MESKI keturunan Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam, ulama shalih Madinah, Zain Al Abidin pun tidak terbebas dari fitnah, dimana suatu saat ada seseorang yang melancarkan fitnah terhadapnya. Merespon fitnahan itu, Zain Al Abidin pun berkata kepada si pemfitnah,”Jika yang engkau sampaikan itu benar, maka aku meminta ampun kepada Allah. Namun jika yang engkau sampaikan tidak benar, maka semoga Allah mengampuni Anda”.
Lelaki yang telah memiftnah itu pun akhirnya meminta maaf dan mencium kepala Zain Al Abidin dan mengaku bersalah,”Engkau tidak seperti yang aku katakan, maka mintakanlah ampun untukku kepada Allah”. Zain Al Abidin pun menjawab,”Semoga Allah mengampuni Anda”.
Di kesempatan lain, ada seorang yang memaki Zain Al Abidin saat pulang dari masjid, sehingga orang-orang yang lain pun segera menyerang laki-laki yang telah memaki itu. Zain Al Abidin pun mencegah mereka hingga laki-laki itu selamat. Kemudian Zain Al Abidin pun berkata,”Anda tidak mengetahui banyak mengenai kami”. Laki-laki itu pun akhirnya merasa malu karena telah dibela.
Dan Zain Al Abidin pun mengetahui bahwa laki-laki yang telah memakinya itu sedang membutuhkan harta, hingga Zain Al Abidin pun memberinya 1000 dirham.
Setelah diperlakukan dengan baik oleh Zain Al Abidin, laki-laki itu pun mengatakan,”Aku bersaksi bahwa engkau benar-benar salah satu keturunan Rasul”.
Kesabaran sifat pemaaf Zain Al Abidin juga terlihat tatkala budak membawa pemasak roti yang panas dengan tergesa-gesa untuk tamu, lantas benda itu jatuh dan menimpa kepala putranya yang masih kecil hingga menyebabkannya meninggal. Zain Al Abidin pun mengatakan kepada si budak,”Engkau merdeka karena engkau tidak sengaja melakukannya”. Kemudian Zain Al Abidin pun segera merawat jenazah putranya tersebut. (lihat, Raudh Ar Rayahin, hal. 96,97)