Lanjutan artikel PERTAMA
Hidayatullah.com | DALAM artikel sebelumnya dijelaskan 1-5 adab dzohir (dari 10 adab) membaca Al-Quran yang penulis nukil-terjemahkan secara ringkas dari kitab Ihya’ Ulumuddin karangan Imam Ghozali. Di bawah ini lanjutanya.
6. Memperhatikan hak setiap ayat. Kalau bertemu ayat sajdah maka tunaikan sujud tilawah. Begitu juga kalau mendengar orang lain membaca ayat sajdah lalu sujud. Dalam sujud ini seluruh persyaratan sholat seperti; menutup aurat, menghadap kiblat, kesucian pakaian, tempat dan badan; juga menjadi persyaratannya.
7. Berdoa pada awal dan akhir bacaan. Pada awal dianjurkan membaca:
أَعُوْذُ بِاللهِ السَّمِيعِ الْعَلِيمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيم، رَبِّ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ هَمَزَاتِ الشّياَطِيْنِ وَأَعُوذُ بِكَ رَبِّ أَنْ يَحْضُرُوْن.
Lalu membaca surat an-Nas dan al-Fatihah.
Ketika selesai dianjurkan membaca:
صَدَقَ اللهُ الْعَظِيْم وَبَلَغَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم، اَللَّهُمَّ انْفَعْنَا بِهِ وَبَارِكْ لَنَا فِيْهِ، اَلْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْن، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْحَيُّ الْقَيُّوْم.
Dalam pertengahan bacaan jika melewati ayat tasbih maka bertasbih dan bertakbir. Jika melewati ayat do’a dan istighfar maka turut berdoa dan beristighfar. Kalau melewati ayat yang bercerita tentang hal-hal yang kita inginkan maka kita meminta pada Allah SWT. Jika melewati hal-hal yang tidak kita inginkan maka kita berlindung pada-Nya dari hal itu. Hendaknya itu dilakukan baik dengan lisan maupun dengan hati. Bisa dengan mengucapkan:
سُبْحَانَ الله، نَعُوْذُ بِاللهِ، اَلَّلهُمَّ ارْزُقْنَا، اَلَّلهُمَّ ارْحَمْنَا
Khudzaifah RA berkata, “Aku pernah sholat bersama Rasulullah ﷺ lalu beliau memulai dengan surat al-Baqoroh. Tidaklah beliau melewati ayat rahmat kecuali memohonnya, atau ayat adzab kecuali berljndung darinya, atau ayat yang menyucikan Allah SWT kecuali bertasbih.”
Dan ketika telah mengkhatamkan Al-Quran hendaknya membaca apa yang dibaca Rasulullah ﷺ:
اَللَّهُمَّ ارْحَمْنِي بِاْلقُرْآنْ، وَاجْعَلْهُ لِيْ إِمَامًا وَنُوْرًا وَهُدًى وَرَحْمَة, اَللَّهُمَّ ذَكِّرْنِيْ مِنْهُ مَا نَسِيْتُ وَعَلِّمْنِيْ مِنْهُ مَا جَهِلْتُ وَارْزُقْنِي تِلاَوَتَهُ آنَاءَ الْلَيْلِ وَأَطْرَافَ النَّهَارِ وَاجْعَلْهُ لِيْ حُجَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيِنَ
8. Mengeraskan suara. Membaca Al-Quran hingga terdengar orang lain memiliki dua sisi hukum. Di satu sisi disunnahkan, tapi di sisi lain dimakruhkan.
Hal tersebut disunnahkan bagi mereka yang tidak khawatir timbul riya’ dalam hatinya dan tidak khawatir mengganggu orang yang sedang sholat. Karena amal yang dikerjakan lebih banyak dari pada yang melirihkannya.
Faedah membacanya dengan jahr sangat banyak seperti; menghidupkan hati pembacanya dan menambah keinginan untuk merenungi apa yang dibaca, membuat pendengaran ikut menyimak, menghilangkan rasa kantuk, menambah semangat untuk terus membacanya dan mengurangi rasa malas. Membaca dengan jahr juga dapat diniatkan membangunkan orang tidur sehingga ia menjadi sebab kebaikan bagi orang lain. Bisa jadi seorang yang lalai ketika melihat dan mendengar ada seseorang yang membaca Al-Quran tumbuh semangat dan kerinduan untuk beribadah.
Jika niat-niat tadi terpatri dalam hati seseorang maka baginya membaca Al-Quran dengan jahr lebih utama dari pada melirihkannya. Adapun membaca jahr dihukumi makruh bagi mereka yang khawatir akan timbulnya riya’ dan mengganggu orang yang sedang shalat.
9. Memperindah bacaan. Mentartilkan bacaan dan meliukkan suara untuk memperindah bacaan Al-Quran merupakan hal yang disunnahkan selama tidak berlebihan hingga mengubah nadzom Al-Quran. Rasulullah ﷺ bersabda, “Hiasilah Al-Quran dengan suara kalian.”
10. Disunnahkan memperindah dan memperjelas tulisan Al-Quran. Tidak mengapa memberikan titik ataupun tanda dengan tinta merah dan selainnya.*/Auliya el Haq