Hidayatullah.com–Perusahaan Israel membantu FBI membuka enkripsi Apple, menurut laporan yang dipublikasikan pada Kamis dalam koran Israel.
FBI dan Apple akan berhadap-hadapan secara hukum pada minggu ini dalam menentukan apakah raksasa teknologi itu harus membantu pemerintah membuka enkripsi sebuah iPhone yang digunakan oleh Syed Rizwan Farook, salah satu penyerang dalam serangan teror San Bernadino pada Desember lalu.
Dikutip laman middleeastmonitor.com, Kamis, (24/03/2016), Apple memutuskan bahwa permintaan tersebut kemungkinan dapat menjadi contoh yang berbahaya.
Sementara Apple memenangkan dukungan publik, pengadilan mengajukan sebuah mosi pada Senin untuk menunda sidang atas klaim yang menyatakan bahwa sebuah “pihak luar” telah membantu penegak hukum AS dalam membuka iPhone yang bersangkutan dan bantuan Apple sudah tidak dibutuhkan lagi.
Pihak yang tidak disebutkan namanya itu adalah Cellebrite, perusahaan forensik ponsel berbasis Israel, menurut sumber yang berbicara pada koran harian Israel Yedioth Ahronoth dalam berita yang dipublikasikan pada Kamis itu.
Dalam laporannya tercatat bahwa Cellebrite telah menjalin kontrak dengan FBI sejak sekitar tahun 2013. Cellebrite berfokus pada menyadap dan menganalisis data dari media seluler seperti smartphone.
Perusahaan itu telah berpengalaman dalam mempelajari lebih dari 19.000 profil perangkat, menurut website Cellebrite. Perusahaan itu juga mengklaim bahwa lebih dari 15.000 penggunannya berasal dari agensi penegak hukum dan militer di seluruh dunia. Cellebrita, FBI ataupun Apple belum berkomentar atas laporan baru itu.
Pengacara enkripsi, bagaimanapun juga, menuduh bahwa agensi penegak hukum Amerika telah berbohong tentang ketidaksanggupan mereka membuka iPhone .
Pengamat blogger Marcy Wheeler memberi catatan pada sebuah posting pada Kamis bahwa pemerintah AS telah bermitra dengan Cellebrite dalam membuka iPhone 6 terkait kasus narkoba yang sepenuhnya tidak berhubungan dengan penembakan San Bernadino.
Sebuah surat penggeledahan yang menyebutkan kekuatan Cellebrite dalam membuka iPhone pada 16 Februari, membuat Wheeler mempertanyakan penuturan FBI yang tiba-tiba menerima bantuan dekripsi baru dari pihak luar.
“Alasan FBI yang terakhir dapat dipercaya bagai seorang mahasiswa yang datang terlambat dengan alasan flu pada malamnya sebelum kertas itu dijadwalkan,” berdasarkan sebuah pernyataan yang dirilis pada Kamis oleh Evan Greer, direktur pelaksana kelompok advokasi enkripsi Fight for the Future.
“Mereka harus membersihkannya segera, dan mengakui bahwa mereka menipu pengadilan dan publik, untuk menghindari kerusakan lebih pada kredibilitas mereka yang tersisa.”.*/Nashirul Haq AR