Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Gaya Hidup Muslim

Jiwa Kuat dan Dinamis dengan Bersabar

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 7 Mei 2012 09:49 9:49 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 7 Mei 2012 09:49
Bagikan
Bagikan

ORANG yang kuat bukanlah orang yang memiliki badan kuat, pintar bergulat dan bersilat. Tapi orang yang kuat adalah orang yang jiwanya kuat. Sebab, jiwa yang kuat itu mempu membuat cara agar hati, fikiran dan badan tahan menghadapi tekanan. Sebaliknya, dalam jiwa yang lemah terdapat sifat-sifat merusak; putus asa, malas dan negative thinking.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda: ”Orang yang kuat bukanlah yang pandai bergulat, namun orang yang kuat adalah orang yang menguasai jiwanya ketika marah.” (HR. Bukhari). Kemampuan untuk menguasai jiwa dan mengendalikannya itulah yang disebut sabar.

Sabar berasalah dari bahasa Arab shobaro – yang makna aslinya adalah menahan atau mencegah dari sesuatu. Dalam istilah ia dimaknai sebagai kemampuan jiwa untuk menahan diri dari sifat kegeundahan dan rasa emosi, kemudian menahan lisan dari keluh kesah serta menahan anggota tubuh dari perbuatan yang tidak terarah.

Dari definisinya tersebut saja, kita bisa menarik kesimpulan bahwa sabar, bukan identik dengan kepasrahan, ketidak mampuan atau pasif merespon peristiwa tertentu. Justru, sifat sabar memberi perintah untuk berbuat aktif-positif, merubah pandangan jiwa untuk melakukan kebaikan.

Orang yang mengendalikan jiwa emosional, misalnya membutuhkan tiga anggota tubuh; kerja akal, hati dan fisik. Akal harus mengarahkan, hati harus beriman dan fisik dikendalikan oleh keduanya untuk membalik jiwa negatif menjadi aktifitas yang bermanfaat. Tentu ini bukan kerja biasa.

Baca Juga

Gaya Hidup Minimalis: Kunci Kesehatan Mental di Tengah Hidup Serba Cepat
Sya’ban Tangga Penting Sukses Ramadhan
Teladan Rasulullah untuk Para Suami
Tawakkal dalam Bekerja
Awasi Makananmu, Selamat Hidupmu!

Kekuatan menahan diri dari musibah atau kegalauan nasib biasanya dimiliki oleh orang-orang shalih. Ketika ada musibah, hatinya langsung terpaut dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ia tidak menyorot kepada siapapun, tapi diterimanya sebagai sebuah peringatan-Nya. Karena merasa diperhatikan – dengan diberi peringatan oleh Allah itu – hatinya akan digerakkan untuk berbuat lebih baik lagi, bukan diam diri, pasrah menerima tanpa berbuat apapun. Atau tidak membalasnya dengan perbuatan buruk pula, tidak mengumpat Allah, dan jiwanya sama sekali tidak goyah untuk tetap berada di jalannya – tetap mengharap ridla-Nya (Abu Bakar al-Jazairi, Minhajul Muslim,118).

Maka dari itu, sifat sabar tidak mungkin ada kecuali dalam diri orang beriman. Orang sekuler – yang tidak menjadikan Tuhan tempat menggantungkan – pasti tidak sabar. Imam al-Ghazali mengatakan sebagai sebuah ruang di antara ruang-ruang agama yang tinggi. Tidak akan tertanam kecuali kepada orang yang mengenal Allah (al-Ghazali, Ihya’ Ulumuddin 4, hal. 61).

Bahkan sabar adalah bagian dari iman (syathrul iman). Berarti orang yang tidak bersabar, imannya belum sempurna. Hal itu telah disinggung oleh Allah dalam firman-Nya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اصْبِرُواْ وَصَابِرُواْ وَرَابِطُواْ وَاتَّقُواْ اللّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman bersabarlah dan kuatkanlah kesabaranmu.” (QS. Ali Imran: 200). Ketika kita tidak kuat – dalam menahan dari emosi, kegalauan hidup dan musibah yang menimpa – maka kita dikategorikan orang yang lemah. Tidak saja lemah jiwa tapi juga lemah iman.

وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُم بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ وَلَا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَن ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطاً

Allah berfirman: “Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.” (QS. Al-Kahfi: 28).

Sabar ada tiga macam. Sabar dalam ketaatan kepada Allah, sabar untuk meninggalkan kemaksiatan dan sabar menghadapi ujian dari Allah.

Sabar dalam ibadah merupakan sabar yang paling sulit. Dari kesabaran menjelang ibadah sampai usai menunaikan ibadah. Menjelang ibadah, sabar berkait dengan niat. Ketika sedang beribadah kita diuji kesabaran agar selalu ingat kepada-Nya tidak kepada lainnya. Dan usai beribadah tidak membicarakan ibadah yang telah dilakukannya supaya diketahui atau dipuji orang lain.

Perjuangan seperti itu digambarkan oleh Imam al-Ghazali. Bahwa menjelang sampai usai ibadah, jiwa kita terus-menerus diserang oleh penyakit yang bernama riya’. Jika tauhid kita lemah, maka jiwa kita pun pasti lemah, menyerah oleh serangan riya’ (al-Ghazali, Muhkhtashar Ihya’ Ulumuddini). Dalam beribadah, seseorang kebanyakan ingin menjadi riya’. Jika kita bersabar dengan ini, maka pertahanan iman kita jebol. Ibadahpun sia-sia. Sebab ibadahnya tidak dipersembahkan kepada Allah lagi tapi kepada yang lainnya.
Yang paling berat justru ketika usai beribadah. Serangan riya’ lebih dahsyat. Terkadang kita ikhlas selama ibadah tapi jatuh ketika ibadah telah kita tuniakan bebarapa waktu yang lalu. Maka, bersabar dalam konteks ini adalah menahan diri untuk tidak membicarakan ibadah yang telah dilakukannya supaya diketahui atau dipuji orang lain.

Ada korelasi antar tauhid dan kekuatan jiwa. Orang bertauhid adalah yang segalanya bersandar kepada Allah dalam memandang realitas. Lawannya adalah madiyah (materialis/sekular). Kata al-Ghazali, orang yang menyandarkan kepada materi (I’timad ‘ala jamadat), pasti akan jatuh kejiwaanya. Karena materi tidak memiliki kuasa apa-apa. Sebaliknya, orang yang bertauhid tidak mudah goyah, sebab yang menjadi sandaran adalah Sang Maha Segalanya.

Sabar dari maksiat, yaitu menahat jiwa dan hati untuk tidak ghibah, dusta, dan perbuatan-perbuatan haram lainnya.

Sedang sabar terhadap musibah merupakan aspek kesabaran yang paling sering dinasehatkan banyak orang. Karena sabar dalam aspek ini merupakan bentuk sabar yang dalam sebuah hadits diriwayatkan :Dari Anas bin Malik ra, bahwa suatu ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam melewati seorang wanita yang sedang menangis di dekat sebuah kuburan. Kemudian Rasulullah bersabda, ‘Bertakwalah kepada Allah, dan bersabarlah.’ Wanita tersebut menjawab, ‘Menjauhlah dariku, karena sesungguhnya engkau tidak mengetahui dan tidak bisa merasakan musibah yang menimpaku.’ Kemudian diberitahukan kepada wanita tersebut, bahwa orang yang menegurnya tadi adalah Rasulullah. Lalu ia mendatangi pintu Rasulullah dan ia tidak mendapatkan penjaganya. Kemudian ia berkata kepada Rasulullah, ‘(maaf) aku tadi tidak mengetahui engkau wahai Rasulullah SAW.’ Rasulullah bersabda, ‘Sesungguhnya sabar itu terdapat pada hentakan pertama” (HR. Bukhari Muslim).

Lantas, bagaiman agar kita memiliki sifat sabar. Menurut Imam al-Ghazali untuk mencapai kesabaran yang tinggi memerlukan riyadhah (latihan). Paling penting dan utama dapat dilakukan dengan merenungkan kempali hakikat hidup di dunia dan akan kemana setelah hidup ini. Memikirkan nasib diri untuk tujuan hidup itu. Nafsu perlu bermujahadah, dimulai dari hal-hal ringan. Misalnya belajar menahan diri untuk menuruti keinginan memakan makanan mahal yang lezat, membeli pakaian mahal, dan hancurkan nafsu dari kemalasan. Jika sedang malas, maka bangkit, ambil wudhu, shalat dua rakaat dan mulailah aktifitas.

Maka ketidak sabaran harus diantasipasi sejak dini. Ingat, orang bersabar tidak akan ditinggalkan Allah. “Bersabarlah kalian, sesungguhnya Allah bersama dengan orang-orang yang sabar.” (QS.Al-Anfal:46). Oleh sebab itu, hidupnya lebih tenang, dinamis positif, dan segala realitas selalu dipandang dengan kacamata iman.*/Kholili Hasib

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Akhirnya, Cincin Cantik itu Tersemat di Jari Perempuan Pemberani di Gaza
Tulisan selanjutnya Memenangkan Persaingan Global dengan Menjadi Saudagar

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

vape covid
Berita

Influencer Singapura Didenda S$3.500 karena Mengiklankan Vape di Telegram

Berita
31 Mei 2026 02:22
‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
Kementerian Kesehatan Gaza: 33 Orang Syahid Ditembak Israel saat Libur Idul Adha
Irlandia Bakal Larang Impor dari Permukiman ‘Israel’ Mulai Pertengahan Juli
Israel, Russia Dimasukkan Daftar Hitam Kekerasan Seksual PBB

Terbaru

  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat

Mungkin Anda Juga Suka

Gaya Hidup Muslim

Hati-Hati dalam Timbangan dan Takaran

16 November 2022 11:58
Gaya Hidup Muslim

Beginilah Islam Memuliakan Pembantu

7 November 2022 13:30
Gaya Hidup Muslim

Sibuk Mengoreksi Diri Sendiri

18 Oktober 2022 09:00
Gaya Hidup Muslim

Berapa Kali Kita Mengkhatamkan Al-Quran?

9 Oktober 2022 08:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?