PAGI itu, dua orang ibu muda sedang larut berbincang depan teras sebuah sekolah Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Sambil menunggu anak mereka yang sedang belajar di PAUD tersebut, keduanya saling berkisah tentang pernikahan mereka yang baru berumur sekitar empat tahun.
Nova, sebut saja namanya demikian, mengawali pembicaraan dengan kisah tentang suaminya. Sang suami dianggapnya tak se-fikrah dengannya dalam berdakwah. Lain lagi cerita Mala. Ia mengeluh vakum dari aktifitas dakwah usai menikah dengan suaminya.
“Aku merasa tak punya waktu lagi untuk hadir dalam pengajian pekanan. Pekerjaan rumahku seolah tak ada habisnya. Selalu saja ada urusan rumah tangga yang menghalangiku ikut kegiatan dakwah seperti dulu. Suamiku juga sibuk dengan pekerjaan kantornya. Bahkan hari liburpun ia masih asyik dengan laptopnya. Meski ia mantan aktivis dakwah, suamiku hanya bisa menyuruh agar mengatur waktu kembali. Tak ada solusi yang bisa membantu,” demikian Mala berpanjang lebar dalam curahan hatinya. Seperti ada perasaan lega bisa berbagi masalah kepada Nova, karibnya di kampus dulu.
“Akupun punya masalah tapi berbeda denganmu. Suamiku orang biasa bukan seperti suamimu yang aktivis kampus itu. Dulu aku berharap punya suami yang bisa membimbingku dalam keluarga. Tapi rupanya Allah berkehendak lain,” ucap Nova mengawali kisah hidupnya.
“Jadinya aku uring-uringan sekedar untuk mengingatkan shalat tepat waktu atau ibadah lainnya. Kadang aku menangis. Itupun hanya disuruh bersabar olehnya. Ia berkata: Aku memilihmu karena aku butuh pendamping yang membuatku lebih baik dari yang dulu,” Nova pun sama panjangnya bercerita.
Kisah dua orang istri di atas hanyalah rekaan semata. Meski tak sedikit kejadian yang serupa dalam rumah tangganya. Tahun-tahun awal pernikahan adalah masa adaptasi di antara pasangan.
Perbedaan latar belakang keluarga, pendidikan, karakter dan lingkungan seringkali menjadi pemicu letupan-letupan panas di tengah keluarga. Kepadanya dituntut cara berfikir dewasa dan matang dalam bertindak. Sebab asalnya mereka adalah dua manusia yang berbeda namun disatukan dalam ikatan pernikahan.
Menyamakan visi, membangun komunikasi
Ikatan pernikahan tersebut ditandai dengan adanya ijab qabul atau akad pernikahan. Dengannya hubungan keduanya menjadi halal sekaligus melahirkan amanah dan tanggung jawab yang baru selanjutnya. Anas bin Malik Radhiyallahu anhu (Ra) menceritakan, Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam (Saw) bersabda:
إِذَا تَزَوَّجَ العَبْدُ فَقَدْ كَمَّلَ نِصْفَ الدِّيْنِ ، فَلْيَتَّقِ اللهَ فِي النِّصْفِ البَاقِي
“Jika seseorang menikah, maka ia telah menyempurnakan separuh agamanya. Karenanya, bertakwalah pada Allah pada separuh yang lainnya.” (HR. Al-Baihaqi dalam kitab Syu’abul Iman).
Kesempurnaan agama yang dijanjikan tentu tak semudah membalik telapak tangan. Menikah disebut demikian sebab di sana ada tantangan berat dalam meraih jaminan tersebut.
Al-ajru ‘ala qadri al-masyaqqah, demikian sebuah kaidah mengajarkan. Keluarga yang berasal dari pasangan aktivis dakwah sekalipun bukan garansi mulusnya perjalanan rumah tangga seseorang.
Kriteria sempurna yang ditulis berlembar-lembar saat ta’aruf pun bukan penjamin bahwa pasangan tersebut steril dari rintangan permasalahan. Tak heran, biasanya timbul anekdot di kalangan para akhwat. “Dapat ikhwan atau bakwan (sepertinya) sama saja,” ucap akhwat bergurau.
Benarkah gurauan tersebut? Pastinya ucapan itu sekedar canda dan gurauan saja. Setidaknya ada dua hal yang harus diupayakan ketika seorang Muslim/ Muslimah menjejaki tangga pernikahan.
Pertama, membangun visi yang sama sejak awal pernikahan. Hal ini penting sebagai pengingat dan penyemangat langkah yang searah.
Kedua, menjalin komunikasi yang sehat dan baik. Tak sedikit persoalan rumah tangga timbul hanya dipicu oleh komunikasi yang tidak berjalan dengan baik.
Masalah Mala di atas, misalnya. Masalah komunikasi kembali mencuat dengan sang suami. Termasuk di dalamnya cara memenej waktu di sela kegiatan rumah. Hal itu tampak dari dukungan suami untuk mengatur waktu kembali. Di sisi lain, suami juga dituntut untuk menampakkan empati dan perhatian kepada masalah yang menimpa istri. Sesuatu yang justru membuat Mala kian bete dengan persoalannya.
Pun dengan persoalan Nova. Tersirat makna bahwa Nova hanya butuh bersabar sedikit lagi dalam mengingatkan suaminya. Sebab nyatanya, suami Nova sudah menyatakan kesiapannya untuk mengubah diri menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya.
Nabi mengajarkan, membangun mahligai surga rumah tangga bukanlah pekerjaan yang mudah. Ia bukan juga tanggung jawab seorang suami atau istri seorang diri saja. Hal tersebut bisa dicapai dengan saling kerjasama dan mengingatkan dalam kesabaran serta kebaikan.
Tak ada kata yang lebih indah daripada pernikahan
Membangun mawaddah dengan pasangan yang telah Allah sediakan
Adalah anugerah yang tiada duanya
Ada sakinah selalu jika bersamanya
Tak ingin pergi dan ditinggal pergi olehnya walau hari tetap jalan berganti
Namun, menyempurnakan agama bukanlah hal yang mudah dijalani
Banyak konsekuensi yang harus dipenuhi juga ujian yang harus dilewati
Saat mawaddah antar pasangan telah terukir di hati
Ujian tak selamanya berupa materi yang tampak di depan mata
Ada ujian yang memenuhi bilik lain di hati pasangan
Ada ujian berupa adaptasi antar sesama yang sangat lama
Semuanya demi kesempurnaan syariat yang telah dijanjikan-Nya
Mengembalikan pada yang kuasa
Agar mawaddah antar pasangan berlipat-lipat adanya
Agar sakinah selalu didapatkan saat menjalaninya
Agar rahmah dapat digapai bersama
Agar hanya jatuh hati pada orang yang sama berkali-kali
Sebagaimana indahnya kata pernikahan di awal mulanya
Tak usah risau atas ujian yang melanda
Karena pasti ada tangga untuk menggapai kebahagiaan yang lebih indah
Yang dirisaukan adalah, jika diri dan hati tak dapat dikendalikan,
Karenanya kehancuranlah yang kelak terjadi.*/Sarah Zakiyyah, guru SDIT Hidayatullah Depok, Jawa Barat