WAKTU bagi seorang Muslim berbeda dengan waktu untuk orang kafir. Dalam Islam, waktu adalah kumpulan pahala yang melipat. Sebab dalam setiap pekerjaan yang dilakukan senantiasa diniatkan ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan mengharap ridha-Nya.
Hal ini pula yang menjadikan seorang Muslim punya etos kerja yang tidak sama dan tidak dimiliki oleh selainnya yang hanya beraktivitas untuk kepuasan dunia semata.
Dalam al-Quran, waktu bahkan disebut bisa menjadi ukuran keimanan seorang Muslim. Apakah ia menjadi orang-orang yang merugi atau justru menjadi orang yang beruntung dunia akhirat. Allah berfirman:
“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal sholih dan saling menasihati supaya menaati kebenaran dan saling menasihati supaya menetapi kesabaran.” (QS. Al ‘Ashr [103]: 1-3).
Sayangnya, meski terbilang pendek dan mudah dihafal, memahami dan mengaplikasikan surah al-Ashr ini tak semudah membalik telapak tangan. Padahal, surat yang tergolong Makkiyah ini memiliki kandungan makna yang sangat dalam. Imam asy-Syafi’i Rahimahullah berkata: Seandainya setiap manusia merenungkan surat ini, niscaya hal itu akan mencukupi untuk mereka.” (Tafsir Ibnu Katsir 8/499).
Dr. Ahmad Farid menyebutkan, para ulama terdahulu begitu antuasias dalam menjaga dan memanfaatkan waktu mereka sebaik-baiknya. Sebab mereka mengerti betapa penting dan berharganya waktu tersebut.
Dikisahkan, seseorang berkata kepada ulama: Mampirlah (dahulu), kita akan bercakap-cakap. Ulama itu menjawab: Aku tidak bisa menghentikan matahari. Maksudnya, seorang Muslim apalagi sekelas ulama tak ingin membuang waktunya untuk pembicaraan yang tidak bermanfaat. (At- Tarbiyah ala manhaj Ahlu as-Sunnah wa al-Jama’ah, hlm. 12).
Imam Hasan al-Basri berkata: “Aku mengenal suatu kaum, mereka sangat menjaga waktu melebihi penjagaan mereka terhadap kekayaan yang dimiliki berupa dinar dan dirham. Dalam ungkapan lain disebutkan, salah satu indikasi Allah membenci kamu adalah ketika kamu sering melalaikan waktu yang Allah anugerahkan kepadamu.”
Olehnya, tak heran, para ulama kita terdahulu bisa mengarang dan melahirkan karya-karya monumental yang masih dinikmati oleh umat Islam hingga hari Kiamat kelak. Ibn Taimiyah misalnya, ia berhasil memproduksi puluhan bahkan ratusan karya. Termasuk risalah Majmu’ Fatawa yang berjilid-jilid tersebut.
Contoh lain adalah ulama Nusantara asal Pacitan, Jawa Timur yang mendunia dengan karya serta kiprahnya dalam dakwah dan keilmuan, Muhammad Mahfuzh at-Tremasi (1281 H).
Meski hanya berusia 58 tahun dengan masa menuntut ilmu sekitar 30 tahun di Makkah, namun berbagai kitabnya menjadi rujukan utama para ulama dalam menulis buku. Bahkan disebutkan, sekurangnya ada 20 penelitian ilmiah disertasi dan tesis dari berbagai benua yang merujuk kepada kitab-kitab at-Tremasi tersebut.
Kini, semua teladan di atas adalah cermin bagi siapa saja yang ingin mendapatkan kebahagiaan yang hakiki. Bahwa waktu adalah sesuatu yang sangat mahal untuk disia-siakan begitu saja. Ia bisa bernilai jika senantiasa diisi dengan ketaatan di jalan Allah. Saling berlomba dan menasihati dalam kebaikan serta saling mengingatkan dalam kesabaran yang indah.
Membangun peradaban Islam tidak cukup dengan meng-update status di media sosial lalu ditinggal pergi bermimpi. Umat Islam bisa bangkit jika seluruh kaum Muslimin kembali menyadari pentingnya ilmu. Ilmu yang dimaksud di sini adalah ilmu yang bermanfaat, ilmu yang menggerakkan ruh jihad, serta ilmu yang sejalan dengan adab dan perilaku sehari-hari.*/Khairul Kiram, mahasiswa Komunikasi Penyiaran Islam (KPI), UIKA Bogor