Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Gaya Hidup Muslim

Muslim Sejati Tidak Akan Diperbudak Harta

Ahmad
Terakhir diupdate: 30 Agustus 2021 08:37 8:37 am
Ahmad
Dipublikasikan 7 Mei 2021 09:30
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com | JUDUL di atas mungkin agak aneh, sebab di era modern ini tidak lagi dikenal istilah perbudakan. Terlebih dengan massifnya propaganda soal Hak Asasi Manusia.

Akan tetapi, sesungguhnya perbudakan itu tetap ada. Imam Ghazali kala membahas makna fakir dalam Ihya Ulumuddin berkata, “Hati yang terikat dengan kesenangan terhadap harta itu laksana budak. Dan, orang yang merasa kaya dari harta itu laksana orang merdeka.”

Lihatlah keseharian umat manusia. Ada yang mati-matian, siang dan malam banting pulang demi harta.

Jika cara yang wajar tak menjanjikan, ia pun menerobos (melanggar) syariat dengan menanggalkan sifat amanah yang mesti ia pegang teguh. Korupsi, riba, dan menipu menjadi jalan yang dianggap rasional di zaman seperti sekarang.

Bahkan tekad manusia untuk mengumpulkan harta sangat luar biasa. Ada yang berani menantang regulasi demi bisa bekerja meski harus ke luar negeri. Ada yang rela menyogok demi tercapai keinginan hati, baik masuk fakultas favorit di universitas atau pun diterima sebagai pegawai atau pun aparat di institusi negara.

Baca Juga

Gaya Hidup Minimalis: Kunci Kesehatan Mental di Tengah Hidup Serba Cepat
Sya’ban Tangga Penting Sukses Ramadhan
Teladan Rasulullah untuk Para Suami
Tawakkal dalam Bekerja
Awasi Makananmu, Selamat Hidupmu!

Bahkan orang yang terdidik pun, sekolah hingga ke luar negeri, kala menjadi seorang pejabat, tiba-tiba berubah, seolah tak pernah sekolah. Ilmunya tak lagi diarahkan untuk mensejahterakan rakyat, tetapi menjilat siapa yang telah mengangkatnya menjadi pejabat.

Sikap demikian adalah bukti bahwa tidak sedikit manusia yang menghamba pada harta, sehingga ia rela diperbudak oleh harta. Akal sehat, ilmu, dan kecemerlangan berpikir menjadi tumpul. Semua ucapan dan tindakan sesuai dengan titah yang menjanjikan harta kepadanya.

Baca: Gila Harta, Sumber Malapetaka

Padahal, Nabi, istri-istrinya dan para sahabat sangat merdeka, meski harta dalam genggaman mereka.

Suatu waktu Sayyidah Aisyah radhiyallahu anha diberi seratus ribu dirham. Maka ia pun mengambilnya, dan segera membagi-bagikan pada hari itu juga. Lalu pembantu Aisyah bertanya, “Apakah engkau tidak mampu pada yang engkau bagi-bagikan hari ini seandainya engkau membeli untuk kita dengan satu dirham saja daging yang bisa kami gunakan berbuka puasa?”

Dengan spontan, istri Nabi itu menjawab, “Seandainya engkau mengingatkanku, niscaya akan aku lakukan.”

Demikianlah idealnya sikap seorang Muslim. Senantiasa menjadikan harta sebagai jalan mendapatkan ridha Allah Ta’ala. Bukan malah mengutamakan angan-angan, kesenangan-kesenangan yang justru akan semakin menjauhkannya dari keimanan.

Tetapi, faktanya tidak demikian. Lihat saja fakta berupa belum terealisasinya potensi zakat di Indonesia yang mencapai ratusan triliun. Mengapa itu terjadi? Bukan tidak ada umat Islam yang kaya, tetapi belum banyak yang benar-benar kaya, sehingga kekayaan berupa harta terus membelenggunya untuk tidak meningkat iman dan taqwanya.

Belumlah sifat seperti sahabat Nabi, Abdurrahman bin Auf radhiyalluh anhu.

Kepada para sahabatnya ia berkata, “Aku sangat khawatir kalau-kalau aku ini termasuk orang yang dicepatkan mendapat kebaikan di dunia, tapi tertahan dan tak dapat menyusul teman-temanku (di akhirat), di sebabkan kekayaanku yang berlimpah-limpah ini.”

Oleh karena itu, Allah menjelaskan bahwa orang yang mau menginfakkan hartanya, meminjamkan hartanya di jalan Allah, sebagai orang-orang yang bertaqwa dan kelak akan mendapatkan Surga.

Baca: Kuasailah Harta, Jangan Dikuasai!

Terlebih mereka yang mau berinfak di kala lapang maupun sempit.

الَّذِينَ يُنفِقُونَ فِي السَّرَّاء وَالضَّرَّاء وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُواْ فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُواْ أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُواْ اللّهَ فَاسْتَغْفَرُواْ لِذُنُوبِهِمْ وَمَن يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلاَّ اللّهُ وَلَمْ يُصِرُّواْ عَلَى مَا فَعَلُواْ وَهُمْ يَعْلَمُونَ

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS. Ali Imran [3]: 133-134).

Agar jiwa tidak diperbudak harta, Allah pun memerintahkan umat Islam untuk peduli dengan memperhatikan kebutuhan makan anak-anak yatim dan yatim piatu. Memperhatikan kebutuhan makan orang-orang miskin. Bahkan, jika ada seorang Muslim memiliki harta melimpah, ibadah luar biasa, namun tetangganya dibiarkan kelaparan, sungguh Allah sangat murka kepada perangai yang demikian.

Lantas, bagaimana sikap ideal kita sebagai Muslim, menjauhi harta, mencarinya atau seperti apa?

Baca: Jangan Mengejar Sukses Dunia, Lupa Akhirat

Imam Ghazali memberikan contoh konkret terkait ini.

“Dan sesungguhnya telah dibawa kunci-kunci bumi kepada Rasulullah ﷺ, dan kepada Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khathab radhiyallahu anhu, maka mereka itu mengambilnya dan meletakkannya pada tempatnya.

Mereka tidak lari dari harta itu. Karena bagi mereka berdua itu sama makna antara harta, air, emas dan batu. Dan tidak diriwayatkan dari mereka bahwa mereka itu menolak harta-harta dimaksud.”

Makna tersiratnya adalah hendaknya kita sebagai Muslim dalam kondisi apapun jangan sampai diperbudak oleh harta. Apa arti negara merdeka jika jiwa manusianya terjajah? Seorang Muslim yang sejati memandang harta sebagai alat, senjata, atau pun sarana untuk mendapatkan keridhaan Allah.

Untuk itu, sekiranya datang kepadanya harta yang menawar harga imannya, ia pun menolak. Sebab iman tak ternilai, tak terharga berapapun juga. Demikian itu membuatnya semakin merdeka dari perbudakan dimana banyak manusia justru lengah.

Dan, sekiranya harta itu datang untuk menguatkan iman dan keluarganya, maka ia pun semakin giat dalam menebar rahmat ke seluruh muka bumi.

Harta yang dimilikinya menjadikan ia semakin bersemangat untuk menjangkau tempat-tempat yang penduduk suatu negeri jarang atau bahkan tak pernah dikunjungi pemimpin lain di muka bumi. Ia bangun sekolah, rumah sakit, dan ia sejahterakan penduduknya.

Andai ia seorang pengusaha, setiap hari ia akan mencari dimana anak-anak yang bisa dibiayai untuk belajar, dibangunkan fasilitas umumnya, dan disejahterakan masyarakatnya. Dimana semua itu dilakukan atas dasar iman demi tegaknya peradaban Islam.

Adakah kita menghendaki yang demikian? Semoga. Wallahu a’lam.*

Redaktur: Ahmad
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:budakdiperbudakduniafakirhartakajian islammiskinMuslimMuslim sejati
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Muslim Bangsamoro Ramadhan Geliat Ekonomi Muslim Filipina di Bangsamoro Selama Pandemi
Tulisan selanjutnya Suasana Shalat Tarawih di Masjidil Haram, Arab Saudi Menag Terbitkan Panduan Idul Fitri Khutbah Maksimal 20 Menit

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Board of Peace Sebut Hamas dan Kelompok Perlawanan Palestina Lain Setuju Serahkan Senjata

Berita
28 Agustus 2026 11:26
Trump Mengklaim ‘Israel’ Tak Akan Bertahan Tanpa Dirinya
STAI Al Bayan Gelar Wisuda Angkatan II, Ketum DPP Hidayatullah Pesankan Alumni Kuatkan Takwa Hadapi Tantangan Zaman
10 Ribu Porsi Bakso untuk Ukhuwah di Muktamar NU
Erdogan: Militer Turki Sedang Berada pada Periode Terkuat dalam Sejarahnya

Terbaru

  • Studi: Kokain Lampaui Minyak, Jadi Sektor Ekspor Terbesar Kolombia
  • Trump Mengklaim ‘Israel’ Tak Akan Bertahan Tanpa Dirinya
  • Erdogan: Militer Turki Sedang Berada pada Periode Terkuat dalam Sejarahnya
  • Komandan ‘Israel’ Tak Menyesal Perintahkan Serangan yang Tewaskan 7 Relawan WCK
  • PM Spanyol Sebut Rusia dan ‘Israel’ Sebarkan Hoaks Krisis Imigran Ceuta
  • Irak Tolak Kehadiran Pasukan Koalisi AS, Harus Pergi pada 30 September
  • Pimpin APHIDA 2026-2030, Fadlurrahman: Bidik Penguatan Bisnis Jamaah hingga Pasar Global
  • DPP Hidayatullah Dorong APHIDA Perkuat Kolaborasi dan Jaringan Bisnis untuk Hidayatullah
  • Pelacur Thailand akan Kedatangan Pelanggan Potensial 5 Ribu Tentara Amerika
  • UEA Bantah Laporan Serangan di Pangkalan Udara Al Minhad

Mungkin Anda Juga Suka

Gaya Hidup Muslim

Hati-Hati dalam Timbangan dan Takaran

16 November 2022 11:58
Gaya Hidup Muslim

Beginilah Islam Memuliakan Pembantu

7 November 2022 13:30
Gaya Hidup Muslim

Sibuk Mengoreksi Diri Sendiri

18 Oktober 2022 09:00
Gaya Hidup Muslim

Berapa Kali Kita Mengkhatamkan Al-Quran?

9 Oktober 2022 08:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?