IMAM AHMAD suatu saat memperoleh kabar bahwa ada seseorang di wilayah Wara’ An Nahar (Asia Tengah) yang memiliki hadits tsulastiyat (yakni hadits yang antara orang yang mengeluarkan dan Rasulullah ada tiga perawi). Maka Imam Ahmad melakukan perjalanan untuk menemui orang tersebut.
Akhirnya Imam Ahmad bertemu dengan seorang syeikh yang sedang memberi makan seekor anjing. Imam Ahmad pun menyampaikan salam dan dibalas oleh syeikh tersebut, namun ia kembali sibuk memberikan makanan kepada anjing.
Setelah syeikh itu selesai memberi makanan anjing, Imam Ahmad pun menyampaikan,”Sepertinya Anda lebih memperhatikan anjing tersebut daripada saya?” Syeikh tersebut menjawab,”Iya, telah sampai kepadaku sebuah hadits dari Abu Az Zanad dari Al A’raj dari Abu Hurairah Radhiyallahuanhu, bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda,’Barang siapa memutuskan harapan siapa yang menaruh harapan kepadanya, maka Allah akan memutuskan harapannya dari-Nya di hari kiamat dan dia tidak masuk surga.’ Dan negeri kami ini bukanlah negeri yang dihuni oleh anjing, sedangkan anjing ini datang kepadaku, maka aku takut memupuskan harapannya.
Imam Ahmad pun menyatakan,”Hadits tersebut cukup bagi saya”. Lalu Beliau pun kembali pulang. (Ghidza’ Al Albab, 2/60).
Para ulama berusaha tidak memutuskan harapan kepada siapa yang mengharap padanya, meski hanya kepada seekor anjing.