Sambungan artikel PERTAMA
Ketiga, Dhuribat ‘alaihimud dzillatu ainamaa tsuqifuu …
“Telah ditimpakan kehinaan kepada mereka [orang-orang Yahudi] di mana saja mereka berada …”
ضُرِبَتۡ عَلَيۡہِمُ ٱلذِّلَّةُ أَيۡنَ مَا ثُقِفُوٓاْ إِلَّا بِحَبۡلٍ۬ مِّنَ ٱللَّهِ وَحَبۡلٍ۬ مِّنَ ٱلنَّاسِ وَبَآءُو بِغَضَبٍ۬ مِّنَ ٱللَّهِ وَضُرِبَتۡ عَلَيۡہِمُ ٱلۡمَسۡكَنَةُۚ ذَٲلِكَ بِأَنَّهُمۡ كَانُواْ يَكۡفُرُونَ بِـَٔايَـٰتِ ٱللَّهِ وَيَقۡتُلُونَ ٱلۡأَنۢبِيَآءَ بِغَيۡرِ حَقٍّ۬ۚ ذَٲلِكَ بِمَا عَصَواْ وَّكَانُواْ يَعۡتَدُونَ (١١٢)
“Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali [agama] Allah dan tali [perjanjian] dengan manusia [1], dan mereka kembali mendapat kemurkaan dari Allah dan mereka diliputi kerendahan. Yang demikian itu [2] karena mereka kafir kepada ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi tanpa alasan yang benar. Yang demikian itu [3] disebabkan mereka durhaka dan melampaui batas.”
Ayat ini termaktub dalam Surat Ali Imran (3): 112, disebutkan dalam ayat ini alasan-alasan mengapa orang-orang Yahudi dihinakan di muka bumi? Jawabannya adalah; dikarenakan mereka kufur terhadap ayat-ayat Allah, membunuh para Nabinya sendiri, melanggar aturan [pedoman kitab suci dan bimbingan nabi-Nya], juga mereka senang melampaui batas dari batas-batas yang ditentukan Allah jalla jalaaluh. Dengan perilaku-perilakunya inilah, mereka pun “terusir” dan dihinakan Allah di muka bumi, di mana pun mereka berada.
Sejarah kini berulang, peristiwa-peristiwa itu, mengingatkan dan menggiring kita untuk lebih tajam menafsirkan peristiwa demi peristiwa, sekaligus mengambil pelajaran yang berharga tentunya. Hikmah dan ‘ibrah yang bisa dipetik, minimalnya menjadi berita masa lalu orang-orang terdahulu [nabaun man kaana qablakum, informatif] atau kabar peristiwa yang mungkin terjadi di masa mendatang [khabarun maa ba’dakum].
Peristiwa pertama berupa hijrah, telah dibentangkan contohnya dalam Al-Qur’an melalui berita hijrahnya Nabiyullah Musa ‘alaihis salaam yang membawa komunitas Bani Israil untuk menghindari kemadharatan yang lebih besar, yaitu kebengisan rezim Fir’aun bersama junta militer dan para kabinetnya. Hal ini terjadi pula pada para Nabi yang lainnya, tak terkecuali Rasulullaah shalallaahu ‘alaihi wasallam.
Peristiwa kedua berupa pengusiran, contohnya Rasulullaah sendiri dan para shahabatnya ketika berada di Thaif.
Perlakuan anarkis dan tidak manusiawi dari penduduk setempat membuat sang baginda cidera; patah gigi taringnya dan terluka pelipisnya, walaupun para shahabat setia menjaganya dari keberingasan amukkan massa.
Demikian pula, apa yang terjadi di hadapan kita hari ini, berupa drama etnic cleansing saudara-saudara Muslim Rohingya, provinsi Rakhine di Myanmar yang tengah mengalami pembantaian massal, perlakuan diskriminatif dan pengusiran besar-besaran sejak 75 tahun yang silam [tahun 1940-an].
Peristiwa ketiga berupa ditimpakannya kehinaan dan kutukkan, di mana Allah ‘azza wa jalla sendiri yang melakukannya atas arogansi kaum terkutuk Yahudi yang kerap kali mempermainkan ayat-ayatNya. Kehinaan yang ditimpakannya, menyebabkan mereka hidup terlunta-lunta di muka bumi tanpa negara yang jelas, dan akhirnya mereka pun harus menelan ludahnya sendiri.
Baca: Arkeolog Israel: Tidak Ada Hubungan Antara Yahudi dan al-Quds
Ketika zaman Nabiyullah Musa, Allah perintahkan Bani Israil untuk menempati tanah Kan’an [Palestina tempo dulu], mereka menolaknya dengan keras. Namun ketika kini, Palestina berada dalam kekuasaan kaum Muslimin, mereka datang kembali untuk menjajah dan merampok apa yang mereka inginkan.
Apabila ditelisik, ketiganya jelas nampak berbeda dalam prosesnya; hijrah [terlepas ketidak maksimalannya] masih memiliki kesiapan dan perencanaan, sedangkan keterusiran nyaris tanpa strategi hatta. yang paling minimal sekalipun. Adapun kehinaan yang ditimpakan, lebih pada skenario Allah [miqdaarullaah] dalam menurunkan kutukkan adzabNya bagi kaum pembangkang [mu’ridhuun].
Apa yang sudah berlalu, akan menjadi penjelas fakta yang nyata [bayan], petunjuk yang lurus [hudan] dan nasihat yang bijak [mauizah] bagi ummat yang bertaqwa. Dan apa yang akan terjadi kemudian, hendaknya menjadi perhatian seksama dengan penuh kewaspadaan dan kesigapan. Wallaahul musta’aan.*/H.T. Romly Qomaruddien, Ketua Bidang Ghazwul Fikri dan Harakah Haddaamah Pusat Kajian Dewan Da’wah