Oleh Ahmad Rifai*
عن عبد الله بن بسر – رضي الله عنه – قال : قال رسول الله – صلى الله عليه وسلم – : ( طوبى لمن وجد في كتابه استغفاراً كثيراً ) رواه ابن ماجه والنسائي والطبراني
Dari Abdullah bin Bisr RA berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Beruntunglah orang yang menjumpai catatan amalannya istighfar yang banyak.” (Riwayat Ibnu Majah, an-Nasa’i, dan ath-Thabrani).
Hidayatullah.com–Bagi orang beriman, istighfar adalah kebutuhan. Sebab keimanan tidak serta merta menyelamatkan dari berbuat dosa.
Iman pun bisa bertambah dan berkurang. Saat berkurang itulah seorang Mukmin rentan terjerumus dalam kesalahan.
Selain rentan berbuat dosa, manusia cenderung mudah melupakannya. Dosa yang terlupa membuat seseorang merasa tidak ada dosa atau sedikit berbuat dosa. Inilah kelemahan yang sangat membahayakan. Jika tidak disiasati dengan istighfar, sangat mungkin kesalahan menumpuk tanpa disadari.
Jadi, istighfar sejatinya adalah karunia Allah SWT bagi orang beriman. Kerugian besar jika catatan amal kita sepi dari lafaz-lafaz istighfar. Sebab saat kiamat terjadi, manusia sangat butuh sesuatu yang menyelamatkannya dari siksa dan hukuman.
Kebutuhan Darurat
Hadits di atas sebagai motivasi untuk memperbanyak istighfar. Istighfar bisa menjadi solusi dari setiap permasalahan serta sarana untuk menutup sumber tersebut.
Dalam Hadits di atas, kata thuba berasal dari kata thayyib yang artinya baik. Jadi, makna thuba adalah keadaannya baik, kehidupannya menyenangkan. Ada juga yang menafsirkan lafaz thuba dengan nama pohon di surga. (Lihat Mirqatul-Mafatih Syarah Misykatul-Mashabih karya Ali bin Sulthon Muhammad al-Qori, 4/1632).
Penjelasan di atas menunjukkan betapa sentralnya peran istighfar. Hal itu bisa mengundang datangnya beragam nikmat dunia.
Allah SWT berfirman ketika menceritakan Nabi Nuh AS:
فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا . يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا . وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا
“Maka Aku katakan kepada mereka: ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, -sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.” (Nuh [71]: 10-12).
Sedangkan di akhirat, seseorang bisa selamat dari hukuman atas dosanya disebabkan oleh istighfar. Saat Allah SWT menyerahkan catatan amal, manusia terperangah. Tak secuilpun amalan baik atau buruk kecuali tercatat di dalamnya.
Bagi yang catatan buruknya sangat banyak, sudah pasti menyesal. Bahkan orang kafir berandai dijadikan tanah saja setelah melihat akibat yang akan diterimanya disebabkan dosa yang diperbuatnya.
Berbeda dengan orang yang menjumpai catatannya penuh dengan istighfar. Kecemasan, penyesalan, dan rasa takutnya (ketika di dunia) berganti dengan optimis dan keceriaan. Allah SWT mengampuninya. Ia tetap merasakan kebahagiaan di saat orang lain ketakutan dan cemas oleh siksaan yang menantinya.
Mencermati fungsi istighfar, tidak berlebihan jika para ulama menganggapnya sebagai kebutuhan yang bersifat darurat.
Ibnu Taimiyah berkata, “Maka seorang hamba butuh kepada istighfar siang dan malam bahkan sangat mendesak (mudhtharr) baginya untuk selalu istighfar pada setiap ucapan dan keadaan, dalam keadaan sendiri atau di depan orang. Sebab dalam istighfar terdapat maslahat dan menghadirkan kebaikan dan mencegah keburukan. Melalui istighfar, seseorang meminta tambahan kekuatan dalam amalan hati, fisik, dan meminta tambahan keyakinan dan keimanan.” (Majmu’ul-Fatawa, 11/696).
Istighfar Setelah Berbuat Baik
Istighfar tidak selalu identik dengan berbuat keburukan. Jika memperhatikan nash al-Qur’an dan Hadits, hal itu juga diperintahkan setelah berbuat kebaikan.
Contohnya ketika selesai shalat, beristighfarlah tiga kali. Demikian pula setelah berwudhu, bermajelis ilmu, juga diajarkan doa yang kandungannya meminta ampun kepada Allah SWT. Apa hikmahnya?
Syaikh Abdurrahman bin Nashir Ass’adi berkata, “Dan demikianlah sudah sepantasnya seorang hamba setiap kali menuntaskan suatu ibadah agar beristighfar atas kekurangan yang ada di dalamnya dan bersyukur atas nikmat diberikannya taufiq menjalankan ibadah tersebut.” (Taisirul-Karimirrahman fi Tafsiril-Kalamil-Mannan, hal 92).
Kebaikan yang kita lakukan jauh dari kata sempurna. Ada celah dan kekurangan terutama yang berkaitan dengan keikhlasan dan kekhusyukan.
Para ulama salaf cukup merasakan hal itu. Mereka mengatakan bahwa tidak ada yang lebih berat untuk dilatih selain keikhlasan. Melalui istighfar, celah dan kekurangan itu ditutupi.
Ibnu Taimiyah berkata, “Istighfar itu mengeluarkan seorang hamba dari perbuatan yang dibenci menuju perbuatan yang disukai, dari amalan yang kurang menuju amal yang sempurna. Istighfar juga mengangkat seorang hamba dari posisi yang rendah menuju posisi yang tinggi dan sempurna.” (Majmu’ul-Fatawa, 11/696).
Istighfar Tanda Keshalihan
Keshalihan adalah tujuan dan target yang ingin dicapai setiap orang beriman. Cita-cita merebut surga tidak bisa terpisahkan dari keshalihan. Salah satu tanda keshalihan adalah tekun dan istiqamah beristighfar. Semakin tekun beribadah, semakin sadar jika kesalahannya sangat banyak.
Inilah yang tergambar begitu indah dalam kehidupan para salaf. Di tengah dahsyatnya amal shalih yang ditorehkan, mereka juga selalu merintih dan menangis atas dosa yang dilakukan. Mereka memiliki cara pandang yang teliti dalam melihat dosa dan kesalahan.
Ibnu Rajab berkata, “Dan mereka para salaf selain bersungguh-sungguh dalam beramal shalih saat sehat, juga selalu memperbaharui taubat dan istighfar ketika sakit menjelang wafat dan berusaha menutup amalannya dengan istighfar dan kalimat tauhid.” (Lathaiful-Ma’arif, hal 362).
Di antara mereka bahkan ada yang mengatakan, sekiranya dosa itu ada bau busuknya, niscaya tidak ada yang bisa duduk di sampingku.
Kondisi seperti inilah yang mengiringi perjalanan hidup para salafus-shalih. Mereka tidak pernah terbuai dengan amal-amal istimewa yang pernah dilakukan.
Amru bin Ash, seorang sahabat yang telah mengukir prestasi gemilang di medan jihad, berkata menjelang wafatnya, “Ya Allah, Engkau memerintahkan kepada kami lalu kami bermaksiat, Engkau melarang kami tapi kami melakukannya dan kami tidak dapat lolos dari akibat dosa itu kecuali ampunan-Mu, tidak ada sesembahan yang benar kecuali Engkau..” Ia mengulang-ngulangnya hingga wafat.” (Lathaiful-Ma’rif, hal 362).*
*Pengajar di Pesantren Hidayatullah Balikpapan
Tonton video Kisah Saudagar China Masuk Islam di sini