Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Jendela Keluarga

Pilih Ikhwan atau Bakwan?

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 1 November 2015 10:47 10:47 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 1 November 2015 10:26
Bagikan
Bagikan

PAGI itu, dua orang ibu muda sedang larut berbincang depan teras sebuah sekolah Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Sambil menunggu anak mereka yang sedang belajar di PAUD tersebut, keduanya saling berkisah tentang pernikahan mereka yang baru berumur sekitar empat tahun.

Nova, sebut saja namanya demikian, mengawali pembicaraan dengan kisah tentang suaminya. Sang suami dianggapnya tak se-fikrah dengannya dalam berdakwah. Lain lagi cerita Mala. Ia mengeluh vakum dari aktifitas dakwah usai menikah dengan suaminya.

“Aku merasa tak punya waktu lagi untuk hadir dalam pengajian pekanan. Pekerjaan rumahku seolah tak ada habisnya. Selalu saja ada urusan rumah tangga yang menghalangiku ikut kegiatan dakwah seperti dulu. Suamiku juga sibuk dengan pekerjaan kantornya. Bahkan hari liburpun ia masih asyik dengan laptopnya. Meski ia mantan aktivis dakwah, suamiku hanya bisa menyuruh agar mengatur waktu kembali. Tak ada solusi yang bisa membantu,” demikian Mala berpanjang lebar dalam curahan hatinya. Seperti ada perasaan lega bisa berbagi masalah kepada Nova, karibnya di kampus dulu.

“Akupun punya masalah tapi berbeda denganmu. Suamiku orang biasa bukan seperti suamimu yang aktivis kampus itu. Dulu aku berharap punya suami yang bisa membimbingku dalam keluarga. Tapi rupanya Allah berkehendak lain,” ucap Nova mengawali kisah hidupnya.

“Jadinya aku uring-uringan sekedar untuk mengingatkan shalat tepat waktu atau ibadah lainnya. Kadang aku menangis. Itupun hanya disuruh bersabar olehnya. Ia berkata: Aku memilihmu karena aku butuh pendamping yang membuatku lebih baik dari yang dulu,” Nova pun sama panjangnya bercerita.

Baca Juga

Anak Saleh Buah dari Kesalehan Orang Tua?
Muharram, Momen Terbaik Menjadi Ibu Terbaik
Kecantikan Muslimah Sejati
Sebab-sebab Durhaka Istri kepada Suami
Anak Shalih dan Shalihah Takdir Allah, Kita Terus Berusaha

Kisah dua orang istri di atas hanyalah rekaan semata. Meski tak sedikit kejadian yang serupa dalam rumah tangganya. Tahun-tahun awal pernikahan adalah masa adaptasi di antara  pasangan.

Perbedaan latar belakang keluarga, pendidikan, karakter dan lingkungan seringkali menjadi pemicu letupan-letupan panas di tengah keluarga. Kepadanya dituntut cara berfikir dewasa dan matang dalam bertindak. Sebab asalnya mereka adalah dua manusia yang berbeda namun disatukan dalam ikatan pernikahan.

Menyamakan visi, membangun komunikasi

Ikatan pernikahan tersebut ditandai dengan adanya ijab qabul atau akad pernikahan. Dengannya hubungan keduanya menjadi halal sekaligus melahirkan amanah dan tanggung jawab yang baru selanjutnya. Anas bin Malik Radhiyallahu anhu (Ra) menceritakan, Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam (Saw) bersabda:

إِذَا تَزَوَّجَ العَبْدُ فَقَدْ كَمَّلَ نِصْفَ الدِّيْنِ ، فَلْيَتَّقِ اللهَ فِي النِّصْفِ البَاقِي

“Jika seseorang menikah, maka ia telah menyempurnakan separuh agamanya. Karenanya, bertakwalah pada Allah pada separuh yang lainnya.” (HR. Al-Baihaqi dalam kitab Syu’abul Iman).

Kesempurnaan agama yang dijanjikan tentu tak semudah membalik telapak tangan. Menikah disebut demikian sebab di sana ada tantangan berat dalam meraih jaminan tersebut.

Al-ajru ‘ala qadri al-masyaqqah, demikian sebuah kaidah mengajarkan. Keluarga yang berasal dari pasangan aktivis dakwah sekalipun bukan garansi mulusnya perjalanan rumah tangga seseorang.

Kriteria sempurna yang ditulis berlembar-lembar saat ta’aruf pun bukan penjamin bahwa pasangan tersebut steril dari rintangan permasalahan. Tak heran, biasanya timbul anekdot di kalangan para akhwat. “Dapat ikhwan atau bakwan (sepertinya) sama saja,” ucap akhwat bergurau.

Benarkah gurauan tersebut? Pastinya ucapan itu sekedar canda dan gurauan saja. Setidaknya ada dua hal yang harus diupayakan ketika seorang Muslim/ Muslimah menjejaki tangga pernikahan.

Pertama, membangun visi yang sama sejak awal pernikahan. Hal ini penting sebagai pengingat dan penyemangat langkah yang searah.

Kedua, menjalin komunikasi yang sehat dan baik. Tak sedikit persoalan rumah tangga timbul hanya dipicu oleh komunikasi yang tidak berjalan dengan baik.

Masalah Mala di atas, misalnya. Masalah komunikasi kembali mencuat dengan sang suami. Termasuk di dalamnya cara memenej waktu di sela kegiatan rumah. Hal itu tampak dari dukungan suami untuk mengatur waktu kembali. Di sisi lain, suami juga dituntut untuk menampakkan empati dan perhatian kepada masalah yang menimpa istri. Sesuatu yang justru membuat Mala kian bete dengan persoalannya.

Pun dengan persoalan Nova. Tersirat makna bahwa Nova hanya butuh bersabar sedikit lagi dalam mengingatkan suaminya. Sebab nyatanya, suami Nova sudah menyatakan kesiapannya untuk mengubah diri menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya.

Nabi mengajarkan, membangun mahligai surga rumah tangga bukanlah pekerjaan yang mudah. Ia bukan juga tanggung jawab seorang suami atau istri seorang diri saja. Hal tersebut bisa dicapai dengan saling kerjasama dan mengingatkan dalam kesabaran serta kebaikan.

Tak ada kata yang lebih indah daripada pernikahan

Membangun mawaddah dengan pasangan yang telah Allah sediakan

Adalah anugerah yang tiada duanya

Ada sakinah selalu jika bersamanya

Tak ingin pergi dan ditinggal pergi olehnya walau hari tetap jalan berganti

Namun, menyempurnakan agama bukanlah hal yang mudah dijalani

Banyak konsekuensi yang harus dipenuhi juga ujian yang harus dilewati

Saat mawaddah antar pasangan telah terukir di hati

Ujian tak selamanya berupa materi yang tampak di depan mata

Ada ujian yang memenuhi bilik lain di hati pasangan

Ada ujian berupa adaptasi antar sesama yang sangat lama

Semuanya demi kesempurnaan syariat yang telah dijanjikan-Nya

Mengembalikan pada yang kuasa

Agar mawaddah antar pasangan berlipat-lipat adanya

Agar sakinah selalu didapatkan saat menjalaninya

Agar rahmah dapat digapai bersama

Agar hanya jatuh hati pada orang yang sama berkali-kali

Sebagaimana indahnya kata pernikahan di awal mulanya

Tak usah risau atas ujian yang melanda

Karena pasti ada tangga untuk menggapai kebahagiaan yang lebih indah

Yang dirisaukan adalah, jika diri dan hati tak dapat dikendalikan,

Karenanya kehancuranlah yang kelak terjadi.*/Sarah Zakiyyah, guru SDIT Hidayatullah Depok, Jawa Barat

 

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:akhwatijab kabulikhwanpernikahansuami
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Warga dan Elemen Islam Datangi Karaoke Liar di Bulu-Sukoharjo yang Meresahkan
Tulisan selanjutnya Ribuan Orang Hadiri Shalat Istisqa’ Nasional di Masjid Istiqlal

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital

Berita
15 Juli 2026 21:25
Matinya Lindsey Graham, Senator AS Paling Vokal Bela ‘Israel’
Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
Pos Indonesia Gagal Bayar Bagi Hasil Sukuk Rp24 Miliar
Pakistan Jadi Tuan Rumah Konferensi Menteri Perempuan OKI, Bahas Sosial Ekonomi dan Politik

Terbaru

  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
  • Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
  • Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
  • Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
  • Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
  • Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital

Mungkin Anda Juga Suka

5 Tips Mendidik Anak agar Cinta Ramadhan
Jendela Keluarga

Sudahkah Anak Kita Diajarkan Akidah?

3 Desember 2022 20:55
Jendela Keluarga

Menjadi Ayah yang “Mesra” dengan Anak

26 November 2022 07:10
Jendela Keluarga

Akhlak Muslimah, Lembutlah dalam Bicara

8 November 2022 21:45
Jendela Keluarga

Hakikat Wanita Shalihah

4 November 2022 10:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?