ADA banyak kalimat dalam Kalam Allah, untuk menyebut sebuah peristiwa pergerakan atau kerumunan massa yang bertolak dari satu tempat menuju tempat lain. Allah Subhanahu Wata’ala membedakan satu sama lain, walaupun sama-sama artinya berpindah. Namun, esensi pergerakan kepindahan mereka tentu berbeda.
Di antara untaian kalimat itu adalah:
Pertama, Bukankah bumi Allah itu luas?
إِنَّ ٱلَّذِينَ تَوَفَّٮٰهُمُ ٱلۡمَلَـٰٓٮِٕكَةُ ظَالِمِىٓ أَنفُسِہِمۡ قَالُواْ فِيمَ كُنتُمۡۖ قَالُواْ كُنَّا مُسۡتَضۡعَفِينَ فِى ٱلۡأَرۡضِۚ قَالُوٓاْ أَلَمۡ تَكُنۡ أَرۡضُ ٱللَّهِ وَٲسِعَةً۬ فَتُہَاجِرُواْ فِيہَاۚ فَأُوْلَـٰٓٮِٕكَ مَأۡوَٮٰهُمۡ جَهَنَّمُۖ وَسَآءَتۡ مَصِيرًا (٩٧)
“Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri [3], [kepada mereka] malaikat bertanya: “Dalam keadaan bagaimana kamu ini?”. Mereka menjawab: “Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri [Mekah]”. Para malaikat berkata: “Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?“. Orang-orang itu tempatnya neraka Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (QS: an Nisa’ [4]: 97)
Kalimat ini termaktub dalam QS. An-Nisaa/4 : 97 yang mengisyaratkan perintah hijrah ketika kaum Muslimin waktu itu mendapatkan tekanan, intimidasi dan kezhaliman.
Syeikh Munier Ghadhaban dalam Al-Manhaj al-Haraky, Syaikh Sa’ied Ramadhan al-Buthy dalam As-Sirah an-Nabawiyyah atau Al-Mubarakfury dalam Ar-Rahiqul Makhtuum dan pakar-pakar sejarah [sirah] lainnya memaparkan bahwa berhijrahnya kaum Muslimin, di samping perintah Allah Subhanahu Wata’ala, menghindari kemadharatan atau kezhaliman, juga memupuk jiwa optimisme untuk membangun kekuatan dakwah di ranah yang berbeda.
Hal in diurai oleh Ibnul ‘Arabi dalam Ahkaamul Qur’aan bahwa hijrah mengandung banyak makna; Bertolak dari negeri syirik menuju negeri tauhid, dari negeri kufur menuju negeri iman, dari negeri kecamuk perang menuju negeri aman nan damai, dari negeri berwabah penyakit menuju negeri yang sehat nan nyaman.
Demikian pula disebutkan oleh para ulama pensyarah hadits seperti itu, sebagaimana halnya Syeikh Musthafa al-Bugha dkk dalam Nuzhatul Muttaqin Syarh Riyadhis Shalihin.
Sangatlah wajar, apabila seorang sejarawan orientalis Philip K. Hitty [terlepas plus minusnya] menuturkan: “Peristiwa hijrahnya kaum Muslimin dari Makkah ke Madinah, merupakan peristiwa revolusi terbesar sepanjang sejarah”.
Baca: PBB: Muslim Rohingya, Kelompok Minoritas Paling Teraniaya
Kedua, Orang-orang yang diusir tanpa alasan.
“Orang-orang yang dipaksa keluar [terusir] dari rumah-rumah [kampung halaman] mereka …”
ٱلَّذِينَ أُخۡرِجُواْ مِن دِيَـٰرِهِم بِغَيۡرِ حَقٍّ إِلَّآ أَن يَقُولُواْ رَبُّنَا ٱللَّهُۗ وَلَوۡلَا دَفۡعُ ٱللَّهِ ٱلنَّاسَ بَعۡضَہُم بِبَعۡضٍ۬ لَّهُدِّمَتۡ صَوَٲمِعُ وَبِيَعٌ۬ وَصَلَوَٲتٌ۬ وَمَسَـٰجِدُ يُذۡڪَرُ فِيہَا ٱسۡمُ ٱللَّهِ ڪَثِيرً۬اۗ وَلَيَنصُرَنَّ ٱللَّهُ مَن يَنصُرُهُ ۥۤۗ إِنَّ ٱللَّهَ لَقَوِىٌّ عَزِيزٌ (٤٠)
“[yaitu] orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, kecuali karena mereka berkata: “Tuhan kami hanyalah Allah”. Dan sekiranya Allah tiada menolak [keganasan] sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadat orang Yahudi dan masjid-masjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah. Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong [agama] -Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa.” (QS: al Hajj [22]: 40)
Kalimat ini termaktub dalam QS. Al-Hajj/22 : 40, yang beriringan sebelumnya mengenai ayat diidzinkannya perang kepada kaum Muslimin.
Menurut Ibnu Katsir dalam Tafsir al-Qur’aanil ‘Adzim, ini terkait dengan ayat sebelumnya yang mengisyaratkan diidzinkannya perang disebabkan dizhaliminya kaum Muslimin. Menukil Ibnu ‘Abbas radhiyallaahu ‘anh, “ini ayat pertama kali turun tentang perintah berperang kepada Rasulullaah shalallaahu ‘alaihi wasallam”.
Kembali kepada kata ukhrijuu, ini menunjukkan makna bahwa mereka benar-benar dipaksa keluar, terusir dari kampung halamannya sendiri tanpa perencanaan dan keinginan.* >>> klik (BERSAMBUNG)