APAKAH ada orangtua yang ingin masa depan putra-putrinya dalam ketidaksuksesan? Tentu tidak ada.
Lantas bagaimana agar kelak mereka menjadi pribadi yang sukses?
Pertanyaan tersebut sangat penting, sebab itu bagian dari tradisi para ulama dan menjadi anjuran mereka kepada umat Islam untuk memperhatikan masa depan buah hati.
Ibn Qayim berkata, “Di antara hal yang harus diperhatikan ketika anak masih keccil adalah mempersiapkan pekerjaan yang sesuai dengan potensi anak. Hendaklah orangtua mengetahui potensi anak dengan baik.
Anak jangan dipaksa melakukan pekerjaan lainnya, selama pekerkaan yang dipilihnya dibolehkan agama. Karena bila orangtua memaksa anak melakukan pekerjaan lain, yang ia tidak memiliki kesiapan untuknya (bukan kompetensinya), maka anak tidak akan berhasil di dalmanya. ia akan kehilangan potensinya” (Lihat Jamal Abdurrahman dalam bukunya Athfalul Muslimin Kayfa Rabbahum An-Nabi Al-Amin).
Selanjutnya Ibn Qayyim memberikan contoh indikasi keseuaian anak dengan kapasitasnya untuk sukses di masa depan depan.
“Bila orangtua melihat anaknya memiliki pemahaman yang bagus, daya tangkapnya baik, hafalannya kuat dan cepat mengerti, maka ini merupakan pertanda bahwa ia siap untuk menerima ilmu (menjadi ulama).”
Maka lihatlah bagaimana Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassallam mengenali potensi dan kompetensi dari setiap sahabatnya. Mereka yang ahli dalam memimpin pasukan, meski usianya muda, beliau tunjuk untuk memimpin pasukan umat Islam. Itulah Usamah bin Zaid yang ditunjuk Nabi menjadi panglima perang saat usianya baru 17 tahun.
Baca: Adab dan Pendidikan Agama, Kunci Sukses Masa Depan Anak
Terhadap yang memiliki memori kuat, seperti Abu Hurairah, maka Rasulullah mengizinkan perawi hadits paling populer itu untuk senantiasa hadir dalam aktivitas Nabi Muhammad.
Pernah suatu waktu, saya duduk satu mobil dengan seorang ulama yang juga cendekiawan Muslim dari Bogor, Prof Dr Didin Hafidhuddin menuju Depok.
Di kesempatant tersebut saya bertanya, “Bagaimana dulu Prof, mendidik putranya yang sekarang menjadi seorang penting di Indonesia?”
Beliau menjawab dengan tersenyum, “Saya tidak punya cara-cara khusus. Tetapi memang anak-anak itu saya libatkan dalam setiap pekerjaan saya, sehingga mereka sudah terbiasa membaca makalah, mengoreksi kesalahan huruf, dan termasuk ikut membantu ayahnya mengetik apa yang sudah dituang dalam bentuk peta konsep di sebuah kertas. Mungkin kebiasaan itu yang membuatnya seperti sekarang.”
Pengalaman lain memberikan pelajaran berbeda. Suatu waktu ayah dari seorang pakar psikologi forensik datang ke tempat saya berdedikasi. Seperti biasa, setiap bertemu orangtua saya selalu bertanya, bagaimana dahulu mendidik putranya sekarang yang wajahnya selalu hadir di layar televisi.
“Saya tidak pernah menekankan pendidikan kepada anak saya waktu kecil selain pendidikan agama. Anak kalau agamanya kuat, mau milih jadi apapun dia akan sukses. Dan, sekarang saya bersyukur sebab anak saya bisa menjadi selebriti, (tentu) bukan selebriti dalam pengertian umum, tetapi selebriti yang mendidik bangsa ini dengan keahlian yang dia miliki,” ucapnya penuh kehati-hatian.
Dengan demikian teranglah bagi kita para orangtua, untuk menjadikan anak-anak kita sukses di masa depan bisa kita mulai dengan mengidentifikasi minat, bakat dan komptensi anak.
Kemudian jangan lupakan pendidikan agama, karena dari menjalankan agama itu akan lahir kedisiplinan, empati, dan tentu saja integritas.
Dalam sejarah peradaban Islam, kita bisa lihat bagaimana dahulu saintis Muslim, inventor dan para cendekiawan Muslim adalah orang yang memiliki keahlian dalam berbagai disiplin ilmu, seperti fisika, matematika, kedokteran, filsafat, dan pada saat yang sama mereka adalah ahli Al-Qur’an, Hadits, dan Fiqh. Beberapa di antaranya bisa kita sebut Ibn Sina, Ibn Rusd, Fakhruddin Al-Razi, Imam Ghazali, Ibn Haytam, dan yang lainnya.
Terakhir, tentu saja doa. Karena doa adalah senjata yang paling ampuh untuk membuat diri mendapatkan kemudahan dan keberkahan dalam menjalani kehidupan ini, terutama dalam upaya mendidik anak menjadi pribadi sukses, bermanfaat bagi kehidupan sesama.Wallahu a’lam.*