IMAM ABDULLAH BIN MUBARAK saat itu bertetangga dengan seorang Yahudi. Dan si tetangga berencana menjual rumahnya, sehingga ada seseorang yang bertanya mengenai harga rumahnya,”Engkau menjual dengan harga berapa?” Si tetangga pun menjawab,”Dua ribu.”
Si penanya menyampaikan,”Harga rumahmu ini mestinya seribu.” Si Yahudi menjawab,”Engkau benar, akan tetapi seribu untuk harga rumah dan seribu lagi untuk tetangga Ibnu Mubarak.” (Al Makarim wa Al Mafakhir, hal. 23)
Memiliki tetangga baik, apalagi seperti Ibnu Mubarak, merupakan sebuah kenikmatan bagi si Yahudi. Sehingga, ia menilai bahwa dirinya tidak hanya menjual rumahnya, tetangganya yang baik juga memiliki harga tersendiri./Hidayatullah.com