ALLAH Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan kita agar memohon perlindungan kepada-Nya dari setan yang terkutuk saat hendak membaca al-Qur’an. Dia berfirman:
“Apabila kamu membaca al-Qur’an, hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk.” (an-Nahl: 98).
Dan saat terjadi sihir, Dia berfirman:
“Katakanlah, ‘Aku berlindung kepada Rabb Yang Menguasai subuh, dari kejahatan makhluk-Nya, dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita, dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul, dan dari kejahatan orang yang dengki apabila ia dengki’.” (al-Falaq: 1-5).
Bila Allah memerintahkan kita agar mewaspadai kejahatan setan di dua keadaaan ini, lalu bagaimana dengan selain keduanya?
Dari Abu at-Tayyah berkata, “Aku berkata kepada Abdurrahman bin Khanbasy, ‘Kamu bertemu Nabi?’ Dia menjawab, ‘Ya.’ Aku bertanya, ‘Apa yang dilakukan oleh Rasulullah di suatu malam saat setan hendak mencelakakan beliau?’ Maka dia menjawab, ‘Sesungguhnya para setan turun di malam itu dari lembah dan bukit kepada Rasulullah, di antara mereka ada satu setan yang memegang bongkahan api, dia hendak membakar wajah Rasulullah dengannya, maka Jibril turun dan berkata, ‘Wahai Muhammad, ucapkanlah.’ Nabi bertanya, ‘Apa yang aku ucapkan?’ Jibril berkata, ‘Ucapkanlah! Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan apa yang Dia ciptakan dan Dia buat, dari kejahatan apa pun yang turun dari langit, dari keburukan apa pun yang naik ke langit, dari keburukan fitnah-fitnah malam dan siang, dari keburukan siapa yang datang di malam hari kecuali siapa yang datang di malam hari dengan membawa kebaikan, wahai Rahman.” Dia berkata, “Maka api mereka padam dan Allah membinasakan mereka.”
Dari Aisyah r.a bahwa Nabi bersabda, “Sesungguhnya setan datang kepada salah seorang di antara kalian, dia bertanya, ‘Siapa yang menciptakanmu?’ Maka dia menjawab, ‘Allah.’ Dia bertanya, ‘Lalu siapa yang menciptakan Allah?’ Bila salah seorang di antara kalian merasakan hal itu maka hendaknya berkata, ‘Aku beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hal itu akan lenyap darinya.”
Dari Ibnu Abbas r.a, ia berkata, bahwa Rasulullah melindungi al-Hasan dan al-Husain, beliau bersabda, ‘Aku memohon perlindungan untuk kalian berdua dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari semua setan dan jiwa buruk, serta dari semua tatapan mata jahat.” Kemudian beliau bersabda, “Demikian bapakku Ibrahim melindungi kedua putranya Ismail dan Ishaq.” (Diriwayatkan al-Bukhari).
Mutharrif berkata, “Aku melihat, ternyata manusia tergeletak di hadapan Allah dan iblis, maka barangsiapa Allah berkehendak untuk menjaganya, maka Dia menjaganya, dan bila Allah membiarkannya maka Iblis membawanya pergi.”
Dikisahkan dari sebagian salaf bahwa dia berkata kepada muridnya, “Apa yang kamu lakukan terhadap setan manakala dia merayumu berbuat dosa?” Dia menjawab, “Aku melawannya.”
Dia bertanya, “Bagaimana bila setan itu kembali?” Dia menjawab, “Aku melawannya.” Dia bertanya, “Bagaimana bila setan itu kembali?” Dia menjawab, “Aku melawannya.”
Dia berkata, “Ini lama. Bagaimana bila kamu melewati sekawanan domba lalu anjing penjaganya menggonggongimu atau menghalangimu untuk berlalu, apa yang kamu lakukan?” Dia menjawab, “Aku melawannya sebisaku.” Dia berkata, “Ini lama bagimu, semestinya mintalah bantuan kepada pemilik domba tersebut, niscaya dia akan mencegahnya untuk menyerangmu.”
Iblis dengan orang yang bertakwa dan orang yang mencampur kebaikan dan keburukan adalah seperti seorang laki-laki yang duduk di depan makanan lalu seekor anjing datang, maka orang itu berkata kepada anjing, “Hus, pergilah.” Maka anjing itu pergi. Anjing itu lantas datang kepada seorang laki-laki yang duduk menghadapi makanan dan daging, dia mengusirnya namun anjing tak beranjak.
Orang pertama adalah orang yang bertakwa, setan datang kepadanya, dia cukup mengusirnya dengan dzikir. Sedangkan orang kedua adalah orang yang mencampuradukkan kebaikan dengan keburukan, sehingga setan tidak meninggalkannya karena perbuatannya yang mencampuradukkan kebaikan dan keburukan itu.*
Dari buku Talbis Iblis karya Ibnu Jauzi.