oleh: Khadijah dan Muhammad
Allah Mengajar Manusia Bicara
Al-Biblawi dan al-Ubaid susah bicara untuk percakapan biasa. Tapi sempurna melantunkan ayat-ayat al-Quran dengan nada indah. Karena Allah yang mengajari mereka bicara dengan al-Quran.
Kebanyakan kita khawatir kalau si Kecil belum bisa bicara dengan lancar di usia 2 tahun. Belakangan, saat anak harus bersekolah, kita repot memilihkan bagi si Kecil, Taman Kanak-kanak ‘Ini’ atau Kelompok Bermain ‘Itu’, karena kabarnya disediakan program belajar yang menjadikan si Kecil bilingual alias berkemampuan berbicara dwibahasa – yaitu Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Kita berencana memasukkannya, nanti, ke Sekolah Dasar ‘XYZ’ dan Sekolah Menengah Pertama ‘ABC’ karena setiap siswa diharuskan hanya berkomunikasi dengan Bahasa Inggris dan Bahasa Arab. Kita ingin si Kecil yang sekarang masih belum pandai mengelap ingusnya itu tumbuh menjadi remaja trilingual alias tribahasa.
Lalu kemana sesudahnya? Kita ingin memasukkannya ke Sekolah Menengah Atas ‘Super’ karena kabarnya di sana ada program Bahasa Prancis yang unggul, dan ada pula program pertukaran pelajar dengan sejumlah negara sehingga kita bisa berharap bahwa pada waktunya nanti anak akan terpapar dan dapat belajar bahkan lebih banyak lagi bahasa-bahasa di dunia.
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah, yang mengilhamkan kepada kita keinginan untuk mendidik dan memberi kesempatan terbaik bagi si Kecil untuk belajar, terutama belajar berbahasa. Mudah-mudahan, karena kita melakukannya karena Allah, kita tak akan kecewa atau menganggap si Kecil bodoh bila ternyata sesudah menghabiskan uang jutaan rupiah pun si Kecil tidak dengan sendirinya mampu menguasai tujuh bahasa.
Kenapa tak perlu kecewa? Karena si Kecil tidak jadi pintar bicara hanya semata-mata karena orangtua dan orang lain di sekitarnya, termasuk guru, rajin mengoceh dan mengajak serta melatihnya bicara.
Allah yang mengizinkan kita bicara, Allah yang mengajari kita bicara. Tanpa izin Allah, tidak ada manusia yang bisa membuat manusia lain pandai bicara meskipun sudah berkeringat menterapi atau menghabiskan jutaan rupiah untuk menyekolahkannya.
Bicara apa?
Semua jenis bicara.
Bahasa apa yang diajarkan Allah kepada manusia?
Semua bahasa. Termasuk Bahasa Al-Quran, yaitu Bahasa Arab.
“Ar-Rahman. (Tuhan) Yang Mahapenyayang.
‘Allamaal qur’an. Yang telah mengajarkan Al-Quran.
Khalaqal insaan. Dia menciptakan manusia.
‘Allamaahul bayaan. Mengajarnya al-Bayaan.
(dst.)”
Ibnu Katsir, dalam tafsirnya, menjelaskan makna ayat-ayat awal surah Ar-Rahman ini sebagai berikut:
“Allah Ta’ala memberitahukan tentang karunia dan Rahmat-Nya bagi makhluk-Nya, dimana Dia telah menurunkan Al-Quran kepada hamba-hamba-Nya, memberikan kemudahan membaca dan memahaminya bagi siapa saya yang Dia beri rahmat. Dia berfirman : ‘(Rabb) yang Mahapemurah, Yang Telah Mengajarkan al-Quran. Dia menciptakan manusia, mengajarnya pandai berbicara.’ (ayat 1-4).
Al-Hasan berkata: “Kata al-Bayaan berarti berbicara. Siyaq (konteks)nya berada dalam pengajaran al-Quran oleh Allah Ta’ala yaitu cara membacanya. Dan hal itu berlangsung dengan cara memudahkan pengucapan artikulasi, serta memudahkan keluarnya huruf melalui jalannya masing-masing dari tenggorokan, lidah dan dua buah bibir sesuai dengan keragaman artikulasi dan jenis hurufnya.”
Seorang da’i Amerika keturunan Pakistan, Nouman Ali Khan, menjelaskan betapa dahsyatnya penjelasanAllah tentang sifat kemahapemurahannya, kemahapenyayangannya, lewat surah Ar-Rahman ini. Ketika Allah menyebut ‘Ar-Rahman’, maka Dia sedang menggambarkan diriNya, Sang Pencipta ‘Yang Luar Biasa Pemurah, yang Mahapemurah.”
“Dalam surah ini, Allah menyebutkan daftar prioritasNya. Dari semua hal yang menjadi bukti kemahapengasihannya Allah, hal pertama yang Dia sebutkan adalah bahwa Dia mengajarkan al-Quran,” tutur Ali Khan. “Allah tidak sekedar menghadiahi kita al-Quran, atau sekedar menurunkannya. Allahmengajari kita al-Quran. Allah menyebutkan fakta ini bahkan sebelum menyebutkan penciptaan manusia. Ini artinya Allah sedang mengajarkan kepada kita, fakta bahwa kita eksis adalah bentuk kemurahan Allah yang lebih rendah daripada fakta bahwa Allah mengajari kita al-Quran.”
“Kata Quran berarti ‘sesuatu yang dibaca berulang kali. Al-Quran diturunkan dalam Bahasa Arab yang indah dan jelas. Kita semua harus mempelajari bahasa dari sesuatu yang hendak kita pelajari. Karena itu, untuk memungkinkan manusia meraih manfaat dari Kitab ini, Allah berfirman bahwa Dia mengajari manusia Al-Bayaan.”
Al-Bayaan adalah kemampuan berbicara dengan jelas, kemampuan memahami suatu percakapan, kemampuan berkomunkasi.
Jadi, Allah bukan saja guru Al-Quran, Allah adalah juga guru bahasa. Bahasa apa? Semua bahasa. Namun dari semua bahasa yang Allah ajarkan, Allah memilih satu di antaranya, yakni Bahasa Arab, sebagai bahasa yang dimuliakan di atas semuanya.
Kemampuan kita berbicara adalah sebuah kemuliaan yang Allah berikan kepada kita, yang setara dengan kemuliaan mempelajari Al-Quran.
Dengan perspektif ini, maka siapa pun kita, baik ayah atau ibu atau guru atau terapis, akan memahami bahwa ketika si Kecil berbicara, kita tidak lalu menganggap kita hebat karena telah mengajarinya bicara. Kita sadar, “Alhamdulillah. Segala puji hanya bagi Allah yang telah mengajari anakku/muridku berbicara.”
Dan ketika si Kecil mengalami kesulitan berbicara, kita tidak akan berputus-asa dan kita akan menengadahkan tangan kita tinggi ke langit seraya berdoa, “Ya Allah, anakku belum bisa berbicara. Ya Allah, Engkaulah yang mengajari manusia berbicara. Kami bertaubat kepadaMu atas segala dosa kami sebagai orangtuanya, dan kami mohon kepadaMu yang Mahapemurah dan Mahapengasih, karuniakanlah al-Bayaan itu kepada anak kami. Kabulkanlah doa kami ya Allah, Penguasa seluruh alam semesta.”
Allah Sang Pendidik
Mungkin kita harus meminta para ahli tafsir dan ahli balaghah untuk lebih banyak berbicara kepada para orangtua seperti kita di saat kita kebingungan mencari nasihat tentang bagaimana mendidik anak, sehingga mereka bisa meyakinkan kita bahwa sesungguhnya Allah-lah yang mendidik manusia.
Bukan saja di Surah ar-Rahman Allah menggambarkan diriNya sebagai pendidik dan pemberi hikmah atau kebijaksanaan. Ternyata, penjelasan salah satu ayat dalam Surah an-Nas menggambarkan hal yang sama, dan kita butuh para ahli tafsir untuk menjelaskan ini kepada kita.
“Qul a’udzu birabbi annas, maliki annas… Katakanlah, ‘Aku berlindung kepada Rabb-nya manusia’. Penguasa manusia’.”
Kata Rabb memiliki beberapa makna – demikian penjelasan para ahli Bahasa Arab. Pemilik Absolut. Penguasa. Kalau kita mengatakan Rabbu ‘abdin maka artinya adalah “Pemilik para hamba-Nya.” Rabb al-bayt – pemilik rumah.
Kata Maalik juga berarti pemilik. Tapi ‘pemilik’ adalah satu dari sekian makna kata Rabb sementara Maalik memang hanya berarti ‘pemilik.’ Kata Rabb memiliki berbagai makna lainnya seperti al-Mun’im (penganugerah segala nikmat), al-Qayyim (yang perkasa atau kuat), al-MuRabbi (yang menjaga pertumbuhan dan perkembangan), juga berarti al-Mu’ttii (yang banyak memberi), juga berarti al-Mursyid (yang menunjukkan jalan/arah).
Seseorang bisa menjadi maalik atas sesuatu, tetapi mungkin tidak memiliki kekuasaan penuh atas sesuatu itu. Tetapi Ar-Rabb menggambarkan otoritas dan kepemilikan sempurna atas segala sesuatu.
Khusus mengenai kata al-MuRabbi, Nouman Ali Khan menjelaskan bahwa kata ini tidak berasal dari kata Rabb رب (Ra, ba, dan ba/Mudda’af), tetapi dari huruf-huruf dasar ra, ba dan waw – ربو. Itulah kata Rabb yang kita baca saat melantunkan doa, “Allahummaghfirlii waliwaalidayya warhamhumaa kamaa rabbayaanii shagiiraa…”
Kata-kata yang berkenaan dengannya adalah rabba, yurabbii, tarbiyyah. Makna tarbiyyah adalah memastikan terjadinya perkembangan, pertumbuhan dan pematangan sesuatu sampai ke tahap yang diinginkan sang Murabbi. Tarbiyyatul ‘awlad berarti memastikan anak tumbuh dengan fisik dan akhlaq yang diinginkan sang Murabbi saat dia besar.
Di dalam nama ar-Rabb (ra, ba, ba) ada Rabb (ra, ba, waw) karena memang sesungguhnya Allah Rabbul ‘alamin adalah Sang Penguasa dan Pemilik yang Maha memberi dan Maha mendidik dan Maha menjaga yang memastikan kita tumbuh dan kembang sampai ke tahap yang Dia inginkan.
Allah adalah al-Murabbi kita dan anak-anak kita.
Kalau diingat-ingat bahwa al-Quran sudah menggambarkan kemutlakan penguasaan dan kepemilikan Allah atas manusia sehingga tawa dan tangis kita pun Dia tentukan – “Waannahu huwa adhaka waabka – Sesungguhnya Dialah yang telah membuat kamu tertawa dan menangis” (Surah an-Najm: 43) – mau tak mau terpikir: sebenarnya kita ini bisa apa siiiiy….?
Kita tidak berdaya apa-apa selain yang Allah berikan.
Laa hawlaa wa laa quwwata illaa billahil ‘aliyyil ‘azhiim.
Bukan kita yang mendidik anak-anak kita dengan berbagai teori psikologi dan parenting – tetapi Allah-lah yang mendidik. Dengan kurikulumNya. Dengan materi dan ujianNya. Dengan punishment, reward dan ijazahNya. Para guru, orangtua, ahli parenting memang perlu merasa powerless seperti ini untuk memasuki sebuah state of mind terbaik demi melaksanakan program tarbiyyatul ‘awlad dari Allah: tawakkal ‘alAllah.
Bagaimana implementasi praktis psikologi ketidakberdayaan di hadapan Allah ini? Kita butuh belajar terus dan diskusi lagi di lain waktu, Insya’Allah.*
Kedua penulis adalah bapak dan ibu rumahtangga