Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Opini

Wartawan dan Empati Nurani

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 6 April 2016 16:56 4:56 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 6 April 2016 18:00
Bagikan
Delegasi wartawan Indonesia saat bertemu PM Benyamin Netanyahu
Bagikan

Oleh: Achmad Fazeri

 

KONFERENSI Tingkat Tinggi Luar Biasa Organisasi Kerjasama Islam atau KTT Luar Biasa OKI telah rampung digelar meski belum genap sebulan. Di mana, dalam KTT tersebut dengan tegas Presiden Jokowi menyerukan aksi boikot terhadap produk-produk Israel serta menyatakan dukungannya terhadap kemerdekaan Palestina.

Tetapi, semua seruan tersebut mendadak buyar seperti tak memiliki arti dan nilai sama sekali. Nihil dan percuma, setelah dicoreng dengan ‘tinta hitam’ oleh lima wartawan senior dari beberapa media nasional ternama. Tepatnya, usai mereka menemui Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu pada rangkaian acara undangan dari Kementerian Luar Negeri Israel selama 40 menit itu (Jerussalem Post, 28 Maret 2016).

“Yah betul, setetes ‘tinta hitam’ yang menodai dan akan selalu membekas dalam ingatan dan catatan sejarah kelam bangsa Indonesia.”

Baca Juga

Perjanjian Abraham Tawarkan Normalisasi, Pakta Mekkah Tawarkan Keamanan
Jangan Jadikan Lomba dan Karnaval HUT RI Ajang Promosi LGBT dan Judi
Board of Peace, Melayani Kepentingan Siapa? Israel atau Palestina?
Ketika Ilmu Pengetahuan Berpihak pada Kuasa, Bukan Kebenaran
Pelajaran dari Kejatuhan Keir Starmer: Belum Sampai ke Pantai

Penulis pun bertanya-tanya. Bagaimana bisa? Sebagai makhluk sosial yang tentunya wajib peduli terhadap kondisi sesamanya. Apalagi kepada mereka masyarakat sipil tak berdosa di negeri Palestina yang ditindas, didzalimi habis-habisan bahkan dibantai oleh manusia-manusia yang sejatinya pengecut serta bernyali ciut karena bersembunyi di balik senjata bombardirnya.

Jawaban pertanyaan itu, rasanya hanya bisa ditemukan dalam hati nurani manusia yang benar-benar bersih serta punya rasa simpati maupun empati terhadap penduduk nun jauh di seberang sana (Palestina). Bukan seperti sikap lima wartawan senior dari beberapa media nasional itu. Mahluk miskin empati dan tak punya kepedulian sosial tinggi terhadap kondisi rakyat Palestina yang sampai kini masih terus dijajah dan ditindas oleh tentara Israel.

Negara Palsu

Rasanya pun naif dan sangat lucu, kalau kelima wartawan senior tersebut tidak mengetahui siapa Israel. Benar! Israel merupakan sebuah organisasi penjajah, bukan sekadar pelaku state terrorism. Sebab, Israel adalah teror itu sendiri sejak sebelum diumumkan keberadaannya secara Internasional.

Palestina yang menjadi tempat hidup damai antara kaum Muslim, Kristen, dan Yahudi sejak dibebaskan oleh Shalahuddin Al-Ayubi tahun 1187 menjadi kacau saat penjajah Inggris masuk tahun 1917. Bahkan, semakin parah saat Inggris menyerahkan Palestina kepada gerakan Zionis Internasional. Untuk kemudian diumumkan secara sepihak yang di atasnya didirikan negara palsu bernama ‘Israel’ pada 14 Mei 1948.

Jamak diketahui, pimpinan organisasi penjajah bernama Israel tersebut ialah Benjamin Netanyahu, yang melakukan pembunuhan, penghancuran dan perampasan tanah milik warga Palestina sejak berdirinya negara ilegal (Israel) itu.

Sebelumnya (1947), ada organisasi teroris Yahudi seperti Irgun, Stern serta Haganah yang melakukan pembunuhan, pengusiran, serta perampasan secara besar-besaran atas warga Palestina, didukung pemerintah Amerika Serikat, Inggris dan Prancis kala itu.

Beberapa track-record kejahatan yang dilakukan Netanyahu di antaranya, serangan besar-besaran yang dilancarkan selama 8 hari ke Jalur Gaza pada bulan November 2012, dan selama 51 hari mulai Juli hingga September 2014. Dari serangan itu sebanyak 3.000 warga termasuk anak-anak di bawah usia 15 tahun terbunuh. Selain itu membuat luka-luka dan juga menyebabkan cacat seumur hidup. Bahkan, yang lebih dahsyat dari itu adalah guncangan jiwa yang dirasakan oleh rakyat Palestina (Hidayatullah.or.id, 29 Maret 2016).

Sementara selama 2015 Kementerian Kesehatan Palestina mengungkapkan setidaknya ada 178 warga Palestina terbunuh dan 16.200 orang lainnya terluka oleh pasukan Israel. Dari sejumlah itu, 143 orang di antaranya tewas selama bentrok dan blokade di Yerusalem Timur, Tepi Barat maupun Jalur Gaza.

PBB melalui Koordinator Urusan Kemanusiaan (OCHA) mengungkapkan, sebanyak 539 rumah warga Palestina telah dihancurkan pemerintah Israel, dan 742 warga Palestina terpaksa harus meninggalkan rumah mereka selama 2015 lalu. Semua itu untuk pembangunan pemukiman penduduk Yahudi (Anadolu Agency, Rabu 6 Januari 2016).

Jadi, wajar saja kalau Israel disebut sebagai negara paling banyak melanggar Hak Asasi Manusia (HAM) karena penjajahannya terhadap Palestina yang membabi buta hingga merenggut nyawa puluhan ribu jiwa tak bersalah.

Para wartawan Indonesia tersebut seharusnya bersikap tegas terhadap Israel seperti amanat yang tertuang dalam Pembukaan UUD 1945. Dengan tegas Indonesia menolak segala bentuk penjajahan sebagaimana yang dilakukan oleh Israel terhadap Palestina serta menuntut untuk segera dihapuskan demi mewujudkan kemerdekaan secara mutlak bagi rakyat Palestina.

Karena itu, sebelum lupa dan terlanjur jauh melangkah, alangkah bijaknya kalau kelima wartawan senior ini meminta maaf kepada bangsa Indonesia, karena telah mengkhinati dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dan bahkan bisa disebut telah melanggar Pasal 2 UU Nomor 37 Tahun 1999 tentang Hubungan Luar Negeri.

Tulisan ini, penulis buat bukan karena benci, dengki atau ingin mencaci maki kelima wartawan senior yang sepak terjangnya mungkin sudah tinggi. Penulis hanya ingin mengingatkan tatkala para seniornya ‘melupa diri’ ataupun mungkin sedang ‘tak sadarkan diri’.

Tak lebih, penulis hanya sekadar ingin mengajak untuk senantiasa bersikap mawas diri serta merenung sejenak bagaimana menumbuhkan sikap peduli, simpati serta empati terhadap sesama. Terlebih kepada rakyat Palestina yang hingga kini sumber daya alam dan manusianya terus menerus dieksploitasi oleh penjajah Israel untuk kepentingannya sendiri. Atau dalam bahasa Prancis yang sering dikutip Bung Karno “Exploitation de I’homme par I’homme”.

Bayangkan, kalau seandainya rakyat Palestina yang terbunuh oleh pasukan Israel di bawah pimpinan Benjamin Netanyahu adalah saudara kita. Entah itu saudara laki-laki atau perempuan, anak laki-laki atau perempuan, bahkan kedua orang tua kita. Lantas, masihkah bersedia untuk ‘berjabat tangan’ dengan tokoh yang tangannya penuh darah dari keluarga kita itu?

Semoga apa yang telah terjadi pada kelima wartawan senior beberapa media ternama ini, hanya karena khilafnya seorang manusia yang memang tempatnya lupa dan keliru. Pun tak terkecuali dengan diri penulis yang bisa juga berbuat salah. Namun, bukan berarti usai berbuat kesalahan terus berdiam diri. Mumpung masih belum terlambat, mari kita sama-sama berbenah diri supaya kejadian serupa tak terulang kembali di kemudian hari. Wa Allahua’lam bishowab.*

Penulis adalah wartawan

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:israelkunjunganpalestinawartawanyahudi
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Sterilkan Rumah Kita dari Penyakit Homoseksual
Tulisan selanjutnya Eks Presiden Israel Moshe Katsav Tidak Menyesali Pemerkosaan yang Dilakukannya

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Erdogan: ‘Israel’ Ingin Hapus Palestina, Mendukung Kemerdekaannya adalah Tanggung Jawab Umat Islam

Berita
13 Agustus 2026 15:00
MUI Kecam Promosi Miras Pakai Tantangan Hafalan Surat Ad-Dhuha
Kecam Pengakuan Kolombia atas Kedaulatan ‘Israel’ di Golan, Oman: Melanggar Hukum Internasional
Haedar Nashir: Indonesia Milik Bersama, Kemakmuran Rakyat Harus Menjadi Agenda Utama
LPPOM Raih Indonesia Public Relations Awards 2026 Kategori Corporate Reputation

Terbaru

  • Takuti Warga ‘Israel’, Netanyahu Pajang Wajah Para Pemimpin Muslim di Baliho Pemilu
  • Raja Yordania akan Melawat ke China
  • Kantor Perdana Menteri Pemerintah Kurdistan Diserang Drone
  • HUT ke-81 RI, MUI: Mari Jaga Moral Bangsa dari Penyimpangan Seksual
  • Haedar Nashir: Indonesia Milik Bersama, Kemakmuran Rakyat Harus Menjadi Agenda Utama
  • Syair Ahmad Baktsir dan Detak Jantung Diplomasi Kemerdekaan RI di Kairo
  • Turki dan Saudi Perkuat Kerjasama Energi, Usai Sepakati Pakta Pertahanan Makkah
  • 22 Persen Yahudi ‘Israel’ Dukung Usir Warga Palestina ke Luar Negeri
  • Iran Hadiahi Rp480 Juta Warganya yang Berhasil Tangkap atau Bunuh Tentara AS
  • Perang Iran Dongkrak Penjualan Truk Listrik China

Mungkin Anda Juga Suka

Opini

Mendudukkan Kasus Kejahatan Seksual di FHUI

24 April 2026 20:20
Opini

Flotilla Indonesia to Gaza 2.0: Peluang, Tantangan, Transparansi

13 April 2026 18:00
ArtikelOpini

Menyikapi Fenomena ‘Cocoklogi’: Mengaitkan Peristiwa Kontemporer dengan Nubuat Akhir Zaman

18 Maret 2026 09:00
Opini

Board of Peace dan International Stabilization Forces: 5 Tanda Bahaya bagi Diplomasi Indonesia

20 Februari 2026 16:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?