Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Oase Iman

Waktumu Adalah Hartamu yang Tak Ternilai

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 30 Desember 2015 07:13 7:13 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 30 Desember 2015 06:15
Bagikan
Bagikan

WAKTU bagi seorang Muslim berbeda dengan waktu untuk orang kafir. Dalam Islam, waktu adalah kumpulan pahala yang melipat. Sebab dalam setiap pekerjaan yang dilakukan senantiasa diniatkan ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala  dan mengharap ridha-Nya.

Hal ini pula yang menjadikan seorang Muslim punya etos kerja yang tidak sama dan tidak dimiliki oleh selainnya yang hanya beraktivitas untuk kepuasan dunia semata.

Dalam al-Quran, waktu bahkan disebut bisa menjadi ukuran keimanan seorang Muslim. Apakah ia menjadi orang-orang yang merugi atau justru menjadi orang yang beruntung dunia akhirat. Allah berfirman:

وَالْعَصْرِ
إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ
إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal sholih dan saling menasihati supaya menaati kebenaran dan saling menasihati supaya menetapi kesabaran.” (QS. Al ‘Ashr [103]: 1-3).

Sayangnya, meski terbilang pendek dan mudah dihafal, memahami dan mengaplikasikan surah al-Ashr ini tak semudah membalik telapak tangan. Padahal, surat yang tergolong Makkiyah ini memiliki kandungan makna yang sangat dalam. Imam asy-Syafi’i Rahimahullah berkata: Seandainya setiap manusia merenungkan surat ini, niscaya hal itu akan mencukupi untuk mereka.” (Tafsir Ibnu Katsir 8/499).

Baca Juga

Masihkah Bisa Tersenyum Saat Al-Aqsha Terjajah?
Khutbah Jum’at: Saat Masjid Al-Aqsha Ternoda, Apa Masih Ada Nyala Iman di Dada?
Khutbah Jum’at: Ramadhan Berlalu, Amal Tetap Kontinu
Khutbah Idul Fitri 1447 H : Deklarasi Kemenangan Hati di Tengah Riuhnya Kesalehan Visual
Khutbah Jumat: Mengisi Rajab dengan Muhasabah, Amal dan Puasa

Dr. Ahmad Farid menyebutkan, para ulama terdahulu begitu antuasias dalam menjaga dan memanfaatkan waktu mereka sebaik-baiknya. Sebab mereka mengerti betapa penting dan berharganya waktu tersebut.

Dikisahkan, seseorang berkata kepada ulama: Mampirlah (dahulu), kita akan bercakap-cakap. Ulama itu menjawab: Aku tidak bisa menghentikan matahari. Maksudnya, seorang Muslim apalagi sekelas ulama tak ingin membuang waktunya untuk pembicaraan yang tidak bermanfaat. (At- Tarbiyah ala manhaj Ahlu as-Sunnah wa al-Jama’ah, hlm. 12).

Imam Hasan al-Basri berkata: “Aku mengenal suatu kaum, mereka sangat menjaga waktu melebihi penjagaan mereka terhadap kekayaan yang dimiliki berupa dinar dan dirham. Dalam ungkapan lain disebutkan, salah satu indikasi Allah membenci kamu adalah ketika kamu sering melalaikan waktu yang Allah anugerahkan kepadamu.”

Olehnya, tak heran, para ulama kita terdahulu bisa mengarang dan melahirkan karya-karya monumental yang masih dinikmati oleh umat Islam hingga hari Kiamat kelak. Ibn Taimiyah misalnya, ia berhasil memproduksi puluhan bahkan ratusan karya. Termasuk risalah Majmu’ Fatawa yang berjilid-jilid tersebut.

Contoh lain adalah ulama Nusantara asal Pacitan, Jawa Timur yang mendunia dengan karya serta kiprahnya dalam dakwah dan keilmuan, Muhammad Mahfuzh at-Tremasi (1281 H).

Meski hanya berusia 58 tahun dengan masa menuntut ilmu sekitar 30 tahun di Makkah, namun berbagai kitabnya menjadi rujukan utama para ulama dalam menulis buku. Bahkan disebutkan, sekurangnya ada 20 penelitian ilmiah disertasi dan tesis dari berbagai benua yang merujuk kepada kitab-kitab at-Tremasi tersebut.

Kini, semua teladan di atas adalah cermin bagi siapa saja yang ingin mendapatkan kebahagiaan yang hakiki. Bahwa waktu adalah sesuatu yang sangat mahal untuk disia-siakan begitu saja. Ia bisa bernilai jika senantiasa diisi dengan ketaatan di jalan Allah. Saling berlomba dan menasihati dalam kebaikan serta saling mengingatkan dalam kesabaran yang indah.

Membangun peradaban Islam tidak cukup dengan meng-update status di media sosial lalu ditinggal pergi bermimpi. Umat Islam bisa bangkit jika seluruh kaum Muslimin kembali menyadari pentingnya ilmu. Ilmu yang dimaksud di sini adalah ilmu yang bermanfaat, ilmu yang menggerakkan ruh jihad, serta ilmu yang sejalan dengan adab dan perilaku sehari-hari.*/Khairul Kiram, mahasiswa Komunikasi Penyiaran Islam (KPI), UIKA Bogor

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:kebaikanNasehatwaktu
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya PKS: Polisi Harus Hentikan Penjualan dan Produksi Terompet Sampul Al-Quran
Tulisan selanjutnya Dewan Da’wah Lepas 22 Dai Pedalaman

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah

Berita
2 Juni 2026 21:41
Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
Irlandia Bakal Larang Impor dari Permukiman ‘Israel’ Mulai Pertengahan Juli
Hakim Memutuskan Nama Donald Trump Dihapus dari Gedung Kesenian Kennedy Center
MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat

Terbaru

  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
  • Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
  • ‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza
  • Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah
  • Perkuat Kompetensi Amil Zakat dan Nazir Wakaf, Kemenag Gelar Sertifikasi Profesi

Mungkin Anda Juga Suka

Oase Iman

Khotbah Jumat: Islam Menentang Aksi Premanisme

8 Mei 2025 13:08
Oase Iman

Khutbah Jumat: Hormat kepada Ulama, Santun kepada Sesama

24 April 2025 18:21
Oase Iman

Khutbah Jumat: Waspadai Faktor Penggagal Fatwa Jihad PalestinaL: Diri Kita Sendiri!

11 April 2025 07:28
Oase Iman

Khutbah: Idul Fitri dan Momentum Merajut Persaudaraan Sesama Umat Islam

30 Maret 2025 22:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?