Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Oase Iman

Kecintaan Allah bagi Hamba-Nya Tak Terukur (1)

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 1 September 2016 20:31 8:31 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 1 September 2016 20:24
Bagikan
Bagikan

SESUNGGUHNYA kecintaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala terhadap hamba-Nya merupakan nilai lebih bagi hamba di antara hamba-hamba-Nya. Keagungan-Nya ini merupakan sesuatu yang tidak bisa diukur. Selanjutnya siapakah hamba yang dicintai dan dilindungi Allah?

Sayyid Quthub mengatakan, “Cinta Allah terhadap hamba- Nya merupakan sesuatu yang tidak bisa diukur nilainya, kecuali oleh orang yang mengetahui sifat-sifat Allah, seperti ketika dia mengetahui sifat dirinya.

Hal ini juga hanya bisa dirasakan oleh orang yang merasakan kecocokan sifat-sifat Allah tersebut dengan semua perasaan, dirinya, kesadaran, dan keberadaannya.

Tentu saja, dia tidak akan mengetahui hasil pengukuran itu. Karena hanya orang yang mengetahui hakikat persoalan inilah yang akan memahaminya, yaitu mereka yang mengetahui siapa Allah sebenarnya. Dia adalah Yang Maha Menciptakan berbagai ciptaan yang luar biasa dan penciptaan manusia hanya merupakan contoh sederhana.

Dia yang mempunyai keagungan lagi memiliki kekuatan, Dia yang menyendiri dan Dia yang memiliki kekuasaan. Dia yang memberikan keutamaan cinta-Nya kepada hamba yang dia ciptakan sendiri, Dia yang Mahamulia dan Mahaagung, yang hidup abadi selamanya, yang pertama dan yang terakhir serta yang nampak dan yang ghaib.

Baca Juga

Masihkah Bisa Tersenyum Saat Al-Aqsha Terjajah?
Khutbah Jum’at: Saat Masjid Al-Aqsha Ternoda, Apa Masih Ada Nyala Iman di Dada?
Khutbah Jum’at: Ramadhan Berlalu, Amal Tetap Kontinu
Khutbah Idul Fitri 1447 H : Deklarasi Kemenangan Hati di Tengah Riuhnya Kesalehan Visual
Khutbah Jumat: Mengisi Rajab dengan Muhasabah, Amal dan Puasa

Cinta hamba kepada Rabbnya merupakan nikmat, dan hamba tidak akan mengetahui nikmat tersebut kecuali oleh orang yang merasakannya. Apabila Allah mencintai hamba-Nya, maka itu merupakan sesuatu yang luar biasa, agung, dan kelebihan yang berlimpah.

Karena ketika Allah menganugerahkan nikmat kepada hamba-Nya berupa petunjuk karena cinta-Nya, kemudian hamba tersebut merasakan nikmat yang tiada bandingannya dan tidak bisa disamakan dengan nikmat cinta yang lain, maka hal tersebut merupakan pemberian yang sangat luar biasa.

Apabila kecintaan Allah kepada hamba-Nya merupakan perkara yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata dalam menyifatinya, maka sesungguhnya kecintaan hamba kepada Rabbnya hanya bisa digambarkannya dengan sedikit sekali ungkapan, kecuali hanya beberapa orang yang dicintai Allah-lah yang bisa mengungkapkan banyak gambaran dengan kesalahan yang sedikit.

Inilah perkara yang menyedot perhatian orang-orang sufi yang jujur –dan jumlah mereka sangat sedikit dibanding kelompok orang yang menamakan dirinya dengan nama sufi sendiri.

Islam mengikat antara orang mukmin dengan Rabbnya dengan ikatan yang sangat mengagumkan layaknya seperti kekasih. Bukan hanya untuk satu kali saja dan juga bukan hanya sementara, tapi merupakan cinta hakiki dan sejati.

Allah berfirman:

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal shaleh, kelak Allah Yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam (hati) mereka rasa kasih sayang.” (Maryam: 96).

“Sesungguhnya Rabbku Maha Penyayang lagi Maha Pengasih.” (Hud: 90).

“Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Pengasih.” (Al-Buruj: 14).

Bagi kaum yang menolak ini semua mengatakan, “Sesungguhnya gambaran Islam merupakan gambaran kekerasan. Dengan kata lain, hubungan antara Allah dengan manusia seperti hubungan tekanan dan paksaan, adzab dan hukuman, serta putusan.”

Ikatan antara manusia dengan Rabb-nya juga bukan seperti gambaran yang menjadikan Isa anak Allah –oknum tuhan kaum Nasrani– yang menyebabkan ikatan antara Allah dengan manusia menjadi saling bertumpang tindih.

Oleh sebab itu, sifat golongan mukmin hanya tepat bagi agama ini (Islam), hal itu dijelaskan dalam nash Al-Qur’an yang mulia, ‘Yuhibbuhum wa Yuhibbunahu.’ Hal ini juga timbul dari kenyataan bahwa hanya jiwa seorang mukminlah yang mampu memanggul seluruh amanat ilahiah. Penguasaan atas beban ini sangat sulit, akan tetapi dirasakan bahwa usaha, karunia serta kedekatan itu adalah dari Yang Maha Pemberi nikmat dan kemuliaan.

Senada dengan Sayyid Quthb, Syaikh Ibnu Utsaimin mengatakan, “Kecintaan Allah merupakan sesuatu yang tinggi dan agung, dan bisa kita dapatkan di dunia. Nilai kecintaan Allah terhadap kita jauh lebih tinggi daripada kita mencintai Allah.

Sebagian ulama berpendapat, ‘Bahwasanya Allah-lah yang mencintai kita, bukan kita yang mencintai Allah? Setiap orang memohon dan mengklaim bahwasannya mereka pun mencintai Allah, akan tetapi persoalannya apakah penduduk langit juga mencintai kita atau tidak? Apabila Allah mencintai kita maka malaikat juga mencintai kita, kemudian bumi pun menerima kita, serta penduduk bumi menerima kita dan apa yang datang dari kita. Dan itu menjadi harapan orang mukmin”.*/Dr. Imad Ali Abdussami’ Husain, dikutip dari bukunya Menjadi Manusia Paling Dicintai. [Tulisan berikutnya]

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:cinta Allahhamba Allah
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Hakim MK Kritik Sikap Inkonsistensi Komnas Perempuan
Tulisan selanjutnya Kecintaan Allah bagi Hamba-Nya Tak Terukur (2)

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Ghazwul FikrKajian

Krisis Makna di Era Modern dan Jalan Kembali kepada Wahyu

Ghazwul Fikr Kajian
26 Juni 2026 11:30
Jadi Target, Koresponden Al Arabiya Tewas di Mukalla Yaman
Prancis Umumkan Kasus Pertama Ebola di Wilayahnya
Italia Geram Sekjen NATO Ungkap Perannya Bantu Amerika dalam Perang Iran
Amerika Serikat Kembali Buka Kedutaannya di Kuwait Usai Serangan Iran

Terbaru

  • Zionis ‘Israel’ Habiskan Hampir Rp3.673 Triliun untuk Perang sejak 7 Oktober
  • Krisis Makna di Era Modern dan Jalan Kembali kepada Wahyu
  • Jadi Target, Koresponden Al Arabiya Tewas di Mukalla Yaman
  • Pelajaran dari Kejatuhan Keir Starmer: Belum Sampai ke Pantai
  • Amerika Serikat Kembali Buka Kedutaannya di Kuwait Usai Serangan Iran
  • Tujuh Negara Eropa Menyeru RSF untuk Menghentikan Segera Kekerasan di Sudan
  • Prancis Umumkan Kasus Pertama Ebola di Wilayahnya
  • Italia Geram Sekjen NATO Ungkap Perannya Bantu Amerika dalam Perang Iran
  • Seorang Pemimpin ISIS Terbunuh Dalam Serangan Amerika di Suriah
  • Iman, Ilmu, dan Amal: Tiga Pilar Kebangkitan Umat

Mungkin Anda Juga Suka

Oase Iman

Khotbah Jumat: Islam Menentang Aksi Premanisme

8 Mei 2025 13:08
Oase Iman

Khutbah Jumat: Hormat kepada Ulama, Santun kepada Sesama

24 April 2025 18:21
Oase Iman

Khutbah Jumat: Waspadai Faktor Penggagal Fatwa Jihad PalestinaL: Diri Kita Sendiri!

11 April 2025 07:28
Oase Iman

Khutbah: Idul Fitri dan Momentum Merajut Persaudaraan Sesama Umat Islam

30 Maret 2025 22:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?