SAAT itu Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam (SAW) belum beranjak dari kediaman Abu Thalib yang baru saja meninggal. Hatinya masih sangat terpukul dengan kejadian tersebut. Betapa tidak, paman yang selama ini merawat Nabi sejak kecil dan menolongnya dalam urusan agama ternyata mati dalam keadaan kufur. Saudara kandung ayahnya itu mati sedang Nabi sendiri berada tepat di sampingnya menemani ketika ia mengerang dalam sakarat maut.
Bagi Nabi Muhammad hal ini adalah sebuah pukulan yang sangat hebat. Suatu keputusan takdir yang memerihkan hati siapa pun yang mengalami hal tersebut ketika orang yang dicintai “terpaksa” mati dalam kondisi tidak beriman kepada Allah Ta’ala; Ketika apa yang manusia idamkan rupanya tak sejalan dengan keputusan Sang Pemilik kuasa. Namun di saat-saat seperti itulah Allah datang menyapa kekasih-Nya. Allah menunjukkan kuasa-Nya yang tak seorang pun dapat menolak takdir tersebut. Allah menegaskan;
إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَن يَشَاءُ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ
“Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk”. (al-Qashash [28]: 56).
Penggalan kisah tersebut di atas diceritakan oleh Imam at-Thabari dalam karya monumentalnya, Kitab Tafsir Jami’ al-Bayan fi Ta’wil al-Qur’an. Peristiwa meninggalnya Paman Abu Thalib terjadi pada tahun ke-10 kerasulan Muhammad SAW di kota Makkah. Ketika itu bukan hanya Rasulullah yang terpukul, namun seluruh kaum Muslimin merasakan keperihan yang sama. Meski berbeda keyakinan, tapi Abu Thalib ialah sosok pengayom yang rela menjadi tameng buat umat Islam di Makkah selama ini.
Meski sempat mengguncang keimanan, tapi sesungguhnya hal ini sekaligus hiburan bagi jiwa Nabi yang dilanda lara. Sebuah pelajaran penting yang tak pernah usang dimakan usia. Nasihat berharga buat manusia, bahwa dia adalah makhluk yang tak berdaya. Sedangkan pemilik kuasa mutlak hanyalah Allah Sang Khaliq sendiri. Tak pantas bagi seorang Nabi meratapi ketetapan Allah. Sebagai penyeru kebaikan, Rasulullah hanya dibebani untuk berusaha dan berdakwah serta mendoakan umatnya. Dia tidak mampu memberi hidayah yang menjadi hak preogatif Allah semata.
Hakikat Hidup Manusia
Inilah hakikat kehidupan manusia. Tak semua apa yang dia inginkan lalu bisa berwujud nyata. Tidak setiap hasrat yang terbetik dalam hati manusia bisa dia gapai dalam hidupnya. Sebab manusia hanya mampu berusaha dan berdoa, sedang titik ketetapan berada dalam genggaman Allah Penguasa langit dan bumi.
Manusia adalah makhluk lemah, ia tercipta dari setetes air yang hina. Namun demikian, terkadang ia justru lupa dengan kodratnya sebagai makhluk tak berdaya.
Dengan angkuhnya seringkali manusia memaksakan setiap kehendaknya. Seolah apa yang ia inginkan niscaya berakibat baik pada dirinya. Menyangka bahwa setiap perbuatannya adalah hal yang benar. Akibatnya, yang terbingkai di alam fikiran manusia hanyalah kavlingan “kenikmatan” semata. Pokoknya dirinyalah yang harus benar, hidupnya harus bahagia, tidak boleh gagal, dan seluruh kesenangan lainnya. Manusia seperti ini akan menentang jika suatu saat mendapati dirinya mengalami sakit, sebagaimana dia bisa-bisa mengutuk dirinya dan orang-orang di sekitarnya kalau ternyata ia lalu gagal dalam suatu urusan.
Sejak dini Allah mengingatkan hal ini, firman Allah, “Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat akan kebesaran Allah.” (adz-Dzariyat [51]: 49).
Tak sedikit manusia lalai akan fitrah kehidupan ini. Seluruh yang diciptakan Allah memiliki pasangan masing-masing. Ada sehat ada sakit, ada bahagia ada sengsara. Tak selamanya jalan yang kita tempuh itu lempang lurus ke depan. Sebab sesekali kita membutuhkan kelokan yang sedikit tajam untuk sampai ke tujuan. Jika selama ini perjalanan seseorang menanjak naik, maka boleh jadi ada saat dimana dia “wajib” menuruni jurang yang terjal agar sampai dengan selamat.
Hendaknya seorang Muslim menyadari adanya misi besar Ilahi di balik duka yang dia ratapi kini. Ada mutiara hikmah yang menarik ditelusuri di balik luka yang menggores cita-citanya. Semoga orang itu senantiasa sadar akan kebesaran Allah, Sang Pencipta alam semesta. Menyadarkan dirinya bahwa kodrat hakiki seorang manusia adalah makhluk yang tak berdaya di hadapan kuasa Allah Ta’ala. Meyakini bahwa apapun yang luput dari manusia karena dia memang tak berhak menikmati dan memiliki hal itu.
Bersedih atas sesuatu yang luput dari keinginan seseorang adalah suatu hal yang manusiawi. Sebab dia adalah warna indah dalam bingkai kehidupan manusia. Namun bagi seorang Muslim, hal yang keliru jika dia larut dalam kesedihan. Alih-alih menenangkan hati, tak jarang orang itu lalu terjebak untuk mencari kambing hitam suatu permasalahan. Alhasil, demi melampiaskan kejengkelan jiwanya, kiri kanan ia lalu menuding orang-orang di sekitarnya, tanpa peduli lagi apakah dia kawan atau lawan. Sengaja dia menempuh cara ini, sebab hakikatnya dia sedang berupaya menutupi aib dan kelemahan pada dirinya sendiri.
Kebaikan yang Bernilai
Kisah tragis yang dialami Abu Thalib juga menyimpan pelajaran berharga lainnya, bahwa keimanan itu adalah syarat mutlak kebahagiaan. Sejarah mencatat, kebaikan apalagi yang belum dikorbankan Abu Thalib kepada keponakan tersayangnyaShallallahu alaihi wasallam. Sejak usia remaja, Abu Thalib telah menanggung hidupnya hingga sampai titik klimaks, ketika Sang Paman harus berlawanan dengan seluruh tokoh Qurasiy Makkah yang menentangnya ketika itu. Semata-mata karena perlindungannya terhadap Nabi Muhammad.
Namun di akhir hayatnya, semua kebaikan Abu Thalib sirna begitu saja karena tak berdasar pada pondasi keimanan kepada Allah. Layaknya kumpulan partikel debu di sekeliling kamar, benda itu beterbangan tak tentu kemana arahnya. Kisah Abu Thalib adalah potret riil ending sebuah kebaikan yang tak berbalut keimanan. Usia kebaikannya hanya sebatas umurnya di dunia. Tak mampu menolong pelakunya sedikitpun di Hari Pembalasan nanti. Boleh jadi orang-orang di sekelilingnya hanya mampu bergumam, ia adalah orang yang berbuat baik kepada sesamanya.
Perbuatan seperti itu hanya bernilai di mata manusia namun menjadi sia-sia di sisi Allah. Sebab ia bukan amalan shalih yang memiliki keberkahan bagi pelakunya.
Di akhirat amal kebaikan orang kafir akan tereliminasi, seperti abu yang ditiup angin, sebagaimana firman Allah:
مَّثَلُ الَّذِينَ كَفَرُواْ بِرَبِّهِمْ أَعْمَالُهُمْ كَرَمَادٍ اشْتَدَّتْ بِهِ الرِّيحُ فِي يَوْمٍ عَاصِفٍ لاَّ يَقْدِرُونَ مِمَّا كَسَبُواْ عَلَى شَيْءٍ ذَلِكَ هُوَ الضَّلاَلُ الْبَعِيدُ
“Orang-orang yang kafir kepada Tuhannya, amalan-amalan mereka adalah seperti abu yang ditiup angin dengan keras pada suatu hari yang berangin kencang. Mereka tidak dapat mengambil manfaat sedikit pun dari apa yang telah mereka usahakan (di dunia). Yang demikian itu adalah kesesatan yang jauh.” (QS: Ibrahim [14]:18).*/Masykur, dosen Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS) Pesantren Hidayatullah, Balikpapan)