Hidayatullah.com– Situasi politik di Jakarta kian memanas. Isu dan fitnah banyak bermunculan. Sebuah pertarungan yang menyedot perhatian seluruh anak bangsa, hampir menyamai pemilihan presiden (pilpres) di tahun 2014.
Memerhatikan fakta tersebut, Katapedia, sebagai sebuah lembaga survei online, melihat secara menyeluruh apa yang terjadi pada netizen (warganet) di sosial media, khususnya Twitter.
Menurut CEO Katapedia, Deddy Rahman, setidaknya ada 2 hal utama yang ingin diketahui. Pertama, membaca isu-isu terakhir yang berkembang di media sosial. Kedua, mengukur pilihan warganet terhadap 2 pasangan calon yang sedang bertarung, atau dengan kata lain: elektabilitas online.
“Katapedia telah mengumpulkan sejumlah hashtag (tanda pagar/tagar) yang berkembang selama 3 hari terakhir (15-17 April 2017). Setiap pendukung pasangan calon melakukan online campaign (kampanye berbasis jaringan. Red) secara masif, baik campaign yang sifatnya positif mendukung pilihannya, maupun campaign yang sifatnya menyerang pasangan calon lainnya,” tuturnya.
“Online campaign positif tertinggi untuk pasangan Ahok-Djarot adalah #jakartapunyasemua #beragamitubasukidjarot #siapppmenangkanbadja #makinmantebno2 #mantappilih2.
Sedangkan serangan kepada pasangan calon dari petahana ini adalah #masjidpilkada #syiahbersamaahok #ahoksyiahbersama #jakartamenolaklupa #muslimtidaktakutteror #sembakopenistaagama,” imbuhnya.
“Kemudian, online campaign positif tertinggi untuk pasangan Anies-Sandi adalah #tweetjahat #okoce #langkahmajuaniessandi #menujugubernurbaru #aniessandiuntukpersatuan.
Sedangkan serangan yang ditujukan pada pasangan calon ini adalah #syiahbersamaanies #aniescagubsembako #jakartabersyariah,” urainya lebih lanjut dalam siaran pers diterima hidayatullah.com Jakarta.
Baca: Senator DKI Fahira Ajak Pendukung Agus-Silvy Menangkan Anies-Sandi
Sementara itu untuk mengukur tingkat elektabilitas online, Katapedia melakukan pengambilan data pembicaraan warganet terkait pasangan calon gubernur DKI Jakarta selama 13 hari terakhir, yakni periode 5 – 17 April 2017.
“Keywords (kata kunci) yang digunakan untuk mengambil pembicaraan bagi pasangan nomor 2 adalah: ahok, basuki_btp, ahokdjarot. Dan untuk pasangan nomor 3 keyword-nya: aniesbaswedan, sandiuno, jktmajubersama, aniessandi.
Hasil perolehan data pembicaraan selama 13 hari terakhir tersebut adalah pasangan Ahok-Djarot sebesar 636.057 tweets (kicauan) yang didukung sejumlah 76.357 akun Twitter, dan pasangan Anies-Sandi sebesar 500.722 tweets yang didukung sejumlah 62,621 akun Twitter . Total pembicaraan netizen sebesar 1.136.779 tweets,” paparnya.
Baca: Direktur LINKS: Ahok Bisa Dikalahkan pada Pilgub DKI 2017
Dalam hal tersebut, Anies-Sandi masih di bawah. Akan tetapi, ketika dilakukan proses Text Mining dari semua pembicaraan yang diperoleh, yakni dengan melakukan filter pembicaraan yang hanya mengandung kata-kata yang bersifat elektabilitas: “pilih”, “dukung”, dan “coblos”. Dan sudah dipastikan bersentimen positif.
“Ternyata hasilnya berbalik. Untuk pasangan Ahok-Djarot sebesar 85.469 tweets (48,6%). Sedangkan pasangan Anies-Sandi sebesar 90.407 tweets (51,4%). Dari total dukungan sebesar 175.876 tweets,” tegasnya.
Keunggulan yang tidak begitu signifikan ini tidak bermasalah jika semua pihak dapat menerima dengan lapang dada.
“Perbedaan elektabilitas online yang hanya 2,8% ini memberi kemungkinan yang cukup besar akan ada terjadinya ketidaksiapan dari pendukung salah satu pasangan calon untuk menerima hasil pencoblosan tanggal 19 April nanti (besok. Red),” tegasnya.
Baca: #KampanyeAhokJahat Trending Topic, Video Pro Ahok-Djarot Dikritik Singgung Rasis
“Sekalipun tentu, kita harapkan semua pihak yang berkepentingan bisa menjaga kondisi tetap kondusif untuk berkembangnya alam demokrasi yang sehat di Indonesia,” pungkasnya.*