ISU homoseksual (LGBT) sempat ramai dan menyita perhatian banyak pihak. Seperti sebuah kebenaran homoseksual dibela, dikampanyekan dengan beragam rupa media agar perilaku kaum Nabi Luth itu bisa dilegalisasi di Republik ini.
Tetapi, nampaknya mereka lupa bahwa “Kita tidak akan pernah dapat melampaui hukum-hukum alam, betapapun kerasnya kita mencoba,” tegas Dr. Kazuo Murakami dalam bukunya The Divine Message of The DNA.
Dengan kata lain, homoseksual tidak akan pernah sampai menguasai bumi, meskipun di negara-negara maju homoseksual telah dilegalisasi. Namun demikian, adalah tugas setiap keluarga untuk membentengi generasi masa depan bangsa yang ada di rumah kita selamat dari pengaruh, pemikiran dan praktik homoseksual.
Terlebih di dalam Al-Qur’an, Iblis telah bersumpah akan terus menjerumuskan manusia dari berbagai arah agar terjerumus ke dalam neraka.
قَالَ فَبِمَآ أَغۡوَيۡتَنِى لَأَقۡعُدَنَّ لَهُمۡ صِرَٲطَكَ ٱلۡمُسۡتَقِيمَ
ثُمَّ لَأَتِيَنَّهُم مِّنۢ بَيۡنِ أَيۡدِيہِمۡ وَمِنۡ خَلۡفِهِمۡ وَعَنۡ أَيۡمَـٰنِہِمۡ وَعَن شَمَآٮِٕلِهِمۡۖ وَلَا تَجِدُ أَكۡثَرَهُمۡ شَـٰكِرِينَ
“Iblis berkata: “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus. kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).” (QS. Al-A’raf [7]: 16 – 17).
Hal ini menunjukkan bahwa perilaku kaum Nabi Luth akan dipaksa hadir di bumi pertiwi. Dan, seperti jamak dipahami hal itu menyusup dalam beragam media, mulai televisi, bacaan hingga film dan media sosial. Dengan demikian, rumah yang merupakan benteng terkuat dan terakhir dari pertahanan umat Islam harus benar-benar dijaga kesterilannya dari virus yang mengundang laknat Allah Ta’ala.
Mengenalkan sosok Nabi Luth Alayhissalam
Semua ada hikmahnya, begitu biasa akrab di telingan umat Islam di Indonesia. Tidak terkecuali dengan maraknya kasus homoseksual. Momentum anak mengenal Nabi Luth Alayhissalam secara lebih mendalam telah tiba.
Nabi Luth Alayhissalam adalah keponakan dari Nabi Ibrahim Alayhissalam. Ayah Nabi Luth adalah Haran dan Haran itu adalah saudara Nabi Ibrahim.
Kita ceritakan kepada putra-putri kita bahwa perilaku menyimpang lagi terlaknat itu (lesbian dan gay) dilakukan pertama kali oleh kaum Nabi Luth.
Adi Musthafa Abdul Halim dalam bukunya Kisah Bapak Anak dalam Al-Qur’an dijelaskan bahwa suatu masa kaum Nabi Luth dilanda paceklik, Iblis kemudian datang dan berkata, “Sesungguhnya kalian dilanda paceklik karena kalian melarang manusia untuk masuk ke rumah kalian, dan kalian tidak melarang mereka untuk mendatangi kebun kalian.”
Mendengar itu, kaum Nabi Luth bertanya, “Lalu bagaimana cara mengatasi paceklik ini?”
Iblis menjawab, “Ciptakanlah suatu kebiasaan baaru di antara kalian. Jika ada orang asing yang datang ke kota kalian, tangkaplah orang tersebut, dan pergaulilah orang itu di duburnya. Jika kalian lakukan saranku ini, kalian tidak akan terkena paceklik.”
Saran Iblis itu dilaksananakan. Ketika mendapati seorang anak muda tampan, mereka menangkap dan menggaulinya di dubur. Ternyata mereka terlena dan kebiasaan itu sulit mereka lepaskan, hingga akhirnya kebiasaan terkutuk itu menular kepada seluruh penghuni kota.
Terhadap kaum itulah Nabi Luth di utus. Nabi Luth berkata
أَتَأْتُونَ الذُّكْرَانَ مِنَ الْعَالَمِينَ
وَتَذَرُونَ مَا خَلَقَ لَكُمْ رَبُّكُمْ مِنْ أَزْوَاجِكُم بَلْ أَنتُمْ قَوْمٌ عَادُونَ
“Mengapa kamu mendatangi jenis lelaki di antar a manusia, dan kamu tinggalkan istri-istri yang dijadikan oleh Tuhanmu untukmu, bahkan kamu adalah orang-orang yang melampaui batas.” (QS. Asy-Syuara [26]: 165 – 166).
Menarik untuk digarisbawahi penjelasan di atas bahwa mereka mencari dan menangkap anak muda. Di sini bisa dikorelasikan dengan kasus-kasus yang pernah terjadi. Bahwa mereka yang kerap kali menjadi sasaran pelaku sodomi adalah anak-anak.
Cara menculik mungkin sudah kurang diminati, tetapi dengan bujuk rayu bisa dengan uang, permen atau bahkan rayuan lainnya. Tetapi, menculik tetap menjadi opsi pertama predator anak. Seperti yang belum lama ini dialami seorang bocah 7 tahun di Depok, ternyata dia diculik, lalu disodomi dan akhirnya dibunuh.
Jika anak-anak kita mengerti kisah Nabi Luth Alayhissalam, pertama mereka akan tertarik untuk mengetahui langsung di dalam Al-Qur’an. Kedua mereka akan memiliki filter yang sekali waktu ada kondisi yang mengarah pada kemungkinan terjadinya aksi yang mengarah pada tindak sodomi, mereka akan bisa bertindak cepat untuk menghindar.
Selain itu, momentum homoseksual dan kisah Nabi Luth Alayhissalam bisa menjadi gerbang anak-anak untuk lebih dekat dan cinta membaca dan memahami Al-Qur’an. Sebab, godaan yang dilancarkan setan tidak saja melalui sodomi, tetapi beragam bentuk perilaku keji lainnya, seperti zina, mencuri dan memakan riba.
Tekankan Pendidikan Adab
Menafsikran Surah Asy-Syuara ayat 74 Ibn Abbas menggambarkan bahwa pemicu terjadinya homo di zaman Nabi Luth karena kebiasaan-kebiasaan buruk yang tidak disadari dampak negatifnya.
Diantaranya; Tidak menutup bagian-bagian tubuh yang bersifat pribadi di hadapan orang-orang sesama jenis kelamin, tidak bersiul menggunakan jari-jari tangan, tidak mempertontonkan dada dengan membuka baju dan tidak mengenakan celana panjang yang menyapu lantai.
Dengan demikian, sekalipun keluarga kita memiliki anak laki-laki saja, katakanlah dua atau tiga bahkan empat, terhadap mereka tetap penting dibiasakan untuk memperhatikan adab, terutama dalam soal berpakaian.
Jauhkan Televisi
Televisi di zaman ini benar-benar bukan kotak biasa. Jika lalai, kotak tipis itu akan meracuni cara berpikir anak-anak kita dan mewarnai perilaku mereka. Cara paling aman adalah meniadakan televisi di rumah. Hanya saja, siapa yang menjamin bahwa anak kita tidak menonton televisi di tempat lain?
Dengan demikian, orang tua mesti memberkan proteksi yang kuat agar anak tidak melihat acara telvisi yang menampilkan lelaki yang berpenampilan seperti perempuan. Katakan kepada mereka hal itu buruk dan mengundang murka Allah. Tetapi, sebagai orang tua, memastikan mereka melihat yang positif saja dari televisi memerlukan komitmen tinggi untuk senantiasa hadir mendampingi aktivitas menonton mereka. Wallahu a’lam.*