pigmen klorofil dan fikosianin yang sangat bermanfaat bagi kesehatan tubuh. Bentuknya menyerupai benang spiral (helix) berbentuk silindris dan dapat bergerak bebas.
Allah SWT telah menyampaikannya di dalam al-Qur`an melalui utusan-Nya, Muhammad SAW:
“Dan tiada sama (antara) dua laut; yang ini tawar, segar, sedap diminum dan yang lain asin lagi pahit. Dan dari masing-masing lautan itu kamu dapat memakan daging yang segar dan kamu dapat mengeluarkan perhiasan yang dapat kamu memakainya, dan pada masing-masingnya kamu lihat kapal-kapal berlayar membelah laut supaya kamu dapat mencari karunia-Nya dan supaya kamu bersyukur.” (Al-Fathir [35]: 12)
Spirulina sudah muncul sejak 3,6 juta tahun yang lalu sebagai jembatan evolusi antara bakteri dan tanaman hijau. Spirulina hampir ada di seluruh dunia dan menjadi sumber makanan kaya akan nutrisi bagi banyak budaya termasuk Amerika, Afrika, dan Timur Tengah sejak zaman dahulu.
Telah dikemukakan oleh NASA bahwa nilai gizi 1 kg spirulina setara dengan 1000 kg buah dan sayuran. Oleh karena itu, misi antariksa jangka panjang NASA (CELSS) dan badan antariksa Eropa (MELISSA) mengusulkan agar spirulina berfungsi sebagai sumber makanan dan gizi utama (Alabama A & M University, 1988). Perserikatan Bangsa-Bangsa menyebut spirulina sebagai “makanan terbaik untuk masa depan” dalam konferensi dunia tahun 1974 silam.
Saat ini, spirulina diproduksi dengan cara budidaya pada kolam yang dibangun khusus. Sedangkan dipanen dengan metode sederhana kemudian diolah menjadi berbagai bentuk seperti serbuk, tablet, flakes, sirup, dan lain-lain.
Dalam Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2014, jenis keluhan kesehatan pada anak-anak dirinci menjadi panas, batuk, pilek, asma/sesak napas, diare, sakit kepala berulang, sakit gigi dan lainnya. Lebih dari separuh balita di Indonesia mengalami panas (53,90%), batuk (57,62%) dan pilek (58,32%). Ketiga keluhan kesehatan ini sering dialami balita, karena balita masih sangat rentan terhadap penyakit. Berangkat dari permasalahan tersebut, memungkinkan pemanfaatan spirulina sebagai agen alami penambah daya tahan tubuh dan pelengkap gizi anak.
Kaya Protein
Spirulina kaya akan protein, enzim, karbohidrat, asam amino esensial, asam lemak tak jenuh ganda, gula rhamnose (gula alami tanaman kompleks), sterol, mineral, dan vitamin. Spirulina mengandung tiamin (vitamin B1) yang memperkuat sistem saraf, mengurangi kelelahan, menormalkan tidur, denyut jantung, menghilangkan nafas pendek, juga mengandung asam folat (vitamine B9) yang diperlukan untuk pembentukan hemoglobin, dan asam gamma-linolenat yang hanya ditemukan pada spirulina dan ASI.
Pada penelitian Subhashini, dalam jurnal Biochem Pharmacol 2004, pigmen fikosianin pada spirulina memiliki peran dalam memodulasi sistem kekebalan tubuh. Spirulina memiliki efek penghambatan pelepasan histamin dari sel mast pada respons alergi dan inflamasi. Pengujian membuktikan spirulina menekan pertumbuhan sel tumor dan mendorong aktivitas sel imun natural killer.
Fikosianin meningkatkan aktivitas pertahanan biologis dengan mengurangi alergi akibat inflamasi, dibuktikan pada penelitian Hayashi, dalam jurnal AIDS Res Hum Retroviruses 1996. Spirulina juga dapat menurunkan demam tinggi, pada penelitian double blind placebo terkontrol pasien rinitis alergi, menunjukkan adanya penurunan sekresi sitokin proinflamasi IL-4 sebesar 32% dan menurunkan efek simtomatik (Hosoyamada et al. at Journal of Japanese Soc Nutr Food Sci. 1991)
Selain itu, spirulina juga diketahui memiliki manfaat perlindungan terhadap teratogenesis pada janin yang merupakan penyebab utama kematian anak di dunia. Spirulina melindungi janin melalui mekanisme antioksidan melawan Reactive Oxygen Species (ROS) atau dikenal sebagai oksidan sebagai penyebab teratogenesis. Sebuah studi Grzanna dan kawan-kawannya dalam jurnal Altern Complement Med, 2006 dilakukan untuk melihat efek perlindungan spirulina pada janin dengan mengobati tikus hamil yang diinduksi hidroksiurea (obat antineoplastik teratogenic). Diketahui bahwa spirulina menunjukkan perlindungannya melalui mekanisme antioksidan.
Studi menarik lainnya dilakukan oleh Mishima pada 1998, menggunakan ekstrak air dan fraksinasi spirulina yang dapat menghambat replikasi beberapa virus, terutama virus yang memiliki pembungkus/kapsid seperti virus campak, dan virus HIV-1 pada sel T manusia, sel mononuklear perifer dan sel Langerhans. Kalsium spirulan (Ca-SP), polisakarida tersulfasi yang berasal dari spirulina memberikan sifat khelat dalam menghambat replikasi virus. Dalam penelitian ini kalsium digantikan oleh sodium, alhasil mekanisme penghambatan replikasi antivirus berkurang. Oleh karena itu, kalsium pada spirulina memainkan peran penting untuk menghambat peran sitopatik dari virus tersebut.
Tak hanya berbicara manfaat fikosianin pada spirulina, klorofil pada spirulina juga memberikan manfaat penting pada perbaikan gizi anak-anak, menambah berat badan dan mencegah anemia pada orang dengan HIV dan HIV-negatif. Klorofil yang dikandung spirulina memiliki struktur yang sama dengan hemoglobin pada sel darah merah, perbedaannya hanya dalam 4 molekul Fe pada hemoglobin (zat besi, berwarna merah), sedangkan klorofil memiliki 4 molekul Mg (magnesium, berwarna hijau). Klorofil bermanfaat meningkatkan jumlah sel-sel darah, khususnya meningkatkan produksi hemoglobin dalam darah. Dengan demikian, penggunaan spirulina memiliki efek positif pada anak-anak yang menderita anemia. (Chen T, Wong YS. at J Agric Food Chem, 2008).
Struktur klorofil yang unik juga memiliki manfaat untuk membersihkan jaringan tubuh. Ekor molekul klorofil yang bersifat hidrofobik dapat menggali ke dalam sel/jaringan dan mengangkat senyawa hidrokarbon dari dinding sel serta mengeluarkan senyawa racun tersebut sehingga membantu fungsi hati, dan melindungi DNA dari kerusakan karsinogenik. Wallahu’alam bisshawab.*di Kutip dari majalah Suara Hidayatullah
* Mahasiswi S2 Jurusan Herbal di Universitas Indonesia/